Nukilan buku “Islam Rahmatan Lil ‘Alamin| Muhammad Fethullah Gulen”
Kali ini, mau menukil singkat salah satu bab dari bukunya Fethullah Gulen. Bab ini membahas satu pertanyaan aja sih, tapi puanjang benerr.
“Ketika kita sendirian, syaitan melemparkan banyak syubhat dan keraguan ke dalam hati kita. Akhirnya, kehendak ini menjadi alat permainan perasaan sehingga kita merasa bahwa kesabaran kita sudah habis dalam menghadapi maksiat. Apa nasihat Anda?”
Nah, ini sebenarnya sesuatu yang mengerikan kan? Somehow, ini ngena banget bagi saya. Memang, kesendirian memberi kekuatan tersendiri berupa kejernihan pikir dan independensi sikap.
Tapi, ia juga bisa menjerumuskanku ke jurang kegelapan. Bikin pikiran-pikiran negatif menggerayangi benak. Dan ini mengerikan.
Terlalu banyak merenung tidak begitu baik.
Yang kudapat dari Fethullah Gulen, akan solusi menghadang marahabaya dalam kekosongan tuh begini, nih.
1. Hiasi diri dengan amal, walau jiwa masih metal
Kalau kata Ustadz-nya, syaitan tidak akan bisa memasukkan hawa nafsu dan bisikannya kepada orang yang menjadikan dakwah dan pembelaan agama yang terang ini sebagai sasaran dan tujuannya.
Lebih lanjut, tangan syaitan tidak dapat merambah hati tenteram dipenuhi iman mendalam.
Ringkasnya, bila kita mempunyai hubungan yang kuat dengan Tuhan, Dia tidak akan membiarkan kita untuk syaitan yang merupakan musuhNya dan musuh kita.
Mungkinkan jika kita taat dan setia padaNya, Dia tidak akan setia dan menolong kita?
“Penuhilah janji kalian kepadaKu, niscaya Aku memenuhi janjiKu kepada kalian” QS. Al Baqarah : 40
Inti yang saya dapatkan: Bersegeralah bergerak dalam kebaikan!
Saya pernah diskusi dengan kawan, kadang-kadang kita terlalu lamaa melakukan suatu kebaikan karena kita berpikir “Ini karena Allah bukan yaa? Aku takut niatku tidak sempurna, aku takut eksekusinya tidak sempurna dan nggak lurus…”
Sampai-sampai saya berpikir, melakukan sesuatu murni karena Allah itu seperti apa, sih? Lama sekali saya berpikir. Sehingga beberapa kebaikan pun tak jadi dilakukan.
Kemudian, kami menyimpulkan, ketika hendak melakukan sesuatu, just simply do it! Berharaplah supaya Allah memberikan pelajaran berharga agar kian dekat padaNya dalam melakukan pekerjaan itu.
Semakin kita bersegera menghiasi diri dengan amal, walau kita merasa masih metal (istilah saya, wkwk), semoga semakin ditolong Allah
“Jika kalian menolong Allah, niscaya Dia menolong kalian dan meneguhkan kaki kalian.” Muhammad : 7
2. Sering-sering baca kisah Nabi, Sahabat, Tabiin, dan Pengikut Tabiin
Fethullah Gulen berujar, sungguh indah jika kita setiap hari bisa membaca beberapa halaman tentang kisah para sahabat, tabiin, dan pengikut tabiin. Sungguh sangat indah jika kita bisa mewarnai kehidupan kita dengan mereka. Kita bisa bertanya,
“Mereka adalah muslim dan kita juga muslim. Mengapa mereka bisa seperti itu dan mengapa kita seperti ini?”
3. Menyeringkan kumpul dengan teman-teman yang dapat saling menasihati
Allah swt menciptakan manusia dengan fitrah yang cenderung berkumpul bersama orang lain. Manusia pasti membutuhkan satu sama lain baik secara materil maupun moril.
Kita tidak boleh menjauh dari teman-teman tulus kita. Terutama mereka dengan nasihat-nasihat yang senantiasa membuat kalbu kita tetap hidup.
Nasihat yang seperti apa? Fethullah Gulen menyebutkan: nasihat yang meningatkan kita kepada akhirat dan alam lain, serta membangkitkan cinta dan rindu.
Tiga poin itulah yang kudapat.
Semoga bermanfaat dan jadi pengingat, yah!