Satu hal yang kemudian kusadari setelah sekian lama mengamati, tidak hanya mengamati perjalanan sendiri melainkan juga perjalanan hidup orang lain. Pada setiap urusan hidupnya yang terlihat mudah, ternyata tidak semata-mata karena memang orang tersebut adalah orang yang pandai, cakap, terampil, memiliki banyak keahlian.
Seringkali saya meminta nasihat kepada mereka, tentunya selain mendapatkan nasihat-nasihat umum seperti kita harus belajar, berinvestasi leher ke atas, menambah jejaring dan keahlian. Ada nasihat-nasihat tambahan yang saya simpulkan, hampir sama. Berbuat baik, kepada siapa? Kepada orang tua.
Katanya, kita bisa jadi pandai dalam bersedekah bersama teman-teman kita, rutin setiap senin dan jumat. Selalu ada untuk menolong teman-teman kita. Selalu meluangkan waktu untuk orang lain. Selalu mencurahkan energi dan pikiran kita ke dalam organisasi, komunitas, dan lain-lain. Tapi, bisa jadi kita jarang hadir di rumah, tidak meluangkan waktu untuk orang tua kita, tidak membantu meringankan pekerjaannya sesederhana membersihkan kamar kita, membukakan pintu dan menutup pintu pagar ketika orang tua hendak keluar atau masuk rumah, merapikan meja makan, dan hal-hal yang tampak sederhana dan seolah tak bernilai bagi kita, dibanding dengan aktivitas kita di luar rumah.
Temanku yang lain, yang tampak biasa-biasa saja, tidak ada yang spesial dengan kemampuan akademiknya di kampus, pun tidak menjadi pejabat penting dalam organisasi. Ketika dia mendaftar magister di luar negeri, dengan mudahnya mendapatkan beasiswa, bahkan beasiswa penuh. Lulus dari sana langsung mendapatkan pekerjaan yang sangat baik, ketika para lulusan yang lain masih bingung mencari pekerjaan ketika pulang. Tentunya, kalau orang lain yang tak mengenal bagaimana orang tersebut tidak akan tahu kalau temanku tersebut adalah orang yang selalu ada untuk orang tuanya. Bahkan, ketika ada urusan organisasi dan orang tuanya meminta tolong untuk diantar ke suatu tempat, dia tak segan untuk minta izin ke organisasi dan memilih mengantar orang tuanya. Dulu, sebagai seorang aktivis mungkin agak jengkel ketika ada anggota yang tidak bisa hadir karena ada urusan keluarga. Tapi, hari ini, semakin dewasa, saya menjadi lebih paham skala prioritas seseorang. Itu belum termasuk dengan segala kesiap sediaannya yang lain untuk orang tuanya, yang saya tahu dari orang tuanya langsung. Anaknya adalah anak yang selalu bisa diandalkan. Ujarnya.
Temanku yang lainnya lagi pun demikian. Tak jauh beda ketika memberikan nasihatnya kepadaku. “Sekalipun orang tua kita mungkin tak begitu memahami dunia kita saat ini, tetaplah berbuat baik selama itu bukan kekerasan dalam rumah tangga dsb. Perbedaan pendapat dengan orang tua, sikap dingin, perbedaan pandangan, itu semua adalah hal yang niscaya terjadi antara orang tua dan kita sebagai anak. Kita perlu untuk mencari celah di mana kita bisa berbuat baik.”
Akan lebih menyesakkan kalau kita sudah tahu bahwa orang tua kita sebenarnya mudah untuk kita dekati, bisa diajak bicara, tapi justru kemudahan itu membuat kita merasa tidak perlu merawatnya dengan baik. Dan kemudian kita merasa banyak sekali hambatan dalam hidup kita, ketika mau sekolah, bekerja, memasukin kehidupan berumah tangga, bahkan mungkin saat berumah tangga. Bisa jadi, penyebabnya sedekat itu. Dan kita tidak berusaha mengatasi penyebabnya, tapi sibuk mencari cara dari luar yang jauh, yang mahal, yang berputar-putar jalannya.
Lihat raut wajah kedua orang tua kita, jika keduanya masih ada, atau mungkin salah satunya. Yang mulai menua, tenaganya tidak sekuat dulu, yang lelah menyiapkan makanan di rumah yang jarang kita makan. Yang setiap pagi membangunkan kita tapi kita tak kunjung mau beranjak bangun. Setiap hari harus mengurus rumah seisinya dan kita masih mengeluh karena rumah ini terasa tidak hangat, berharap orang lain yang menghangatkan rumah ini tapi kita sendiri tidak mau.
Tak terlintas dalam benak kita untuk mengantar orang tua kita ketika mereka ada urusan, menemaninya berkunjung silaturahmi, ke rumah sakit, membeli makan, tidak harus urusan yang sangat penting. Memang mungkin agak sulit bagi kita, membatalkan sedikit urusan kita, mengurangi aktivitas kita yang terlihat begitu memukau banyak orang. Tapi kesibukkan itu justru meniadakan kesempatan-kesempatan kita untuk mendapatkan kemudahan-kemudahan dalam hidup, melalui doa-doa orang tua kita yang begitu dekat, kepada anakknya yang dilahirkannya dan selalu ada memudahkan orang tuanya.
Kehilangan orang tua itu sama saja dengan kehilangan doa-doa yang paling mustajab. Jangan sampai, kita kehilangan doa-doa itu bukan karena orang tua telah meninggal dunia. Mereka masih ada di sekitar kita, tapi kita sudah kehilangan doa-doa mustajab tersebut, karena kita tidak pernah memintanya, tidak pernah meluangkan waktu untuknya, dan tidak pernah hadir sebagai anak yang dulu pernah diberikan kasih sayang yang begitu besar ketika masih kecil.
Ketika sudah besar, anak-anaknya tak lagi sedekat dulu. Tak lagi menunjukkan keinginannya untuk dekat dengan orang tuanya. Seolah-olah anak tersebut tidak menginginkan kehadiran orang tuanya, bahkan dianggap orang tua sebagai penghambat langkah kakinya.
Padahal, kemudahan yang kita cari begitu dekat. Tapi, kita mencarinya begitu jauh.
18 Maret 2021 | ©kurniawangunadi