Inget,
Jangan berlebihan, nanti sembuhinnya susah lagi. Secukupnya aja, biar kalau sakit juga gak kelamaan..
Sebab, kadang yang bikin kecewa itu bukan sikap-sikapnya tapi ekspektasi kamu yang ketinggian..
h
sheepfilms

No title available
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
NASA

if i look back, i am lost
YOU ARE THE REASON
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
𓃗
ojovivo

tannertan36
★

Origami Around
occasionally subtle
noise dept.

roma★

Kiana Khansmith
Mike Driver

izzy's playlists!
seen from South Korea

seen from Germany
seen from United States
seen from Canada

seen from Malaysia

seen from Türkiye

seen from Türkiye
seen from United States
seen from South Korea
seen from United States
seen from Canada
seen from Kazakhstan

seen from T1
seen from Peru

seen from United States
seen from Australia

seen from Türkiye
seen from Venezuela

seen from Malaysia

seen from Canada
@mayaandryn
Inget,
Jangan berlebihan, nanti sembuhinnya susah lagi. Secukupnya aja, biar kalau sakit juga gak kelamaan..
Sebab, kadang yang bikin kecewa itu bukan sikap-sikapnya tapi ekspektasi kamu yang ketinggian..
Ketika kita jatuh, orang-orang akan meninggalkan kita. Hanya tersisa beberapa saja yang bertahan.
Tidak perlu bersedih terlalu lama. Sudah sewajarnya mereka meninggalkan kapal yang hampir karam. Mereka memilih mencari pelampung untuk menyelamatkan dirinya sendiri.
Itulah kenapa tidak ada yang abadi dalam kehidupan. Mereka datang silih berganti. Hanya orang tua, pasangan, dan beberapa orang saja yang akhirnya menemani.
Tidak apa. Bersedihlah karena memang kenyataannya kita pernah berharap mereka selalu ada. Kita pernah berharap bahwa mereka akan hadir saat kita jatuh, sebab mereka juga ada saat kita sedang di puncak.
Tapi percayalah, yang hilang akan berganti dengan yang lebih baik. Yang pergi akan digantikan dengan orang-orang yang lebih peduli padamu. Mereka yang akan pergi, biarkan saja pergi.
Dunia ini sudah diatur sedemikian rupa oleh-Nya. Allah yang menentukan hati-hati siapa yang masih bersambung padamu. Jika sudah begitu, mengapa harus khawatir padahal akan datang hal baik setelah semua ini terlewati?
Perjalanan Nafs Bagian II : Nafs Lawwamah
Hakim di Dalam Dada
Aku sudah pernah membahas tentang Nafs Ammarah di sini.
Aku tertarik melanjutkan bahasan ini ke Nafs Lawwamah soalnya jujur "janggal". Kenapa ya, Nafs Lawwamah didahului sumpah sedangkan Nafs Ammarah enggak? Kenapa ya Allah perlu bersumpah demi rasa bersalah manusia, tepat setelah sumpah demi hari kiamat? Seolah-olah topik 'mencela diri' ini jauh lebih krusial untuk dibahas daripada sekadar membahas kesalahan itu sendiri.
Untuk menjawabnya, kita bisa mulai dari 3 fitur utama manusia saat diciptakan (cek QS Al-Baqarah : 30-38).
Allah mengajarkan Adam nama-nama, implikasinya Bani Adam memiliki kemampuan berbahasa yang kemudian akan berkembang menjadi daya kognisi untuk mengonstruksi seluruh bangunan ilmu pengetahuan (kapasitas intelektual).
Allah mengontraskan antara malaikat yang sujud dan iblis yang enggan sujud. Lalu Allah juga memberi perintah "tinggallah kamu di sini" dan larangan "jangan dekati pohon itu". Karena diberikan free will, Adam memakan buah yang menunjukkan bahwa dirinya mampu membuat pilihan, baik itu benar maupun salah (kapasitas moral).
Allah menegur Adam, Adam pun bertaubat, "Rabbana dzalamna dst." Artinya, kombinasi dari dua fitur pertama, memungkinkan lahirnya fitur ketiga yaitu metakognisi (kemampuan memikirkan, mengilmui, memonitor, menilai, dan mengevaluasi pikiran, perasaan, tindakan, dan pilihan hidup) which is hewan nggak punya ini.
Lalu apa kaitannya semua itu dengan Lawwamah?
Metakognisi sendiri sifatnya deskriptif dan netral (hanya kemampuan mengamati pikiran atau helicopter viewing). Ada diri yang menilai dan ada diri yang dinilai. So.. manipulator ulung atau bahkan psikopat pun bisa sangat reflektif dan mengenal dirinya. Yang membedakan adalah (si)apa yang menjadi hakim atas hasil refleksi itu? Didasarkan pada apa penilaian diri itu?
Sementara itu, kata lawwamah (لَوَّامَة) berasal dari akar لَامَ – يَلُومُ (lāma–yalūmu) yang artinya mencela, menyalahkan, menegur, dan mengkritik. Anyway.. kapan jiwa bisa mencela dirinya? Yakni ketika hasil metakognisinya dihadapkan pada sebuah standar moral, lalu ia bersikap jujur dan rendah hati terhadap itu.
Standar moral yang dimaksud adalah fitrah yang Allah tanamkan, yaitu pengetahuan dasar tentang benar dan salah yang membuat Adam langsung mengakui, "Rabbana dzalamna," bahkan sebelum turun wahyu syariat secara terperinci. Jadi.. lebih dari metakognisi, lawwamah adalah kemampuan mengamati diri dalam penggarisnya Allah. Di konteks Adam tadi, penggarisnya adalah perintah dan larangan.
Menariknya..
Kemampuan metakognisi ini dieksplisitkan di Al-Qiyamah (75:14). Like.. manusia tau kok apa motif dirinya, apa yang sebetulnya dia mau, kapan dia sedang berbohong, dan kapan dia sedang mencari pembenaran.
بَلِ الۡاِنۡسَانُ عَلٰى نَفۡسِهٖ بَصِيۡرَةٌ ۙ Bahkan manusia menjadi saksi atas dirinya sendiri.
Lalu ayat 15-nya menjelaskan, kenapa metakognisi aja nggak cukup untuk memunculkan Nafs Lawwamah (membangunkan hakim itu).
وَّلَوۡ اَلۡقٰى مَعَاذِيۡرَهٗؕ dan meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya.
Kesadaran diri dan metakognisi nggak otomatis menghasilkan pertaubatan, dan itulah yang membedakan Adam dengan iblis. Masuk akal kemudian, kenapa "haunan" atau kerendahan hati (re: self awareness yang berketuhanan) menjadi kualitas pertama yang diapresiasi Allah pada diri ibadurrahman (25:63). Sebab untuk dapat jujur, mengakui, dan membaca diri, kita perlu mereduksi kesombongan itu. Sombong sendiri menurut hadis ada dua jenis yaitu terhadap al-haq (menolak kebenaran) dan terhadap makhluk (merendahkan manusia).
Tentunya kita nggak mau bermetakognisi dengan cara seperti Iblis, yang setelah mengenal dirinya dengan baik malah menyusun narasi untuk tetap merasa benar, dengan membuat komparasi/rasionalisasi yang penggarisnya materialis (api vs tanah) dan melahirkan sifat istikbar (sombong).
Surat Al-A'raf (7:77) juga isinya menohok.
Sangat buruk perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Mereka mendzalimi diri sendiri.
Jangan dipikir ayat-ayat tuh Al-Qur'an aja. Ayat-ayat di dalam diri kita masing-masing tuh banyak banget. Jangan sampai kita termasuk orang-orang yang diumpamakan sangat buruk hanya karena:
Nggak mau mengenal diri (melalui si/apapun) dan denial dalam prosesnya.
Mengenal diri dengan baik tapi malah bikin alasan ini itu.
Fir'aun pun bermetakognisi.
Bahkan, Fir'aun adalah master of self justification (pembenaran diri). Perhatikan dialognya di surat Al-Qasas (28:38), "Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku."
Untuk bisa mengatakan kalimat sebesar itu, dia harus melakukan proses mental yang kompleks mencakup evaluasi situasi politiknya, penilaian ancaman Musa terhadap kekuasaannya, dan monitoring efek pidatonya terhadap rakyatnya.
Sayangnya metakognisi Fir'aun tidak melahirkan Nafs Lawwamah. Dia sadar akan pikirannya sendiri dan malah menggunakannya untuk strategi propaganda. Dia tau Musa membawa kebenaran. Namun dia menolak tunduk secara moral terhadap pengetahuan itu.
"Mereka mengingkarinya karena kedzaliman dan kesombongannya, padahal hati mereka meyakininya..." (QS 27:14)
Menariknya diksi dzalim dan sombong di-mention lagi di sini. Kalau bahas dzalim, pasti berkaitan dengan hak sih biasanya.
I mean.. diri kita tuh punya hak loh untuk dipertemukan, dikenali, disaksikan, bahkan dipelajari oleh dirinya sendiri (kayak aneh ya?). Nggak cuma itu. Diri kita juga punya hak atas kebenaran. Diri kita berhak diukur dengan penggaris Allah, dan baik "diri yang mengukur" maupun "diri yang diukur", nggak kabur dalam prosesnya.
Lalu kenapa Nafs Lawwamah matter dan disetarakan dengan Yaumil Qiyamah?
Qiyamah sendiri berasal dari kata قام – يقوم (qāma–yaqūmu) yang artinya berdiri, bangkit, tegak, muncul, dan mengambil posisi. Sebuah gerak dari keadaan pasif menuju keadaan aktif.
Menyambung konteks Nafs Ammarah sebelumnya, di sana kesadaran itu terninabobokan. "Dunia ini ada untuk memuaskanku," sehingga realitas jadi sangat subjektif dan egosentris di mode Ammarah.
Begitu hakim di dalam jiwa berdiri (melalui metakognisi yang bertemu fitrah tadi), realitas pun berubah menjadi objektif dan teosentris. Helicopter viewing dari sudut pandang Ilahi, bahasa kerennya mah. Sehingga diperoleh penemuan bahwa ada kebenaran di luar diri kita yang harus dipatuhi, dan kita telah melanggarnya. Get it? That makes a lot of sense ada istilah spiritual awakening. Ada realitas yang hancur dan realitas lain yang bangun. Mungkin itu kali ya maksudnya, Nafs Lawwamah = mini Qiyamah di dalam dada.
Semua manusia pada dasarnya punya nurani untuk bisa merasa bersalah kalau nyakitin orang, atau merasa nggak adil kalau nemu kedzaliman, atau merasa yang baik harusnya dibalas baik. I mean.. jiwa manusia memang diarahkan ke pertanggungjawaban moral. Dengan begitu, lawwamah itu sendiri adalah "tanda" (ayat) yang mengarah pada kepastian hari pembalasan. Karena bayangin aja, kalau nggak ada pengadilan terakhir, maka rasa harusnya adil itu jadi absurd dan nurani manusia cuma jadi fitur sia-sia di alam semesta yang amoral (jika tanpa akhirat). Kayak.. ngapain Allah "repot-repot" ngasih manusia nurani/moral yang nuntut keadilan, kalau pada akhirnya realitasnya memang nggak peduli keadilan sama sekali?
Berpegang pada premis andalanku (3:91), Rabbana maa khalaqta haadza bathila, diperoleh konsekuensi logis bahwa kapasitas moral manusia ini harusnya nggak sia-sia, pasti nge-link ke sesuatu. Pasti ada tujuan final yang mengikatnya. Dan apa lagi tujuan final itu, kalau bukan hari penghakiman?
Menulis ini membuatku sadar betapa menggelikannya menghadapi diri sendiri saat kita justru benar-benar ingin lari darinya. Orang yang rajin "mengerjakan dirinya" pasti akrab sama perasaan nggak betah ini.
Berapa banyak kita melakukan flight response atau avoidance terhadap tanggung jawab moral? Sayangnya menghindari refleksi sama sekali nggak bikin kita terbebas dari itu. Surat Al-Qiyamah ayat 10-13 menelanjangi kita habis-habisan.
(10) Pada hari itu manusia berkata, "ke mana tempat lari?" (11) Sekali-kali tidak! Tidak ada tempat berlindung. (12) Hanya kepada Tuhanmu saat itu tempat kembali pada hari itu. (13) Pada hari itu diberitakan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya dan apa yang telah dilalaikannya.
Tadi aku mention, baik "diri yang mengukur" maupun "diri yang diukur", nggak kabur dalam prosesnya. Ini senada dengan kutipan dari Carl Jung, "manusia akan melakukan apa saja, betapapun absurdnya, untuk menghindari menghadapi jiwa mereka sendiri."
Dari apa? Dari rasa malu, rasa bersalah, runtuhnya citra diri, dan dari tanggung jawab itu sendiri. Caranya banyak wkwk kita juga pasti pernah melakukannya. Entah sibuk, ngeles, pura-pura lupa, nyalahin sistem atau orang lain, atau bikin narasi/rasionalisasi. Nah, manusia pikir selama masih di dunia, bisa-bisa aja kabur untuk menunda tanggung jawab itu.
Tapi.. ke mana coba seseorang bisa lari dari dirinya sendiri? Dan kalaupun bisa, mau sampai kapan? Ujung-ujungnya mah manusia dipaksa berhadapan dengan kebenaran tentang dirinya (aduh suka tiba-tiba sedih sebenernya ngebayangin bahwa di dunia ini ada jiwa yang bahkan nggak betah tinggal di dalam dirinya sendiri).
Lihat betapa persis alias sama-sama nggak bisa kaburnya baik itu di pengadilan diri maupun di pengadilan yaumil qiyamah. Betapa serius dan agungnya proses jiwa ini hingga disetarakan dengan hari kiamat. Maka dengan bahasa yang filosofis, Al-Qiyamah (75:2) bisa jadi berbunyi,
"Demi kemampuan manusia untuk menjadi pengadilan pertama bagi dirinya sendiri. "
Kejanggalan (re: keajaiban linguistik) terakhir yang ingin kubahas adalah penggunaan diksi lawwāmah, soalnya secara tata bahasa bisa aja pakai bentuk لائمة (lā'imah) yang artinya "orang yang mencela" atau "yang sedang mencela."
Tapi Allah pilih diksi لَوَّامَة (lawwāmah) yang ngikutin wazan فَعَّالَة (fa''ālah) which is sering dipakai buat nunjukkin intensitas, frekuensi, kebiasaan, dan sesuatu yang menjadi karakter. Contohnya, غفّار (ghaffār) = Maha Pengampun (sering mengampuni) dan توّاب (tawwāb) = Maha Penerima tobat (berulang kali menerima tobat).
Jadi, berbeda dengan la'imah yang mungkin terjadi sesekali, lawwamah itu seperti mekanisme internal yang terus mengaudit diri sendiri. Dengan kata lain, lawwamah sebenarnya adalah fungsi bawaan dari jiwa yang sehat. Bukan suatu tahapan statis seperti yang suka dibahas di kajian-kajian. Bukan juga perasaan yang datang dan pergi. Kupikir fitur inilah yang membuat manusia tetap terhubung dengan realitas dan hari kiamat.
Hadis rasul yang diriwayatkan oleh Tirmidzi juga menghargai proses ini, "orang yang cerdas adalah orang yang menghisab dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati." The goal is not only I endlessly analyze myself. It’s I can see the process generating my interpretation, adjust if necessary, then act coherently.
Buat penutup.. proses mengenal diri dan menempatkan diri di "pengadilan internal" tuh nggak pernah mudah. Selalu dibutuhkan orang lain untuk mengenal diri sendiri. Kalau memang belum terbiasa menemui dan mengenal diri, boleh banget kok waktu ketemu "diri yang lainnya" minta ditemenin sama teman-teman yang kenal kamu. Pinjam "mata" atau pandangan mereka jadi cermin untuk memantulkan dirimu dan usahakan yang rasio halal-haramnya sekufu bahkan lebih baik (cenah kata tren di reels mah). Mudah-mudahan teman-teman kita sangat baik dan bersedia ngasih pemantulan yang baik, sejernih dan seotentik yang mereka bisa, dan genuine.
— Giza, segala puji bagi Allah yang telah memberi Giza kekuatan menyelesaikan draft yang sudah dicicil dari setahun lalu ini (mo nangis terharu karena udah capek banget mikirin ini nggak kelar-kelar). Gila, sungguh kerja kognitif yang berat, subhanallah, masyaallah. Mudah-mudahan metakognisi kita punya cukup daya pengaruh pada sistem eksekusi kita, (notes: abaikan inkonsistensi teknis dalam penulisan sebab Giza males koreksinya). Kebenaran datangnya dari Allah, kekeliruan datangnya dari Giza. Terbuka untuk diskusi lebih lanjut dan CMIIW!
Pemantau Karma
Saat Allah memberikan hukuman kepada orang yang menyakitimu, terkadang Dia tidak ingin kamu melihatnya, karena pada akhirnya manusia bisa kalah oleh egonya, lalu berkata dengan kepuasan, "nah, sekarang tahu rasa!" Dengan begitu fitnah ditambahkan ke dalam hatimu.
Allah menyelesaikannya dari jauh, tanpa sepengetahuanmu. Kadang-kadang Dia juga menunda dan memperpanjang prosesnya. Dia membuatmu melupakannya, sementara kepadanya diberikan hukuman sekaligus bertahun-tahun kemudian. Lagipula, bahkan tidak setiap musibah yang menimpa seseorang adalah hukuman dari Allah. Hal itu berada di luar pengetahuan manusia. Hanya Allah yang mengetahui apakah suatu musibah merupakan hukuman, ujian, penghapus dosa, atau memiliki hikmah lain.
Kamu tidak bisa mengetahui siapa, apa, dan seberapa pantasnya seseorang menerima balasan. Jangan jadi orang pahit. Jangan mencoba mengetahuinya, agar kamu tidak seperti pengintai yang terus-menerus membawa perasaan yang kasar. Seseorang sebaiknya tidak sibuk menanti balasan untuk orang yang menyakitinya. Kita hanya perlu meningkatkan perjuangan untuk menjadi manusia yang baik.
Tergelincir
Hidup ini seperti berjalan di atas titian yang licin. Hal yang menjadi pegangan kita —khususnya sebagai seorang muslim— adalah tali Allah. Tapi pertanyaannya, apakah kita memegang tali itu dengan erat?
Kadang kita merasa percaya diri dengan semua kapabilitas kita sendiri, percaya pada ilmu kita, pada gelar, pekerjaan, tabungan yang banyak, badan yang sehat, dan semua hal yang menurut kita, bisa menjadi pegang kita saat ini. Hal yang membuat kita merasa aman dari berbagai macam ancaman hidup.
Tapi, kita lupa satu hal. Ada Allah yang bisa dengan mudah mengubah segala sesuatu hanya dalam sekejab. Keadaan hidup kita bisa tiba-tiba berubah total, hanya dalam hitungan yang sebentar. Kita tiba-tiba tergelincir dan pegangan yang kita yakini sebelumnya, tidak bisa menyelamatkan kita sama sekali.
Allah menegur kita dengan cara yang paling menyakitkan, melempar kita ke titik terendah. Titik yang selama ini kita pandang rendah, titik yang selama ini kita anggap berisi orang-orang yang tidak memiliki masa depan dan orang-orang gagal.
Kita mungkin menyaksikan kejadian seperti itu di orang lain. Atau mungkin juga terjadi di diri kita sendiri.
Sebelum itu terjadi, ingat-ingatlah untuk menjaga diri setiap harinya. Berbuat baik sebisanya. Bicara baik atau diam. Tidak menyakiti orang lain. Mudah minta maaf, juga mudah untuk memaafkan. Tidak reaktif. Mampu melihat setiap kejadian dari sudut pandang yang luas. Serta pandai memetik hikmah.
Agar kita selamat melewati titian dunia ini, titian yang fana. Di alam semesta ini, kita hanyalah debu.
KG
Seseorang tidak boleh menimbang dirinya dengan timbangan orang lain, karena timbangan itu cacat oleh sifatnya sendiri, bergoyang antara kekaguman dan penyangkalan, serta antara pembesaran dan pengecilan.
Nilai sejati seseorang tidak diambil dari tepuk tangan atau penghinaan, melainkan dari kesadaran dirinya sendiri (taqwa = consciousness, 49:13) , dan kemampuannya untuk menjadi seperti adanya, bukan seperti yang diharapkan/diekspektasikan darinya.
Epiktetos berkata, sebagaimana dikutip dalam buku "Kecemasan Mengejar Status"
"Yang membuatku berada dalam kondisi yang baik bukanlah posisiku di masyarakat, melainkan penilaian dan pendapatku (otonomi berpikirku), dan itu bisa kubawa bersamaku ke mana pun aku pergi, dan itu saja milikku, dan tak seorang pun yang bisa merebutnya dariku."
Suka banget sama kalimat ini:
"Apa pun kekurangan (hak) yang tidak kamu dapatkan dari orang tuamu karena keterbatasan mereka, maka mintalah pada Tuhanmu tanpa perlu membenci mereka."
Mungkin kita kurang kasih sayang dari orang tua, tapi Tuhan kita adalah Ar-Rahim—Yang Maha Penyayang.
Mungkin kita kurang dapat cinta kasih dari orang tua, tapi Tuhan kita adalah Al-Wadud—Yang Paling Bersedia Membuktikan Cinta-Nya.
Mungkin orang tua kita kurang memberikan waktunya untuk kita, tapi Tuhan kita adalah Al-Qarib, Dia bersama kita di mana pun kita berada.
Mungkin pendapat kita kurang didengar sama orang tua, tapi Tuhan kita adalah As-Sami'—Yang Maha Setia Mendengar.
Mungkin orang tua kita kurang dalam memberi kita nafkah, tapi Tuhan kita adalah Ar-Razaq—Yang Paling Sanggup Memberi Rizki dari arah mana pun.
Mungkin orang tua kita kurang bisa menjaga kita, tapi Tuhan kita adalah Al-Mu'min—Yang Maha Menjamin Keamanan, Dia Al-Waliy—Yang Maha Melindungi.
Mungkin kita kurang mendapatkan didikan dan ajaran yang baik dari orang tua, tapi Tuhan kita adalah Al-'Alim—Yang Maha Mengetahui sekaligus yang paling bersedia mengajari kita.
Dan mungkin masih banyak kekurangan lainnya yang tidak kita dapatkan dari orang tua.
Karena, pada dasarnya orang tua kita juga manusia. Mereka juga cuma salah satu dari sekian banyak hamba Tuhan di muka bumi ini yang mungkin masih tertatih mencari jalan untuk sampai kepada-Nya.
Aku rasa…antara perkara paling sukar untuk dipelajari dalam berdoa adalah , menggenggam tanpa memiliki. Ramai orang fikir, kalau kita mengikhlaskan sesuatu, itu bermaksud kita sudah berhenti berharap. Sedangkan sebenarnya tidak.
Ada doa yang masih aku genggam, masih aku sebut dalam sujud. Masih aku bisikkan setiap kali hati ini berharap.
Tetapi hari ini...aku belajar menggenggamnya dengan lebih longgar. Bukan kerana aku sudah berhenti berharap.
Tetapi kerana aku tidak mahu berharap lebih daripada aku bertawakal. Aku tahu aku boleh terus meminta,aku boleh terus berusaha.
Tetapi aku tidak boleh memaksa Allah menulis takdir mengikut kehendakku. Kerana Allah bukan sekadar mengetahui apa yang aku inginkan.
Allah juga mengetahui siapa yang aku akan menjadi selepas menerima atau tidak menerima doa itu. Maka jika suatu hari nanti doa itu menjadi milikku...
Alhamdulillah, dan jika suatu hari nanti Allah meminta aku melepaskannya... Aku berharap hati ini telah cukup lapang untuk berkata, "Ya Allah, jika bukan ini yang Engkau pilih untukku, pimpinlah aku kepada apa yang lebih Engkau redhai."
Cowok Bingung
Dalam kehidupan sehari-hari ini, istilah "cowok bingung" adalah satu label yang pantas ditempelkan pada lelaki yang... ah sudahlah.
Tidak enak memang didekati ama lawan jenis yang seperti orang bingung (soal arah hubungannya kemana). Sama halnya dengan mentorship beasiswa, mentor juga rasanya agak gimana gitu kalo mentee-nya kayak orang bingung.
Orang bingung bisa sangat menyebalkan. Seringnya gejala orang bingung ini nempel pada laki-laki, mungkin karena cara berpikirnya atau cara laki-laki merespon masalah.
Nah, buat yang risih karena terlihat seperti orang bingung atau saat ini sering berinteraksi dengan cowok bingung itu, ini ada beberapa saran dari saya yang pernah jadi cowok bingung pada masanya.
Pertama, ngobrol ke diri sendiri atau endapkan. Kedua, pecahkan... di-breakdown. Ketiga, komunikasikan.
Jika itu terkait jodoh, tentukan kriteria, rencana, dan timeline. Jika sudah ada target, cocokkan dulu dengan kriteria dan rencana. Jika "bisa nih kayaknya", cek timeline dan S&K dari orangtua. Jika masih lama kayaknya, komunikasikan. Jika dia mau menunggu, kasih breakdown rencana yang sudah terbayang.
Jika itu terkait rencana studi ke luar negeri, carilah bantuan konsultasi/mentorship setelah ngobrol dengan diri sendiri: mau jadi apa, maunya kapan, maunya dimana, dengan skema funding apa, dst. Lalu breakdown apa yang harus disiapkan, identifikasi jurusan yang relevan, dan cari tahu eligibility criteria-nya. Jika bingung, komunikasikan. Misalnya setelah tahu mau jadi apa tapi bingung soal jurusan yang cocok dari beberapa pilihan yang sudah teridentifikasi, atur jadwal sama mentor.
Mentorpun enak kalau mentee sudah tahu apa yang dia mau, sudah ngumpulin info, dan obrolan jadi lebih substansial karena bahannya sudah ada dan tinggal dikasih konteks dan saran.
Untuk semua orang bingung di luar sana, sesekali kebingungan itu wajar. Tapi jangan lama-lama bro. Jika kamu dalam suatu hubungan, jangan sampai bikin orang lain kesal karena kebingunganmu. Endapkan, pecahkan, dan komunikasikan.
Salam dari mantan cowok bingung pada masanya, haha.
Perjalanan Menemukan Diri
Ada banyak sekali pertanyaan di kepala yang membutuhkan jawaban segera. Tapi, aturan kehidupan tidak berjalan seperti itu. Kita dibuat berliku, terbentur, mengalami kebingungan dan kegelisahan, baru bertemu jawaban.
Dan waktu jawaban itu tiba. Ada perasaan lega, ada juga yang merasa menyesal karena telah salah membuat asumsi di depan. Waktu yang berlalu sebenarnya bisa menciptakan jarak antara asumsi dan logika, membuat apa-apa yang tadinya kita pikir demikian, berubah seiring waktu seiring kita membaca pola.
Memang begitulah cara kerjanya. Kadang kebenaran butuh waktu lama untuk sampai kepada hati seseorang, sampai seseorang itu mengalami beragam kejadian, sampai ia akhirnya menyadari dengan sendirinya. Mana hal yang benar dan selama ini ia keliru.
Kita tidak perlu berkecil hati jika belum menemukan jawaban. Kita juga tidak perlu berkecil hati, jika dulu berbuat kesalahan. Hal yang lebih penting adalah kita memiliki kebesaran hati untuk berbenah, memaafkan dan minta maaf, serta mengambil pelajaran pentingnya. Bukan berlarut pada penyesalan dan kekesalan.
Agar jangan sampai, ke depannya kita justru kesulitan oleh beban yang tanpa sadar kita ciptakan sendiri. Hanya karena kita enggan untuk rendah hati. KG
Jangan Salah Pilih Rumah
Value bukanlah sesuatu yang muncul dalam sehari semalam. Ia melewati berbagai macam badai kehidupan, membentuk alam pikiran dan bawah sadar. Menciptakan aturan tak tertulis tentang kehidupan, bagaimana ia memandang hidup dan cara menjalaninya.
Setiap orang memiliki value yang ia yakini. Kadang, ada yang bisa bersinergi dengan milik orang lain. Kadang, ada yang amat kontras bertentangan. Dan masing-masing, merasa dirinya yang paling benar. Ya sesederhana karena cara pandangnya berbeda total.
Dalam konteks hubungan pernikahan, value ini terwujudkan dalam bentuk karakter. Siapapun yang berpikir bisa mengubah seseorang dalam sehari semalam, mungkin ia sedang jatuh cinta secara buta. Seseorang tidak akan berubah dalam sekejab. Ia telah hidup dengan cara hidupnya belasan bahkan puluhan tahun.
Untuk itu, sejak awal, carilah orang yang valuenya bisa kamu terima seumur hidupmu. Cari yang selaras mungkin, sekecil mungkin perbedaan value.
Cara menjalani hidup dalam konteks-konteks kecil mungkin berbeda. Tapi value adalah cara berpikir yang menentukan keputusan-keputusan besarnya dalam hidup. Dan kamu nanti akan hidup dan tinggal di pikirannya.
Jangan salah pilih rumah ya. KG
Ada kebahagiaan yang tak pernah bisa diukur dengan apa pun bentuknya. Menemukan seseorang yang membuatmu tak lagi sibuk menyembunyikan diri. Di hadapannya, percakapan mengalir seperti sungai yang tak pernah kehabisan arah. Hal-hal yang bagi orang lain terdengar remeh, berubah menjadi cerita yang layak didengar berjam-jam. Kau bisa tertawa terlalu keras, membahas hal paling konyol, melompat dari satu topik ke topik lain tanpa takut dianggap aneh. Rasanya seperti menemukan rumah setelah bertahun-tahun berjalan sambil membawa seluruh isi semesta.
Lucunya, orang ternyaman bukan selalu yang paling pandai berbicara. Kadang ia hanya duduk, menatapmu dengan mata yang penuh rasa ingin tahu, seolah setiap kalimatmu adalah cerita terbaik yang pernah ia dengar. Ia tak menyuruhmu menjadi lebih lucu, lebih dewasa, atau lebih sempurna. Bahkan sisi paling kekanak-kanakan dalam dirimu yang selama ini kau sembunyikan, justru ia sambut dengan senyum paling tulus. Dan entah bagaimana, tawa sederhana bersamanya terasa mampu mengalahkan lelah yang telah menumpuk setinggi langit.
Kalau suatu hari kau dipertemukan dengan seseorang seperti itu, jangan buru-buru menganggapnya biasa. Sebab di dunia yang semakin pandai berpura-pura, menemukan tempat di mana kau bisa menjadi dirimu sendiri adalah kemewahan yang tak bisa dibeli dengan apa pun. Tidak semua orang cukup beruntung memiliki seseorang yang membuat pulang terasa ada pada satu tatapan, satu pendengaran yang sabar, dan satu hati yang tak pernah lelah berkata, “Lanjutkan ceritamu, aku masih ingin mendengarnya.”
Written by Aftansa
Ada sebuah transformasi paling sunyi dari cara seseorang menatap dunia, tepat setelah ia terlampau sering dihantam oleh keadaan.
Kita sering kali terlalu sibuk menelaah senyum yang dipaksakan, hingga luput menyadari perubahan pada sepasang mata. Padahal, mata tidak pernah bisa diajak berkompromi untuk menyembunyikan seberapa banyak duka yang telah ditelan oleh pemiliknya.
Binar yang dahulu mungkin menyala terang, hangat, dan penuh harap, perlahan-lahan meredup seiring dengan bertambahnya usia luka. Namun, jika ditelaah lebih lekat, binar itu sesungguhnya tidak pernah benar-benar mati; ia hanya perlahan membiru.
Membiru, layaknya lebam pada kulit yang tak kasatmata. Ia adalah residu dari ribuan ekspektasi yang membentur kerasnya realita. Ketika kesedihan tak lagi sanggup diterjemahkan lewat tangis yang berisik, emosi itu akan memilih untuk mengendap dalam diam dan mengubah spektrum warna di dalam jiwa. Binar mata yang membiru adalah saksi paling jujur dari seseorang yang pada akhirnya menyadari bahwa dunia tidak selalu menjadi tempat yang ramah.
Namun, barangkali di situlah letak keindahannya yang teramat ganjil.
Sepasang mata yang telah membiru oleh kepedihan tahu persis bagaimana rasanya hancur sendirian. Dan sering kali, justru karena lebam batin itulah, mereka tumbuh menjadi sepasang mata yang menatap luka orang lain dengan cara yang paling lembut.
For the truest depth of a soul is seen not in a gaze that shineth bright, but in the quiet eyes that have bruised into blue, yet still choose to look upon the world with profound mercy.
Jogjakarta. neia.
Malam ini rasanya sendu sekali, dadaku sesak karena menangis terlalu lama dalam keadaan terbaring. Aku ingin menulis sekedar upaya melepas sesak di dadaku.
Bibirku beristighfar tanpa henti agar lekas tenang dan berhenti air mataku.
Selepas melihat dan mendengar nasihat dari Ustadz Syafiq Riza Basalamah hafidzahullah, sekaligus saat beliau akad menikahkan seorang laki laki untuk anak perempuannya.
Aku melihat ada cinta yang begitu lekat dari seorang ayah untuk anak perempuannya. Cinta yang begitu jujur begitu terasa ketika ia menyampaikan baris baris nasihat, ketika ia mengucapkan perlahan akad, menitipkan seutuhnya anak perempuan yang begitu ia cintai kepada seorang laki laki di hadapannya.
Di antara isak tangis yang rasanya telah ia tahan, tapi tetap tumpah juga, aku melihat hati haru yang remuk seorang ayah yang tengah melepas anak perempuannya. Berat, tidak pernah menjadi mudah untuk ayah manapun, tapi mereka ikhlas.
Tak terbayang olehku, akan sehancur apa hati seorang ayah yang melihat anak perempuannya menjadi korban kdrt, akan seberantakan apa hati seorang ayah yang mengetahui anak perempuannya diselingkuhi, lalu pulang kembali kepadanya dalam keadaan luka dan hancur. Seorang ayah akan lebih luka dan hancur dibandingkan anaknya💔
Barakallahu fiihi Ustadz Syafiq Riza Basalamah, seorang ayah yang berhati lembut, masya Allah, setiap kata kata dalam nasihatnya terasa begitu hangat. Dan aku, yang mendengarnya, serasa seperti 'dibela' 😭 Aku yang tidak pernah merasakan nikmatnya dibela seorang ayah, dimengerti seorang ayah dan dilindungi sebegitunya oleh seorang ayah. Sungguh, malam ini mataku penuh dengan air mata. ya Rabbi, izinkanlah aku menghadirkan seorang ayah sebaik beliau untuk anak perempuanku kelak, Allahumma aamiin.
Hari ini, saat ini, perasaan itu masih sama.
Kadang aku bertanya pada diri sendiri, salahkah menyukai seseorang? Jika bisa dihentikan begitu saja, mungkin sudah kulakukan sejak lama. Tapi perasaan memang tidak selalu datang dengan logika.
Saat ini aku hanya berusaha menjadi versi diriku yang lebih baik. Bukan demi siapa pun, melainkan demi diriku sendiri. Jika suatu saat jalan itu mempertemukanku dengan orang yang tepat, semoga aku bisa memberikan yang terbaik. Jika tidak, semoga aku tetap baik-baik saja tanpa menyesali apa yang pernah kurasakan.
Terima kasih untuk setiap kebaikan yang pernah hadir. Untuk setiap percakapan sederhana yang membuatku merasa didengar, dihargai, dan dianggap berarti. Terkadang hal-hal kecil seperti itu mampu menenangkan banyak keraguan yang ada di kepala.
Pada akhirnya, tidak semua rasa harus memiliki tujuan. Ada yang cukup disyukuri karena pernah ada, lalu disimpan sebagai bagian dari perjalanan hidup.
Semoga semua yang sedang diperjuangkan dimudahkan. Semoga hati selalu diberi ketenangan dan langkah selalu diberi kebaikan.
Sehat-sehat selalu. 🤍
Belajar menerima bahwa tidak semua perbedaan perlu dikoreksi. Yang layak diingatkan adalah hal yang berdampak pada orang lain. Selebihnya, mungkin cukup dihormati sebagai bagian dari cara hidup masing-masing.
Betapa menenangkannya memiliki seorang yang tak pernah membuatku mempertanyakan arti diriku untuk dirinya dan makna hadirku di hidupnya. Karena di setiap harinya ia tak pernah berhenti menunjukan bahwa aku penting baginya. Alhamdulillahilladzi bini'matihi tatimmush shalihat.
©Fajar Sidiq Bahari (@fajarsbahh)