"Semoga dunia selalu mengizinkan mereka untuk saling mencintai, meski hanya bisa sekeras jantung berdetak—tidak begitu nampak, tapi dapat terasa jelas saat kau mendekat."
cherry valley forever
Monterey Bay Aquarium
Peter Solarz

No title available

Andulka
noise dept.

if i look back, i am lost
Lint Roller? I Barely Know Her
Jules of Nature
Misplaced Lens Cap
Claire Keane

⁂

★
Stranger Things
official daine visual archive
sheepfilms

ellievsbear
🪼
d e v o n
wallacepolsom

seen from United States

seen from India

seen from Singapore
seen from United States
seen from United States
seen from Spain

seen from New Zealand

seen from United States
seen from Canada

seen from Malaysia

seen from India
seen from United States

seen from United States

seen from Malaysia
seen from Nepal

seen from Malaysia
seen from United States
seen from Türkiye

seen from Malaysia

seen from United States
@sacredmassacre
"Semoga dunia selalu mengizinkan mereka untuk saling mencintai, meski hanya bisa sekeras jantung berdetak—tidak begitu nampak, tapi dapat terasa jelas saat kau mendekat."
Aku 'tak mengerti kenapa puisi harus ditulis dengan ritme; tidak membiarkan mulut bersyair merdu sesuai keinginan indranya. Apakah dalam mengekspresikan diri di buku pun tetap tidak bisa bebas, karena masih perlu tunduk kepada hierarki ujung kata, bahkan memperhatikan pelafalannya saat lidah berdansa? Memilah diksi per diksi, metafora terukir, kalimat pahit ditulis manis—mungkin ada baiknya aku 'tak acuh pada hal ghaib. Ribet. Rebel. Ritme.
Barangkali akan ada masanya aku menggandeng erat sukmamu di lorong.... Aku memakai gaun hasil peluh, sedangkan kau dibalut wira untuk maju lebih dulu—karena aku sangat malu sampai-sampai akan mati membeku kalau 'tak ada kamu. Terimalah janji ini jika kita cukup beruntung dalam miliki tempat yang telah ditunggu. Buka lebar tanganmu, lalu pegang apa yang kuberi; jangan sampai ada yang melirik. Setelahnya, tolong dekap aku bersama gaun pengantinku, sebelum angan menyadarkan siapa kita dan di mana kita berada.
Andaikan kita bisa bercumbu, bolehkah kuminta waktumu untuk sembuhkan pilu?
Dalam asbak, puntung rokok semu yang habis dikecup masih berkebul—hentinya jangan kau tunggu, 'bab kecupan itu terburu jitu ke jiwamu.
"Masamnya nular," cemberutnya kentara. Pasti tidak sedap, ya? Ternyata, apa yang dibagikan masih membuatmu sebal. Meski begitu, kau tetap saja rakus akan rasa sepat, selagi itu milik pigura si Cindur Mata.
Sungguh 'tak adil kalau kau tau bahwa yang kuicip malah manis asih. Eh, bagaimana ini, kenapa pahitku racuni lidah semungil kucing? Padahal, aku pulang bawa maksud rezeki, lain buat udi.
Selagi kau singgah menggarap resah, egois kah aku 'tuk minta disayang hingga pagi singgah? Hawa malam benar-benar menyiksa; maka, kasihanlah. Hanya kaulah yang cintanya pantas kukenang.
Sayang, aku kurang ajar dan licik. Aku jadi malu 'karna menahanmu pergi—berharap kau tangguh akan pedih, siap berbagi kasih, serta rela aku ingkar janji—saat aku hanya miliki sepi dan nikotin.
Jika kau sanggup lanjutkan kalut, aku jelas akan sebut lebih dari itu: Aku punya mata yang jujur; 'tak kenal jenuh; pun mungkin, aku sedikit tau soal hidup.
Andaikan kau cukup hebat untuk mengenal pilu, bolehkah kita bercumbu secara tulus?
(2026.)
Father, forgive my sins.
The unpurity had touched my skin.
I wanted nothing much; am I forgiven?
Father, are you there? Are you forgiving?
I want to be someone's little cat that bites out of love and never get mad at, because that's just my instinct, to bite (like a cat carrying her kitten by its neck), and i should've never gotten into trouble simply for biting their arm.
Pus.
Ada banyak spesies di bumi kapitalis, serta segala jenis perbedaan mereka. Namun, aku merasa lebih familiar dengan hewan yang gampang ditemui; kucing, karena aku memang 'tak tau sisanya.
Kucing hitam, spesifiknya, yang kerap muncul dari kalang kabut hanya untuk difitnah sebagai pembawa sial oleh manusia besar yang pasti akan ditiru manusia kecil mereka.
Pembawa sial.
Pengundang kematian.
Cakarannya dapat mengoyak daging.
"Ih, Ayah!"
Lalu dipamerkannya telunjuk itu, sembari terpoles rasa takut.
Mungkin seperti itulah rasa familiar yang aku punya terhadap kucing hitam. Sudah diam pun masih ada saja bajingan yang meneriakkan kepercayaan gelapnya kepadaku. Walau harus aku akui, kucing memang banyak sekali tingkah lakunya. Barangkali wajar kalau-kalau ada yang tidak suka.
Selalu memecahkan kaca, tidak mau makan jika bukan camilan kecil, dokter dibuat bosan ketika melihat gejala yang dilebih-lebihkan untuk ketujuh kalinya, belum lagi semisal perlu terkena air.
Aduh, dinginnya! Aku malas untuk mandi, sumpah. Bukankah aku sudah mandi tiga bulan lalu?
Tidak apa, ah, kalau aku akan dihadiahi tidur 16 jam setelah ini. Awas saja kalau ada yang berani membangunkan, akan kupastikan bahwa aku betulan mengoyak daging mereka.
Atau sesuatu seperti itu.
Agar tidak sepenuhnya menjadi fitnah.
Menurutku, semua kucing memang seperti itu hakikatnya. Hanya saja beberapa dari mereka mendapatkan sedikit lebih kurang atas keberuntungan, dibandingkan mayoritasnya—seperti aku, misalnya, seperti kucing hitam. Sudut pandang nenek-nenek terhadap kami selalu saja mengerikan.
Maaf, deh, aku terlihat seperti pembawa sial dan akan menggigit buku-buku jarimu saat kau datang hanya untuk membelai sedikit. Masih pantaskah aku untuk mendapatkan sebuah elusan di kepala? Maukah kau berjanji untuk mengelus hanya di kepala? Atau bahkan sudikah kau untuk mendekat kepada kucing penuh fitnah—melihat dengan pemahaman, tanpa rasa najis mencuat lewat mata?
Even when darkness strikes and light’s gone from esse, I’d never vamoose into the sea. You’d get a glimpse of the spot I am currently at. I wouldn’t leave you clueless like you did me.
It's my 1 year anniversary on Tumblr 🥳 it's one month late but whatever.
And if fate has swore you to me, would you lend a mere kiss on my scratched lips; to help the hurt breathe?
Bahuku kau mamah, tuai lara bak 'nginang. Serupa bernga, lambung juga kuuji lemah. Budeg dongo aku menegai lolongan bersumpah: "Mati saja kita, Tuan, terbunuh oleh taring sesama." Tapi kau malah tunjukkan sikap cuekmu, lalu napas selayaknya manusia. Kurang ajar! Babi juga najis disandingkan dengan kau. Buat apa paru memompa? Buat apa? Kurang dalam kah grogotan ini? Goblok, malu rasanya. Kau kunyah bahuku semudah kotori baju, tapi gigi yang patah seolah hanya pertunjukan melankolis bagi seorang apatis. Sia-sia jika kubelah dadamu dalam keadaan sudah mayit. Sumpah, aku goblok.
I'd rather get my chest punched, if it means I could feel your touch... for oncemore—longing turned views. Delusions lulled lies to crave more of your love. Teeth-marked neck and roughly held wrists; affections, no?
every love poem has your face in it, drawn as words my eyes would gladly adore. are you a poet, love, since when you speak you're wise and lovely? a sentence through your tongue soothe a harsh cold on my feet. hence, you're an unborn poet with the truest mouth in my ears.
Hidup lebih lama, Cintaku.
Terkuncup, meringkuknya bunga dalam hatimu itu, beralasan kamu ini sudah layu, tidak layak diperebutkan bocah-bocah cewek 'tuk mereka jemput. Mengernyit kamu buat aku, Kak—bisa jadi kamu adalah sebuah putri malu, dan bukan si tua lusuh yang ingin gundul dari kelopak merahnya.
Satu-persatu kelopak pasti bakal lepas, rontok ke tanah! Dan mungkin bakal tumbuh lagi menjadi pohon manggis.
"Logis banget, Dek," sarkasmu.
Pemahamanku atas sindiran jangan pernah diragukan, tapi kubalas gurau saja, toh kamu sedang suntuk. "Oh, memang logis. Pernah kamu lihat orang menanam padi lalu panen beras? Itu bukti lain, Kakak."
"Padi 'kan memang akan menjadi beras, Sayang." Lantunan tawa gemas dilepehmu, seraya mencubit pipiku yang di matamu pernah menang gembul daripada cimol. "Ampun."
"Ya sudah, Adek salah kalau begitu." Bibirku merengut seolah menghembuskan asap rokok lintingan, dengan tembakau murahan dan kertas seadanya; walau aslinya bergelora jiwa ragaku mengetahui si Kasih masih dapat terhibur oleh lawakan garing milik yang lebih muda — bahkan suara krauk! ketika sampah tadi dilontarkan masih terbayang jelas di otak.
His rotten teeth were clenched, and his blood-hugged fists were loosen. Aimed unstable bombs at the culprit of his bleeding, yet shame he carried had filled his maze. Promises no one had kept, gave him the wrath that he had.
every love poem has your face in it, drawn as words my eyes would gladly adore. are you a poet, love, since when you speak you're wise and lovely? a sentence through your tongue soothe a harsh cold on my feet. hence, you're an unborn poet with the truest mouth in my ears.
God brings you clothed to spare some on my naked teeth, for me to rip whilst wait for His says on my sicking wounds. We beg: Bear, bear, do bear with it as we give you bittery flesh to puke. Rotten Meat loves Him, it does, yet He ignores then states, you sick fag! Can't I surprise? Can't we be?