
tannertan36
Mike Driver
No title available
Sade Olutola
Cosimo Galluzzi
Keni

Kaledo Art

roma★
Fai_Ryy
d e v o n

#extradirty

JVL
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
macklin celebrini has autism

blake kathryn
Jules of Nature

Love Begins
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
noise dept.
Today's Document
seen from Brazil
seen from United States

seen from Malaysia

seen from Vietnam

seen from United Kingdom
seen from United States

seen from United States
seen from Austria

seen from United Kingdom
seen from Brazil

seen from Germany

seen from Malaysia
seen from Spain

seen from Chile
seen from T1

seen from Singapore

seen from Singapore

seen from Germany

seen from Italy
seen from Türkiye
@nasuhakhairull
Seringkali kita meratapi apa yang melewati kita sehingga lupa mempersiapkan diri pada apa yang selanjutnya akan menemui kita.
“There are many people who say they don’t have time to pray at work or school, or while they’re out. But how many have ever said they don’t have time to go to the bathroom, so while out, at work or school have opted instead to just wear Depends? How many of us just don’t feel like waking up at Fajr time if we need to use the bathroom, and choose instead to wet our bed? The truth is we’ll get out of bed, or leave class, or stop work, to use the bathroom, but not to pray.”
— Yasmin Mogahed
Alhamdulillah 🧡
من يرد الله به خيرا يصب منه
“Jika Allah menginginkan kebaikan kepada seseorang, Allah akan memberinya cobaan" (H.R. Bukhori)
“Duhai Allah, maafkanlah aku yang sebenarnya tau sedang berjalan menuju kematian namun masih terus saja mengkhawatirkan tentang kehidupan keduniaan. Masih tenggelam dalam gemerlap kefanaan. Sibuk dengan kesia-siaan.”
—
Hingga terkadang aku luput mencemaskan amal perbuatan yang bahkan aku pun ragu untuk jadikan itu sebagai perbekalan.
Ya Rabb. Ampuni.
Hey, menjadi manusia saja sudah cukup berat bukan? Tak usah menambah beban dengan berharap pada manusia lagi.
“Baiknya fisik hanya sanggup menarik kedua mata. Sedangkan kuatnya karakter menarik hati serta isi kepala.”
— Dari kami, orang-orang biasa.
[Al-Baqarah:153-154]
Boston Big Picture
silence is beautiful
“And I did not create the jinn and mankind except to worship Me.” [Ad-Dzariyat; 56] :)
Nagih Utang
Sebaik-baik teman adalah yang berani menagih utang temannya di dunia. Dan sejahat-jahatnya teman adalah yang berencana menagih utang temannya di akhirat.
Sebagian orang merasa sungkan, ga enak, atau takut menyinggung. Tapi berkompromilah dengan perasaan-perasaan itu. Karena masih lebih baik menagih di dunia daripada membuat bangkrut teman sendiri di akhirat.
Jangan sampai sedari awal sudah kamu diamkan. Karena itu sama saja berencana menagihnya di akhirat.
Orang berutang beragam adabnya. Ada yang bersegera melunasi sebelum jatuh tempo. Ada yang belum mampu melunasi karena keterbatasan rezeki. Ada yang lupa, dan ada yang melupakan. Kepada semuanya, kewajibanmu hanya mengingatkan.
Kamu harus punya perhitungan sendiri, kapan harus menagih kali pertama, kapan harus menagih kali kedua, kapan harus berhenti menagih, dan kapan harus mengikhlaskan.
Apapun tanggapannya, dengan menagih arti ya kamu sudah menggugurkan kewajiban untuk menyelamatkannya dari kebangkrutan di akhirat.
Jangan sungkan, tagih aja dulu.
Mampang Prapatan | © Taufik Aulia
Yang Tak Terlihat Bukan Berarti Tidak Ada
Ceritanya, ini adalah faedah yang aku dapat tadi pagi. Sebuah pelajaran hidup yang begitu penting, meski cara hadirnya kurang menyenangkan. Ibrah dari mengikuti acara yang berlokasi di salah satu cabang Kumon.
Ceritanya, tadi pagi saat hendak menuju mushola bangunan yang aku tempati tadi, dan qadarullah harus memaksa kaki melangkah ke gedung sebelah, aku menuruni tangga dari lantai kedua, lalu menyapa dua teman yang duduk di tempat registrasi. Menyapa ringan saja, lantas hendak berjalan lewat pintu utama tersebut.
DUUG!
Puas sekali rasanya suara barusan. Ya, itu suara aku yang menabrak bingkai pintu kaca yang ada tepat di hadapanku. Agak pusing sedikit memang, tapi langsung ingat tentang salah satu iklan produk pembersih kaca Cling; bersih bening seperti tanpa kaca! Ternyata memang ada yang benar demikian!
Sambil terkekeh sebab merasa agak konyol, aku meninggalkan dua saksi mata yang kubiarkan tertawa.
.
Sambil menghangatkan diri di mushola yang berukuran kurang lebih dua kali dua meter (sebab nggak ada ac-nya), aku jadi ingat tentang betapa memang hidup kita juga demikian. Terkadang lupa dengan hal-hal yang sejatinya ada, meski tak tampak.
Misalnya, saat kita merasa lemah dan lelah sebab banyaknya tugas dan amanah, atau saat gagal melakukan sesuatu, lalu kita pun merasa terpuruk dan tak mampu melakukan apa-apa, dan kemudian berakhir pada merutuki diri sendiri sedemikian rupa, sedemikian parahnya. Di titik ini kita lupa, untuk tetap berdiri tegak, kita lupa untuk tetap tersenyum, sebab adanya kita di titik yang sekarang itu pun sejatinya bukan semata-mata sebab usaha kita, tapi juga doa dan support banyak orang baik yang hidup di dekat kita. Kita lupa bahwa meski kita benar-benar gagal sekalipun, masih ada orang-orang yang bakal akan tetap mendukung kita, tetap menyayangi kita dan bahkan tak akan sampai diri mereka menyalahkan diri kita sebagaimana kita menyalahkan diri sendiri.
Bahkan, kita -atau lebih tepatnya aku pribadi- sering lupa pada Allah (na'udzubillah). Saat tenggelam dalam maksiyat, lupa pada adzab-Nya. Saat lelah dalam bertaat, lupa pada janji-Nya. Saat berada dalam kebahagiaan, lupa pada kewajiban terhadap-Nya. Saat berada dalam kesedihan, lupa pada kasih sayangNya. Aih, padahal kita bener-bener ga bisa hidup sedetik pun tanpa Allah, tapi masih sering lalai terhadap-Nya.
Makanya, Rasulullah pun sudah mengajarkan suatu do'a yang dapat mengantisipasi hal ini:
اللهم أعني على ذكرك وشكرك وحسن عبادتك
“Ya Allah, bantulah aku dalam mengingat-Mu, mensyukuri (nikmat-Mu), juga bantu aku dalam melaksanakan beribadah dengan baik kepadaMu.” (HR. Abu Dawud)
Semoga, kita nggak lupa untuk sering-sering baca doa ini, bisa sebelum salam pas tahiyyat akhir, atau habis sholat, arau kapanpun, biar ga lupa sama Allah! Wallahu a'lam. (16/02/19)
aku lemah, Allaah. aku mengikuti setiap takdir yang ditetapkan untuk ku. Ketika Engkau memintaku untuk berupaya, maka aku berupaya sampai akhir. Namun berkali-kali upaya ku selalu saja menyedihkan.
aku gak paham, mengapa kesedihan sepertinya senang membersamaiku. Namun dalam lubuk hatiku, aku tidak ingin berputus asa dari rahmatMu.
Kita ini kenapa deh?
Liat temen nikah, baper... buru2 mempersiapkan dan memperbaiki diri biar bisa nyusul, rajin ikut pengajian dan sekolah2 pra nikah. Biar dapet suami/istri yang sholehah (katanya sih gitu)
Liat temen sidang dan wisuda, baper juga... buru2 fokus ngerjain skripsi/TA, jadi rajin ke kampus ketemu dosbing, jadi rajin buka2 buku, jurnal dll. Trus stres sendiri pas ngerjain, ujung2nya stagnan gaada progres ngerjainnya
Pas liat orang meninggal, bapernya sekilas doang. Dah gitu gaada persiapan buat menyambut Izrail pula.... masih sering maksiat juga.... ibadahnya pas2an, tapi pengen masuk sorga... dah tau yang paling dekat itu adalah kematian... disiapin kagak...
.
.
.
.
.
Siapa tuh yang kek gitu?
Orang Shalih dan Kematiannya
Meninggalnya orang shalih itu bahagia untuk keluarganya, menjadi aset akhirat dan penolong nanti. Tapi sedih untuk sekitarnya, karena berkurang orang yang akan mengingatkan pada kebaikan dan mencegah keburukan.
Meninggalnya orang shalih itu bahagia untuk penghuni langit, karena bisa menyambutnya dan melayaninya. Tapi sedih untuk penghuni bumi, karena berkurang manusia baik di sekitarnya yang otomatis mengurangi keberkahan yang ada.
Jadilah orang shalih, yang keberadaanmu selalu dicari dan dirindukan. Saat kamu tiada, orang tersenyum karena pernah mengenalmu, dan bersedih karena tak lama bisa hidup denganmu.
@jndmmsyhd