“𝐓𝐮𝐡𝐚𝐧, 𝐓𝐚𝐤𝐝𝐢𝐫, 𝐝𝐚𝐧 𝐊𝐞𝐬𝐢𝐚𝐩𝐚𝐧 𝐃𝐢𝐫𝐢”
Kita sering merasa bisa menentukan jalan hidup kita sendiri. Padahal, ketika kita berusaha sekuat tenaga, hasil akhirnya tetap ada di tangan Tuhan. Kadang kita menganggap usaha kita sia-sia, padahal di situlah Tuhan menunjukkan kuasa-Nya. Manusia sering kali angkuh, merasa mampu mengendalikan segalanya, padahal sejatinya kita sangat kecil di hadapan-Nya.
“𝘉𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘯𝘤𝘪 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶, 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘩𝘢𝘭 𝘪𝘵𝘶 𝘣𝘢𝘪𝘬 𝘣𝘢𝘨𝘪𝘮𝘶, 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘶𝘬𝘢𝘪 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶, 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘩𝘢𝘭 𝘪𝘵𝘶 𝘣𝘶𝘳𝘶𝘬 𝘣𝘢𝘨𝘪𝘮𝘶. 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘵𝘢𝘩𝘶𝘪, 𝘴𝘦𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘵𝘢𝘩𝘶𝘪.” (𝘘𝘚. 𝘈𝘭-𝘉𝘢𝘲𝘢𝘳𝘢𝘩: 216)
Jangan bersedih. Tuhan hanya ingin membuktikan bahwa Dialah Yang Maha Kuasa. Jika kita berpikir bisa menentukan yang terbaik, maka Tuhan akan menjawab dengan ketetapan-Nya. Semakin kita merasa mampu mengatur segalanya, semakin Tuhan menunjukkan bahwa hanya Dia yang berkuasa. Maka, tugas kita adalah bertawakal dan mempersiapkan diri, bukan sekadar meminta.
Ketika logika (𝙗𝙪𝙧𝙝𝙖𝙣𝙞) tak lagi mampu menjelaskan, dan konsep normatif (𝙗𝙖𝙮𝙖𝙣𝙞) pun tak bisa memberi jawaban, maka pengalaman spiritual (𝙞𝙧𝙛𝙖𝙣𝙞) akan memimpin perjalanan hidup kita. Itulah pendekatan yang digunakan dalam Muhammadiyah. Tuhan sering kali menjauhkan sesuatu yang kita inginkan sebagai bentuk kasih sayang-Nya. Sebab Dia tahu apa yang tidak kita ketahui.
“𝘋𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘢𝘸𝘢𝘬𝘢𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩. 𝘊𝘶𝘬𝘶𝘱𝘭𝘢𝘩 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪 𝘗𝘦𝘭𝘪𝘯𝘥𝘶𝘯𝘨.” (𝘘𝘚. 𝘈𝘭-𝘈𝘩𝘻𝘢𝘣: 3)
Secara normatif, 𝘼𝙡-𝙌𝙪𝙧’𝙖𝙣 𝙙𝙖𝙣 𝙃𝙖𝙙𝙞𝙨 telah menjelaskan ini. Namun, dalam 𝙛𝙞𝙡𝙨𝙖𝙛𝙖𝙩, ada konsep bahwa semakin kita memaksakan air untuk mencapai muara, semakin besar hambatan yang akan dihadapi—begitulah dalam 𝙏𝙖𝙤𝙞𝙨𝙢𝙚. Dalam ilmu modern seperti 𝙇𝙖𝙬 𝙤𝙛 𝘼𝙩𝙩𝙧𝙖𝙘𝙩𝙞𝙤𝙣, semakin kita berkata “𝙖𝙠𝙪 𝙞𝙣𝙜𝙞𝙣”, alam bawah sadar justru menangkapnya sebagai “𝙖𝙠𝙪 𝙗𝙚𝙡𝙪𝙢 𝙥𝙪𝙣𝙮𝙖”, sehingga keinginan itu semakin jauh. Sebaliknya, jika kita ingin sesuatu, maka kita harus bertindak seolah kita sudah memilikinya. Itulah proses mempersiapkan diri.
Jika ingin berhaji, maka lakukanlah manasik terlebih dahulu. Jika ingin kaya, maka belajarlah memberi. Jika ingin tinggi, maka rendahkanlah hati. Jika ingin hidup penuh nikmat, maka bersyukurlah. Jangan hanya sibuk meminta, tetapi siapkanlah diri untuk menerima apa yang kita pinta.
“𝘚𝘦𝘴𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘣𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘢𝘥𝘢𝘢𝘯 𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘬𝘢𝘶𝘮 𝘩𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘣𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘢𝘥𝘢𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪.” (𝘘𝘚. 𝘈𝘳-𝘙𝘢’𝘥: 11)
𝗧𝘂𝗵𝗮𝗻 𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶, 𝗸𝗲𝘁𝗶𝗸𝗮 𝗸𝗶𝘁𝗮 𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝘀𝗶𝗮𝗽 𝗺𝗲𝗻𝗲𝗿𝗶𝗺𝗮𝗻𝘆𝗮.
Setiap persoalan yang kita hadapi, Tuhan selalu memberikan jawabannya—lewat firman-Nya, lewat peristiwa-peristiwa dalam hidup, atau bahkan lewat orang-orang di sekitar kita. Tidak ada yang kebetulan.
𝐂𝐭𝐭 - 𝐄𝐰𝐢𝐚 𝐩𝐮𝐭𝐫𝐢













