Hidup ideal: sekolah berprestasi, menikah, punya anak menjadi keluarga bahagia.
Tapi bagaimana kalau tidak semua orang bisa merasakan hidup seperti itu? Bagaimana jika setiap orang harus bertahan sekadar ingin makan? Bagaimana jika di usia 25 tahun dia seharusnya sudah bisa merasakan cinta yang aman dan nyaman, tapi justru diselingkuhi, mengalami kecelakaan, atau harus menjadi tulang punggung keluarganya? Bagaimana jika tidak ada yang benar-benar ideal, bahwa ideal setiap orang berbeda-beda?
Jika ternyata idealku adalah menjadi anak yang berbakti terlebih dahulu. Jika idealku adalah sembuh dari rasa trauma. Jika idealnya adalah aku bisa bertahan lagi. Jika idealnya adalah aku harus sembuh dari sakit kronis yang diderita. Dan bagaimana jika idealnya aku harus hidup mewujudkan mimpi orang-orang kecil terlebih dahulu.
Katamu, menikah itu menyenangkan. Lantas bagaimana dengan mereka yang bercerai karena sang suami melakukan KDRT? Bagaimana jika harus bercerai karena suami diam-diam menikah siri?
Katamu, paling ideal adalah bisa kuliah minimal S1. Bagaimana jika ada seorang anak yang harus bekerja mati-matian dan mengubur mimpinya untuk kuliah S1 karena terlahir dari keluarga kurang mampu, dan dia harus membiayai bukan hanya dirinya, tapi juga keluarganya?
Kamu selalu berhak memberikan gambaran paling ideal menurutmu, bagaimana masyarakat membangun idealisme mereka. Tapi nyatanya, mereka tidak benar-benar paham bahwa hidup setiap orang selalu memiliki ritme yang berbeda. Bahwa dia bisa bertahan saja adalah bagian hebat yang telah dia lalui.
Aku selalu bersikeras mendefinisikan bagaimana idealku benar-benar bisa ideal untukku. Bahwa apa yang aku lalui memang harus aku lalui. Pada akhirnya, yang harus kita perjuangkan adalah penerimaan—penerimaan terhadap takdir yang bukan bagian dari apa yang bisa kita atur: bertemu dengan siapa, terlahir dari rahim siapa, dan banyak hal lain di luar kendali kita.
Bahwa itu saja adalah sebagian yang terlihat. Lantas bagaimana dengan banyak hal yang tidak terlihat, seperti rasa sakit yang harus ia tahan sejak kecil, trauma yang dia miliki, mimpi-mimpi yang meletup yang dia coba ukir dan perjuangkan sejak kecil? Menjadi ramah terhadap setiap pilihan seseorang adalah cara kita menghormati ritme hidup kita juga.