Kelahiran anak keempat tampaknya tidak berhasil merekatkan kembali jalinan cinta pada keluarga ini. Menurut kisah dari sejumlah anggota keluarga, Sitoresmi yang berlatar belakang kehidupan kota, biasa hidup âtermanjakanâ sejak anak-anak hingga remaja. Misalnya, bila dimarahi ibu kandungnya larilah ia ke ibu tiri, dan untuk mengambil hati anak-anaknya, sang ibu tiri memanjakannya. Lain lagi pengakuan bapaknya kepada Rino â yang ketika itu ia sudah duduk di bangku SMA dan ia beranikan diri menanyakan sebab musabab perceraian kedua orang tuanya itu. Kata bapaknya, setiap kali usai melahirkan, ibunya selalu uring-uringan, mungkin merasakan sakit yang luar biasa, kerap emosi yang tak terkendali, sulit mengontrol diri, dan yang sangat membahayakan adalah pelampiasannya itu, bisa marah-marah yang tidak berujung-pangkal dan apa saja bisa dilemparkan.  Â
Sedangkan Sartono adalah anak desa, anak pertama dari sebelas bersaudara, dia juga âdimanjaâ oleh ibu-nya yang menganut nilai-nilai Jawa -- sangat menghormati laki-laki. Anak laki-laki tidak pernah disuruh melakukan pekerjaan yang menjadi urusan wanita. Misalnya, kalau ada anak laki-laki melakukan pekerjaan rumah, seperti mencuci baju, menyetrika, membantu mencuci piring sendiri, dan lain-lain, sang ibu merasa sedih, menangis dalam hati, dan ada kesan bahwa pekerjaan itu âtidak pantasâ dikerjakan oleh anak laki-laki.
Sepulang mengajar, Sartono tercenung lunglai melihat rumah yang kosong, Istrinya dengan membawa serta Rino pergi meninggalkannya. Ia tidak menyangka, pertengkaran semalam menyebabkan kenekatan istrinya seperti ini. Pasti mampir dulu ke Semboro, mengajak Selendang dan Danang untuk dibawa serta ke Malang. Mumpung masih ada waktu, Sartono pamit ke Kepala Sekolah yang tinggal di bagian depan komplek sekolahan, untuk segera menyusul istri dan anaknya yang kemungkinan besar mampir ke Semboro menjemput Selendang dan Danang yang dititipkan pada kakek - neneknya.
Benar, di rumah Semboro, Sitoresmi dengan penuh emosi mengajak Selendang dan Danang sembari menggendong si kecil Rino untuk segera bergegas berangkat ke Malang, Mbah Putri mencoba menenangkan menantunya untuk bersabar dan mengurungkan niatnya pulang ke Malang. âSudahlah nDuk, sabar, ingat anakmu masih kecil, apalagi Rino masih bayi. Tidak usah pergi. Aku mohonkan maaf kesalahan Sartono. Langgengkan rumah tangga kalian hingga kaki-kaki dan nini-nini.â
Tapi api amarah itu telah menjelma menjadi kobaran besar, siraman sepercik air tak mampu memadamkannya. Sambil menggendong Rino dan menggandeng tangan Danang, Sitoresmi menghentikan dokar yang sedang lewat di jalan samping rumah. Selendang yang saat itu kelas enam SD Semboro sebenarnya enggan ikut ke Malang, tapi untuk menemani ibunya dan gantian menggendong Rino dalam perjalanan, ia didesak untuk ikut.
Danang yang saat itu kelas empat SD menaruh iba pada ibu dan adiknya yang masih bayi. Dalam diamnya ia bertanya-tanya; mengapa peristiwa pahit yang pernah terjadi itu mesti terulang kembali?
Masih segar di ingatannya beberapa tahun silam, lengannya yang kecil itu digandeng oleh ibunya diajak pergi ke Malang, dalam suasana yang jauh dari keceriaan. Dalam gendongan ibunya, adiknya Nanang Priantono atau yang biasa dipanggil Nanang, kerap rewel sepanjang perjalanan. Setiba di Malang pun ibunya kebingungan mau tinggal di rumah siapa, terkadang tinggal di Kepanjen â rumah Mbah Putri (ibu dari ibunya yang sudah menjanda), sebentar kemudian pindah ke Malang (kota), rumah Bulik (adik ibunya yang juga punya empat orang anak masih kecil-kecil), atau di Japanan â rumah Budhe (kakak ibunya yang juga punya anak empat orang yang paling besar sepantaran dengan Selendang dan Danang). Karena keluarga yang ditumpangi sama-sama sibuk mengurus anak masing-masing, maka anak-anak Sitoresmi (Selendang dan Danang) mengurus diri sendiri, sampai pada akhirnya si Nanang sakit panas dan meninggal dunia.
Sekarang, lengan Danang yang masih kecil itu pun kembali dalam genggaman tangan ibunya, ia kembali diajak ke Malang dengan suasana yang tidak menyenangkan, pasti ibunya habis bertengkar lagi dengan bapak. Dan dalam gendongan ibu sekarang adalah Rino, adiknya yang masih berumur beberapa minggu. Dalam hatinya Danang ingin berteriak, tidak! Tapi dadanya terasa sangat sesak, udara dari paru-parunya malah mendesak ke atas menyumbat jalan nafas, kemudian merembes menembus saraf-saraf mata, sehingga tanpa disadarinya mengucur deras air matanya. Mengapa bapak tidak mencegah ibu pergi, dan mengapa bapak kini tidak kunjung menyusul kami? Â
Perjalanan Sartono dari Jember ke Tanggul yang berjarak tiga puluh kilometer dengan angkutan umum yang terbilang jarang, kalaupun ada berberapa belas kali harus berhenti menunggu penumpang. Kemudian disambung naik dokar Tanggul - Semboro yang berjarak sepuluh kilometer, kelambanan itu telah memberi ruang cukup lebar bagi Sartono untuk tidak berpapasan apalagi bertemu dengan istri dan anak-anaknya.
Menjelang petang, ia memasuki rumah orang tuanya di Semboro, dengan penerangan lampu teplok berbahan bakar minyak tanah, ibunya memandang wajah anak laki-laki pertamanya yang duduk lunglai di kursi. Sementara bapaknya dengan wajah dingin duduk di ujung amben* sambil menghisap rokok dalam-dalam. âIstrimu sudah aku cegah, tapi menolak. Selendang dan Danang bahkan diajak.â ujar ibunya.
Dengan penuh sesal Sartono menceritakan pertengkaran-pertengkaran yang memicu kejadian siang itu kepada kedua orang tuanya. Rasa-rasanya sudah tidak bisa dipertahankan lagi. Yang menjadi pemikirannya sekarang adalah anak-anaknya, terutama Rino yang masih bayi.
Maka, dengan terbata-bata, Sartono memohon kepada ibunya untuk bersedia menyusul ke Malang, mengambil kembali anak-anak dari ibunya, âBu, saya minta tolong, kiranya Ibu berkenan menyusul dan mengambil kembali anak-anak ke sini. Selendang dan Danang biar sekolah di sini saja. Rino, oh Rino, dialah yang harus segera diambil, Bu. Tapi pasti ibunya tidak membolehkan â apa âdicuriâ saja, Bu. Jangan sampai nasib Nanang terulang lagi pada Rino.â ucap Sartono panik.
âMestinya kowe dewe yang menyusul anak-anakmu.â komentar bapaknya pendek.
âKalau aku yang datang, pasti terjadi pertengkaran, Pak. Selendang dan Danang karena sudah sekolah di sini mungkin diijinkan ikut aku. Tapi Rino, pasti tidak boleh lepas dari ibunya. Padahal dia perlu perawatan yang benar, tidak diajak pindah-pindah dari rumah keluarga yang satu ke keluarga yang lain, yang jaraknya cukup jauh. Rino, Pak yang mengkhawatirkan. Harus diambil, dia! â ungkap Sartono gelisah
âApa kamu sudah tak ingin rujuk kembali dengan istrimu?â tanya ibunya.
âWis, gak, aku putuskan tidak meneruskan lagi berkeluarga dengannya.â jawab Sartono tegas. Â
Senyap terasa merayap di ruang mbale rumah, asap putih mengepul dari sudut kandang sapi di seberang jalan depan rumah, dari rumput-rumput kering yang disapu, dikumpulkan dan dibakar oleh Pak Sadi â orang dari entah berantah yang hidup magersari* di pekarangan Mbah Kakung yang terbilang luas itu. Gerimis kecil menambah dingin petang itu.
warung makanan, dan wanita tersebut adalah ibu tiri dari Sitoresmi. Maka, terajutlah jalinan cinta di antara Sartono dengan Sitoresmi dan berlangsunglah perjodohan itu.
Anak pertama pasangan Sartono dan Sitoresmi bernama Selendang Margihayati lahir di Malang, kemudian yang kedua Danang Wahyuono juga lahir di Malang. Yang ketiga Nanang Priantono meninggal dalam usia balita dimakamkan di Malang. Anak keempat diberi nama Bagaskara Madangi Rahina atau Rino yang lahir di Jember saat Sartono dinas mengajar di SMP Katolik St. Joseph di kota yang sama.
Rumah tangga yang dibangun Sartono dan Sitoresmi tampaknya berjalan tidak begitu mulus, ketika lahir anak ketiga, sempat terjadi âpisah ranjangâ, Sitoresmi pulang ke Malang dengan membawa ketiga anaknya, bahkan si anak ketiga masih bayi. Beberapa waktu kemudian si anak menderita sakit panas dan meninggal dunia dalam usia balita. Kemudian, entah â mungkin disertai perasaan sesal yang mendalam â pasangan ini ârujukâ kembali, Selendang dan Danang ikut kakek â neneknya di Semboro. Sedangkan Sartono dan Sitoresmi mendapatkan jatah ruangan satu petak di bagian belakang sekolah sebagai ârumah dinasâ. Maka lahirlah anak keempat, yaitu Bagaskara Madangi Rahina alias Rino di Rumah Sakit Djawatan Kesehatan Tentara (DKT) Jember, 29 Januari 1968.
Kelahiran anak keempat tampaknya tidak berhasil merekatkan kembali jalinan cinta pada keluarga ini. Menurut kisah dari sejumlah anggota keluarga, Sitoresmi yang berlatar belakang kehidupan kota, biasa hidup âtermanjakanâ sejak anak-anak hingga remaja. Misalnya, bila dimarahi ibu kandungnya larilah ia ke ibu tiri, dan untuk mengambil hati anak-anaknya, sang ibu tiri memanjakannya. Lain lagi pengakuan bapaknya kepada Rino â yang ketika itu ia sudah duduk di bangku SMA dan ia beranikan diri menanyakan sebab musabab perceraian kedua orang tuanya itu. Kata bapaknya, setiap kali usai melahirkan, ibunya selalu uring-uringan, mungkin merasakan sakit yang luar biasa, kerap emosi yang tak terkendali, sulit mengontrol diri, dan yang sangat membahayakan adalah pelampiasannya itu, bisa marah-marah yang tidak berujung-pangkal dan apa saja bisa dilemparkan.  Â
Sedangkan Sartono adalah anak desa, anak pertama dari sebelas bersaudara, dia juga âdimanjaâ oleh ibu-nya yang menganut nilai-nilai Jawa -- sangat menghormati laki-laki. Anak laki-laki tidak pernah disuruh melakukan pekerjaan yang menjadi urusan wanita. Misalnya, kalau ada anak laki-laki melakukan pekerjaan rumah, seperti mencuci baju, menyetrika, membantu mencuci piring sendiri, dan lain-lain, sang ibu merasa sedih, menangis dalam hati, dan ada kesan bahwa pekerjaan itu âtidak pantasâ dikerjakan oleh anak laki-laki.
Rupanya pasangan Sartono dan Sitoresmi masing-masing dibesarkan dalam âkemanjaanâ yang berbeda. Namun, kehidupan ekonomi keluarga Sartono yang pas-pasan, mestinya tidak menjadi penghalang bagi keduanya untuk sama-sama membongkar âegoismeâ masing-masing dari perangkap kemanjaan itu. Tapi apa mau dikata, rupanya egoisme telah memenangkan segalanya. Perceraian menjadi jalan keluar. Pada sebuah puncak pertengkaran, Sitoresmi hengkang dari rumah dengan menggendong Rino yang masih bayi merah.
Sepulang mengajar, Sartono tercenung lunglai melihat rumah yang kosong, Istrinya dengan membawa serta Rino pergi meninggalkannya. Ia tidak menyangka, pertengkaran semalam menyebabkan kenekatan istrinya seperti ini. Pasti mampir dulu ke Semboro, mengajak Selendang dan Danang untuk dibawa serta ke Malang. Mumpung masih ada waktu, Sartono pamit ke Kepala Sekolah yang tinggal di bagian depan komplek sekolahan, untuk segera menyusul istri dan anaknya yang kemungkinan besar mampir ke Semboro menjemput Selendang dan Danang yang dititipkan pada kakek - neneknya.
Benar, di rumah Semboro, Sitoresmi dengan penuh emosi mengajak Selendang dan Danang sembari menggendong si kecil Rino untuk segera bergegas berangkat ke Malang, Mbah Putri mencoba menenangkan menantunya untuk bersabar dan mengurungkan niatnya pulang ke Malang. âSudahlah nDuk, sabar, ingat anakmu masih kecil, apalagi Rino masih bayi. Tidak usah pergi. Aku mohonkan maaf kesalahan Sartono. Langgengkan rumah tangga kalian hingga kaki-kaki dan nini-nini.â
Tapi api amarah itu telah menjelma menjadi kobaran besar, siraman sepercik air tak mampu memadamkannya. Sambil menggendong Rino dan menggandeng tangan Danang, Sitoresmi menghentikan dokar yang sedang lewat di jalan samping rumah. Selendang yang saat itu kelas enam SD Semboro sebenarnya enggan ikut ke Malang, tapi untuk menemani ibunya dan gantian menggendong Rino dalam perjalanan, ia didesak untuk ikut.
Danang yang saat itu kelas empat SD menaruh iba pada ibu dan adiknya yang masih bayi. Dalam diamnya ia bertanya-tanya; mengapa peristiwa pahit yang pernah terjadi itu mesti terulang kembali?
Masih segar di ingatannya beberapa tahun silam, lengannya yang kecil itu digandeng oleh ibunya diajak pergi ke Malang, dalam suasana yang jauh dari keceriaan. Dalam gendongan ibunya, adiknya Nanang Priantono atau yang biasa dipanggil Nanang, kerap rewel sepanjang perjalanan. Setiba di Malang pun ibunya kebingungan mau tinggal di rumah siapa, terkadang tinggal di Kepanjen â rumah Mbah Putri (ibu dari ibunya yang sudah menjanda), sebentar kemudian pindah ke Malang (kota), rumah Bulik (adik ibunya yang juga punya empat orang anak masih kecil-kecil), atau di Japanan â rumah Budhe (kakak ibunya yang juga punya anak empat orang yang paling besar sepantaran dengan Selendang dan Danang). Karena keluarga yang ditumpangi sama-sama sibuk mengurus anak masing-masing, maka anak-anak Sitoresmi (Selendang dan Danang) mengurus diri sendiri, sampai pada akhirnya si Nanang sakit panas dan meninggal dunia.
Sekarang, lengan Danang yang masih kecil itu pun kembali dalam genggaman tangan ibunya, ia kembali diajak ke Malang dengan suasana yang tidak menyenangkan, pasti ibunya habis bertengkar lagi dengan bapak. Dan dalam gendongan ibu sekarang adalah Rino, adiknya yang masih berumur beberapa minggu. Dalam hatinya Danang ingin berteriak, tidak! Tapi dadanya terasa sangat sesak, udara dari paru-parunya malah mendesak ke atas menyumbat jalan nafas, kemudian merembes menembus saraf-saraf mata, sehingga tanpa disadarinya mengucur deras air matanya. Mengapa bapak tidak mencegah ibu pergi, dan mengapa bapak kini tidak kunjung menyusul kami? Â
Perjalanan Sartono dari Jember ke Tanggul yang berjarak tiga puluh kilometer dengan angkutan umum yang terbilang jarang, kalaupun ada berberapa belas kali harus berhenti menunggu penumpang. Kemudian disambung naik dokar Tanggul - Semboro yang berjarak sepuluh kilometer, kelambanan itu telah memberi ruang cukup lebar bagi Sartono untuk tidak berpapasan apalagi bertemu dengan istri dan anak-anaknya.
Menjelang petang, ia memasuki rumah orang tuanya di Semboro, dengan penerangan lampu teplok berbahan bakar minyak tanah, ibunya memandang wajah anak laki-laki pertamanya yang duduk lunglai di kursi. Sementara bapaknya dengan wajah dingin duduk di ujung amben* sambil menghisap rokok dalam-dalam. âIstrimu sudah aku cegah, tapi menolak. Selendang dan Danang bahkan diajak.â ujar ibunya.
Dengan penuh sesal Sartono menceritakan pertengkaran-pertengkaran yang memicu kejadian siang itu kepada kedua orang tuanya. Rasa-rasanya sudah tidak bisa dipertahankan lagi. Yang menjadi pemikirannya sekarang adalah anak-anaknya, terutama Rino yang masih bayi.
Maka, dengan terbata-bata, Sartono memohon kepada ibunya untuk bersedia menyusul ke Malang, mengambil kembali anak-anak dari ibunya, âBu, saya minta tolong, kiranya Ibu berkenan menyusul dan mengambil kembali anak-anak ke sini. Selendang dan Danang biar sekolah di sini saja. Rino, oh Rino, dialah yang harus segera diambil, Bu. Tapi pasti ibunya tidak membolehkan â apa âdicuriâ saja, Bu. Jangan sampai nasib Nanang terulang lagi pada Rino.â ucap Sartono panik.
âMestinya kowe dewe yang menyusul anak-anakmu.â komentar bapaknya pendek.
âKalau aku yang datang, pasti terjadi pertengkaran, Pak. Selendang dan Danang karena sudah sekolah di sini mungkin diijinkan ikut aku. Tapi Rino, pasti tidak boleh lepas dari ibunya. Padahal dia perlu perawatan yang benar, tidak diajak pindah-pindah dari rumah keluarga yang satu ke keluarga yang lain, yang jaraknya cukup jauh. Rino, Pak yang mengkhawatirkan. Harus diambil, dia! â ungkap Sartono gelisah
âApa kamu sudah tak ingin rujuk kembali dengan istrimu?â tanya ibunya.
âWis, gak, aku putuskan tidak meneruskan lagi berkeluarga dengannya.â jawab Sartono tegas. Â
Senyap terasa merayap di ruang mbale rumah, asap putih mengepul dari sudut kandang sapi di seberang jalan depan rumah, dari rumput-rumput kering yang disapu, dikumpulkan dan dibakar oleh Pak Sadi â orang dari entah berantah yang hidup magersari* di pekarangan Mbah Kakung yang terbilang luas itu. Gerimis kecil menambah dingin petang itu.