Jadi gini rasanya ditinggal pas lagi nyaman-nyamannya.
Bukan. Aku bukan sedang bercerita tentang seorang kekasih. Melainkan bercerita tentang seseorang yang baru saja aku temui. Belum terlalu lama, tapi kalau dikatakan sekali pertemuan juga bukan. Kami sudah bertemu beberapa kali, melakukan sedikit obrolan singkat, melempar candaan ala kadarnya, dan bersikap profesional pada singgungan tempat dan waktu yang sudah semestinya terjadi.
Tidak ada hal negatif yang aku temui dalam pertemuan singkat itu. Tidak ada perlakuan buruk selama interaksi singkat itu. Tidak ada nada menghakimi dalam setiap percakapan singkat itu.
Hari itu, hari terakhir amanah diberikan kepadanya, adalah hari di mana aku paling banyak melakukan interaksi bersamanya. Interaksi itu sebenarnya tidak terlalu penting, tapi juga penting. Interaksi itu bisa dibilang adalah bentuk 'permintaan tolong' dan 'kerja sama'. Tidak ada yang spesial. Tapi dari interaksi itu, aku mendapati mata coklatnya yang teduh dan bersinar, tutur katanya yang halus dan meyakinkan, sikapnya yang sopan dan baik, dan kekhawatiran serta rasa bangga yang tulus ia berikan kepada orang lain.
Baru satu hari itu, bahkan tidak ada hitungan hari, hanya beberapa jam saja, lalu semua itu buyar ketika aku mendapati bahwa ia harus pergi. Mungkin benar kata orang, kalau mau mengenal seseorang dengan baik, maka kenali ia dengan cara berkegiatan/berkepanitiaan dengannya, melakukan perjalanan jauh dengannya, dan atau bermalam/tidur dengannya. Tentu dalam konteks ini, bukan opsi terakhir yang aku lakukan.
Tentu saja aku kaget. Pantas saja auranya berbeda. Pantas saja totalitas. Pantas saja orang-orang di sekitarnya tampak sedih. Ternyata mereka semua sudah tahu. Ternyata hanya aku saja yang belum tahu tentang informasi itu. Mungkin orang lain mengira, aku tidak butuh waktu untuk menelan kenyataan menyedihkan itu karena aku belum begitu lama mengenalnya. Mungkin orang lain mengira, hati, pikiran, dan jiwaku tidak perlu aba-aba untuk pamit yang panjang itu. Mungkin orang lain mengira, cukuplah mereka saja yang merasa sedih, sedang aku tidak apa-apa.
Tidak hanya itu, bahkan dirinya sendiri pun sukses untuk tidak membuat tanda-tanda akan berpisah. Ia sukses menutupi semua tanda itu hingga tiba hari di mana ia harus pergi. Selamat!
Tapi nyatanya, sedihku cukup membuat gemetar, keringat dingin, dan muncul rasa kehilangan terhadap sudut serta sosok yang biasanya selalu muncul itu. Yang jelas, tempat ini tak lagi sama tanpa adanya kehadiranmu. Aiy. Bagaimana caranya aku melupakanmu dengan begitu mudah padahal tidak aku temui cacat pada dirimu?
Baiklah. Tidak apa-apa. Hidupku tetap harus berjalan meskipun tanpamu. Lagi pula, apa hakku menahannya untuk tetap di sini? Toh, jalan hidup orang beda-beda sesuai dengan yang sudah digariskan. Aku hanya bisa mendoakan kepergianmu dengan yang baik-baik saja. Semoga tetap sehat, mendapat pengganti tempat yang jauh lebih baik, dan tentunya jika Allah kehendaki, semoga dapat kembali bertemu di tempat, keadaan, dan waktu yang lebih baik dari sebelumnya.