Siapa diantara kita yang paling kejam?
Ketika janji saling bertali di persimpang jalan
Kau hantar diri ini sebab dunia punya adat
Kala itu sorot matamu membuat jiwa yang terusir ini teduh
Katamu, kita akan bersama lagi
Bukan cuma kita namun semua pohon dan tanah yang kita jejaki
Menjadi saksi bisu perjanjian yang saya gigit dengan geraham
Siapa diantara kita yang paling kejam?
Ketika ribuan kata rindu tertumpah di seratus surat yang terkirim
Lalu hari itu datang surat balasan dari engkau
Katamu, hati telah memilih cinta yang lain
Seorang pemuda bersayapkan uang, yang jelas muasalnya
Siapa diantara kita yang lebih kejam?
Jauh saya merantau ketanah bapak
Mengumpulkan kayu, malamnya menimba ilmu
Namun sekali lagi, kau ingatkan saya, dunia punya adat
Seorang anak terpisah dari cinta dan kasih, mengembara memikul duka
Engkau tinggalkan saya, Hayati
Siapa diantara kita yang lebih kejam?
Engkau bakar janji itu dan terbang tinggi bersamanya yang bersayap uang
Dua bulan bahkan saya enggan mengunyah sebutir nasi
Tak pernah saya luput seharipun tanpa mengucap namamu sekaligus mengucap syukur engkau adalah ciptaan Tuhan paling indah
Ucapanmu memenuhi setiap ruang kepala dan hati saya yang melapuk
Siapa diantara kita yang lebih kejam?
Kau sudahi perjanjian kita yang selalu saya ikat dengan rantai
Yang tidak lapuk di hujan, tidak lekang di panas
Saya bawa luka besar menggerogoti dada ini ke tanah jawa
Saya teruskan hikayat dan sajak ini, agar cinta saya tetap hidup
Dan kamu bisa mengabadi, Hayati
Siapa diantara kita yang lebih kejam?
saat perpisahan menamparmu dengan keras
Kau kembali pada jiwa lemah ini, mengemis cinta
Seakan kemarin, kamu tidak menggenggam belati
Maafkan saya Hayati…namun pria pantang memakan sisa
Sudah…Hayati…sudah…
Saya ini rapuh
Bersama surat dan sajak ini, tenggelam dalam laut yang dingin,
Selamat tinggal Hayati…engkau akan tetap hidup, mengabadi