Pikiran tidak akan Mungkin Lupa Apa yang Hati Ingat.
Hidup itu, “Never ending learning.”
“Bila kamu tidak tahan lelahnya belajar, maka kamu harus tahan menanggung perihnya kebodohan.” - Imam Syafi'i rahimahullah.
Beberapa waktu lalu tertarik mengikuti Kulwap dengan mengusung topik: “Mendidik Anak Gerbang Awal Mendidik Diri Sendiri.”
Sebelum pemaparan materi oleh narsum Umm Khaulah M حَفِظَهُ اللهُ, moderator sudah terlebih dahulu membagikan materi berupa file pdf kepada para peserta.
Betapa banyak anak yang dikelilingi oleh fasilitas yang serba ada namun sejatinya jiwanya kosong, rapuh, hampa dari sentuhan kasih sayang.
Berapa kali kita khilaf mungkin sampai membentak, marah dengan mereka, karena kita sebagai orang dewasa menuntut anak-anak untuk mengerti diri kita.
Wahai orang tua, jika Anda tahu bagaimana hancurnya hati anak-anak kita ketika mereka mendengar bentakan dari mulut kita? Mungkin sepele, mereka hanya bertanya “Ini apa Ummi?”, “Itu apa Bunda?”, “Kenapa bisa gitu?”, namun seketika hati mereka hancur berkeping-keping ketika Anda memilih untuk membentak atau tak menghiraukannya.
Bagai paku yang telah dipukul palu. Mungkin kita bisa meminta maaf pada anak setiap malam sebelum tidur, dan melihat mereka kembali ceria seperti biasa. Namun, paku yang berhasil kita cabut tadi tentunya masih meninggalkan bekas. Begitulah dengan hati anak-anak kita.
Menanggapi materi di atas,
Q: Mengenai luka batin, seperti: akibat dibentak, dimarahi, dikritik, disalahkan, tersakiti oleh kata-kata, diremehkan, diabaikan, sehingga emosi tersebut terendap tidak tersalurkan dengan baik dan terekam di bawah alam sadarnya. Seberapa pengaruh hal ini? Padahal mereka masih anak-anak dan kadang belum paham terhadap apa yang dia rasakan.
A: Pengaruhnya sebenarnya cukup besar ya, dari rusaknya sel-sel otak anak yang mungkin tadinya mau bersambungan di dalam otaknya, putus rusak karena 1 bentakan. Dan di sini brain stem (batang otak) mereka jadi aktif. Ketika bagian dari otak ini dipicu, perilaku reaktif terjadi. Anak belum paham dengan apa yang dia rasakan semisal dia lagi kesal, sedih, takut dll itu perlu adanya penerimaan perasaan mereka dari kita orang tuanya. Kita labelling ke mereka di saat mereka sedih/menangis/senang. Contohnya misal: “Maaf ya, Ummi belum izinkan. Ummi tahu kamu sedih, tapi maaf ya tetap belum diizinkan.” Udah stop sampe situ, gapapa mereka nangis, kita terima aja perasaannya, nanti seiring waktu dia akan paham “Oh ini namanya sedih, gak enak ya, tapi Ummi sudah minta maaf kok sama aku, artinya Ummi bisa terima aku apa adanya.” (Ini bahasa dewasanya kitalah). Oiya jangan bilang anak-anak itu belum paham ya. Mereka paham tapi sudut pandang cara memahaminya tidak sekompleks kita orang dewasa. Anak-anak adalah manusia yang paling peka.
Q: Apakah anak yang sering dibentak dampaknya akan terbawa hingga dewasa?
A: Seumur hidup. Dan kalau tidak diputus mata rantai kekerasan verbal/fisik, dia akan meneruskannya kembali ke anak cucunya. Na’udzu billah min dzalik.
Meski secara pribadi belum menjadi orang tua, hal di atas tentu pernah dialami oleh setiap anak. Hal yang nantinya menjadi kesadaran bagi diri sendiri dalam mendidik anak yaitu mendidik tanpa meninggalkan kenangan yang buruk. Karena pikiran tidak akan mungkin lupa apa yang hati ingat. Hati-hati.
Dalam praktiknya mungkin tidak semudah itu, karenanya dibutuhkan ilmu yang mumpuni, kesabaran, keikhlasan, iringan doa yang kuat serta kesalehan kedua orang tuanya.