Tentang Sunyi dan Sebuah Percakapan
Malam kembali tiba, dan seperti biasa, ia membawa keheningan yang paling jujur. Di luar jendela, sisa-sisa riuh jalanan seharian mulai padam, digantikan oleh dengung lirih pendingin ruangan. Kepalaku terasa penuh, sesak oleh rapat-rapat yang tak berkesudahan, tenggat waktu yang saling berkejaran, dan pertanyaan-pertanyaan sederhana dari orang rumah yang entah kenapa terasa begitu berat untuk dijawab.
Di usia tiga puluhan, aku sering mendapati diriku berdiri di persimpangan aneh: sebuah keinginan kuat untuk menyendiri, namun di saat yang bersamaan, ada kerinduan yang mendalam untuk berbincang dengan seseorang. Bukan sembarang perbincangan. Bukan basa-basi tentang cuaca atau keluhan soal pekerjaan. Aku merindukan sebuah dialog di mana hening di antara kata-kata sama berharganya dengan kata-kata itu sendiri.
Ada kalanya aku sengaja mematikan ponsel, menjauh dari layar, hanya untuk duduk diam di balkon. Aku butuh ruang untuk merapikan isi kepala yang terasa seperti kamar berantakan setelah pesta. Ada begitu banyak hal yang perlu disortir: kenangan masa lalu yang tiba-tiba muncul tanpa diundang, kecemasan akan masa depan yang terasa buram, dan evaluasi tanpa henti tentang pilihan-pilihan yang telah kuambil.
Kadang, aku merasakanĀ kenopsiaāperasaan ganjil saat melihat sebuah tempat yang biasanya ramai, kini kosong melompong. Seperti lorong sekolah di malam hari atau area perkantoran di hari libur. Hidupku terasa seperti itu kadang-kadang; sebuah panggung yang tadinya penuh dengan ambisi dan tawa masa muda, kini terasa lebih lengang, lebih sunyi.
Dan di tengah sunyi itulah, keinginan kedua muncul. Keinginan untuk didengarkan oleh orang yang tepat. Seseorang yang saat aku berkata, "Aku lelah," ia tidak langsung memberi nasihat, melainkan hanya mengangguk, seolah berkata, "Aku paham lelah yang mana yang kau maksud." Seseorang yang bisa kuajak bicara tentang lubang-lubang kecil dalam diriku tanpa merasa dihakimi.
Orang itu akan paham tentangĀ sonderāsebuah kesadaran mendadak bahwa setiap orang yang kita lewati di jalanan punya cerita, pikiran, dan masalah serumit dan sedalam kita sendiri. Bersamanya, aku tidak perlu menjelaskan kenapa aku bisa tiba-tiba diam. Dia tahu bahwa kadang, pikiran kita berkelana begitu jauh hingga butuh waktu untuk kembali. Kami bisa saja hanya duduk berdampingan, menyeruput kopi, dan membiarkan malam berbicara melalui bahasanya sendiri.
Ini bukan tentang kesepian. Aku tidak kesepian. Aku punya keluarga, teman, dan rekan kerja. Ini lebih tentang kebutuhan jiwa akan sebuah koneksi yang melampaui interaksi sosial biasa. Sebuah tempat aman untuk menjadi rapuh, tanpa harus selalu menjadi kuat.
Mungkin, untuk malam ini, cukuplah aku berbincang dengan diriku sendiri, ditemani secangkir kopi yang mulai mendingin. Menata ulang kepingan-kepingan pikiran, sambil berharap suatu saat nanti, ada seseorang yang datang, bukan untuk mengisi sunyiku, tapi untuk ikut duduk di dalamnya.