
Origami Around
trying on a metaphor
Game of Thrones Daily
todays bird
we're not kids anymore.

titsay
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
he wasn't even looking at me and he found me
h
The Stonewall Inn
Sade Olutola

No title available

Love Begins
"I'm Dorothy Gale from Kansas"

gracie abrams
One Nice Bug Per Day

#extradirty

ellievsbear
No title available
Not today Justin
seen from Ukraine
seen from United States
seen from Ukraine
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Bangladesh
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Vietnam

seen from Türkiye

seen from Malaysia
@moharyz
Nasihat terbaik sekalipun, jika dijatuhkan di tempat dan waktu yang salah, bisa berubah menjadi beban yang menghimpit, bukan cahaya yang menerangi.
Menuangkan kata-kata bijak ke dalam hati yang sedang kalut atau belum siap, rasanya seperti menyiramkan air ke atas batu yang licin, ia hanya akan mengalir lewat tanpa pernah meresap. Ada kalanya, tempat terbaik untuk sebuah nasihat adalah disimpan rapat-rapat terlebih dahulu di dalam laci kesabaran, menunggu sampai badai di hati seseorang mereda.
Sama seperti dahan yang tahu kapan harus menopang kuncup dan kapan harus membiarkannya mekar, kita pun perlu tahu kapan harus bersuara dan kapan harus melukis kepedulian lewat keheningan. Sebab, ada momen di mana manusia tidak sedang membutuhkan kompas untuk menunjukkan arah, melainkan hanya membutuhkan pelukan atau sekadar teman untuk duduk bersama di dalam sepi.
Nasihat yang tepat di tempat yang tepat akan menghidupkan. Namun, tahu kapan harus menahan nasihat tersebut adalah puncak dari sebuah kebijaksanaan.
Layaknya Benih, Nasihat Butuh Tanah yang Siap. Tempatkan Nasihat di Waktu yang Tepat.
@clichemistry
Ternyata tidak mudah bahkan bisa di kategorikan sulit buat sembuh dari luka yang di sebabkan perlakuan orang lain.
Apalagi ketika mengalami hal serupa (dejavu), walaupun tempat dan orang yang berbeda tapi rasanya seperti mengulang kejadian tempo dulu (nostalgia) yang akhirnya luka itu terasa kembali, padahal kemarin kemarin bisa di bilang luka itu udah sedikit sembuh.
Sampai saat ini bisa di bilang aku kehilangan diri, bahkan hobi yang dulu di senangi ketika di kerjakan, sekarang tak ada selera untuk menyentuhnya saja. Hidup hanya mengalir, tanpa tujuan.
Dan beberapa waktu kemarin, mungkin sebulan yang lalu sempat terfikirkan untuk meng asingkan diri dari mereka, sebenarnya dari dulu pun sudah sering terfikirkan tapi selalu saja terfikirkan "orang baik/tulus tidak akan seperti itu". Bukan berarti memvalidasi bahwasanya sudah baik ya, tapi menurutku salah satu ikhtiarnya ya tadi.
Tapi akhir akhir ini luka itu sering terasa, di tambah bisa di bilang mereka yang tidak pernah belajar, (karena aku yakin mereka menyadari perbuatannya) sehingga dunianya biasa saja, padahal ada orang yang tidak baik baik saja atas apa yang mereka lalukan.
Kalau ada orang yang bertanya, Ko bisa perlakuan orang lain menjadikan hidupmu bisa di bilang hancur? seperti tidak ada pengendalian diri, kan perasaan hati bisa di kontrol?
Aku sudah ngontrol kok maka nya ketika sedang mengalami itu aku sabar, aku tersenyum. Mungkin fitrahnya manusia ketika tidak ingin di perlakukan buruk maka hadirlah rasa sakit itu.
Terakhir aku meminta maaf buat temen temen di tumblr ini karena sudah jarang membuat ilustrasi maupun tulisan.
Saat ini jujur aku belum mengasingkan diri dari mereka, jujur sulit sekali. Tapi aku juga terus memikirkan bagaimana menyelesaikannya dengan cara lain dan akhirnya bisa memulai hidup kembali.
The great feeling towards the Kaaba
Sea & sky at sunset
massimosimigliani
Countryside walks in Northern Ireland
nataliewhitephotography_
Cerpen : Padamu Terletak Takdir
Bisa saja aku menyalahkan semua kejadian yang aku alami hingga saat ini. Bisa saja aku mempertanyakan mengapa Tuhan mengujiku seperti ini. Memberikanku keadaan yang membuatku susah payah, memberiku keadaan yang membuatku bahkan sulit untuk membuat keputusan. Dulu, aku meresahkan setiap langkah kaki yang ku buat. Setiap keadaan yang mengelilingiku seolah-olah mengerdilkan pikiranku tentang keadilan-Nya. Aku mempertanyakan sikap-Nya yang seolah-olah pilih kasih. Mengapa aku terus menerus diberikan kegelisahan dan kesedihan bahkan kegagalan, sementara orang lain bisa tertawa lepas diatas kebahagiaannya. Aku terus menerus murung dan sekali lagi mempertanyakan keadilan-Nya. Dulu, aku merasa aku adalah orang yang paling tidak bahagia. Karena aku tahu, hampir semua yang aku harapkan selalu dipatahkan. Entah dipatahkan oleh keadaan, entah oleh orang lain, atau aku patahkan sendiri karena aku takut untuk membuat pilihan. Sampai hari ini aku menemukan jawaban atas semua perjalanan itu. Mungkin, bila aku tidak mengalami itu semua. Aku tidak akan pernah bertemu denganmu. Bahwa dulu ketika setiap langkah kaki yang ingin ku ambil, selalu dibelokkan. Bahwa mungkin, bila satu saja harapanku di masa lalu itu terjadi, mungkin aku tidak akan berada di sisimu saat ini. Adalah kamu, seseorang yang membuatku merasa menjadi orang paling bahagia hari ini. Seseorang yang membuatku mengerti bahwa setiap keadaan yang terjadi di masa lalu itu menggerakkan langkah kakiku mendekatimu. Sayangnya aku dulu tidak tahu tentang semua itu. Mungkin bila aku tahu waktu itu, aku akan dengan senang hati melangkah meski langkah itu terus menerus dibelokkan. Mungkin saat ini Tuhan tersenyum-senyum melihat kita berdua. Dulu aku mencaci-Nya, mempertanyakan keadilan-Nya. Kini aku memuji cara-Nya menggerakkan makhluk-Nya. Termasuk menggerakkan langkahku ini. Karena aku menemukan jawaban itu kini, takdir itu ternyata terletak padamu.
Bandung, 26 November 2014 | ©kurniawangunadi
nb :
Untuk setiap orang yang merasa saat ini sedang bertanya-tanya tentang hidupnya sendiri, sedang mempertanyakan keadilan-Nya, dan sedang meresahkan masa depannya. Teruslah melangkah karena jawaban itu ada di masa depan :)
Aku selalu ingat sebuah nasihat dari Jalaluddin Rumi, “untuk hidup yang hanya satu tarikan nafas, jangan tanam apapun kecuali cinta.”
Dan semakin bertambah usia, aku semakin mengerti bahwa hidup memang terlalu singkat untuk dipenuhi kebencian, gengsi, dan pertengkaran yang tidak pernah benar-benar membawa ketenangan. Banyak manusia sibuk memenangkan ego, sampai lupa bahwa waktu terus berjalan dan hati perlahan menjadi asing terhadap dirinya sendiri.
Kita sering terlalu keras pada hidup. Terlalu sibuk mengejar sesuatu yang bahkan belum tentu bisa dibawa sampai akhir. Sampai akhirnya lupa menikmati hal-hal sederhana, seperti didengar dengan tulus, dipeluk saat lelah, atau sekadar memiliki seseorang yang tetap tinggal ketika dunia terasa tidak ramah.
Mungkin itu mengapa cinta selalu menjadi hal paling penting. Bukan hanya tentang mencintai orang lain, tetapi juga belajar mencintai hidup, menerima diri sendiri, memaafkan masa lalu, dan berhenti menyiksa hati dengan hal-hal yang tidak bisa diubah lagi.
Karena pada akhirnya, hidup benar-benar sesingkat satu tarikan nafas. Dan akan sangat menyedihkan jika waktu yang sebentar itu justru habis untuk saling melukai.