Toxic Relationship (2)
Salah satu kesalahan fatal dalam menjalin hubungan adalah ketika kamu terus menganggap bahwa dia pasti akan berubah, meski dia telah menyakitimu berkali-kali. Kamu pun merasa punya tanggung jawab untuk mendampingi dia menjadi pribadi yang lebih baik.
I felt like my mental health totally was in danger, but I loved him. Then, I choose to dare my own part.
Setelah beberapa kali melakukan upaya putus, akhirnya aku benar-benar berhasil memutuskan hubungan di bulan Januari 2019. Walaupun pada saat itu rasanya masih sayang, namun aku sadar kalau hubungan ini tentu nggak layak diteruskan.
Dia yang nggak terima, mulai sering memohon lewat chat, telepon, bahkan menemui secara langsung dan menyatakan kalau dia nggak bisa menjalani hari tanpaku. Dia berjanji akan berubah dan memperbaiki kesalahannya.
Kemudian keenggak relaannya mulai berkembang: beberapa kali dia berinisatif menghadiahkanku barang-barang seperti make up, tas, sepatu, dan sebuket bunga lengkap dengan suratnya. Di lain waktu, ia memberikan banyak makanan dan beberapa lembar surat.
Suatu pagi, dia tiba-tiba berada didepan rumah dan bersikeras mengajakku berbicara. Aku sangat panik lantaran selama ini aku berpacaran secara diam-diam tanpa diketahui orang tua. Mama kebingungan dan sedikit takut karena ada sesosok pria yang memaksa menemuiku dan mengetuk pagar rumahku dengan kencang. "Bon, mama takut kamu dilukain." Namun, aku berhasil menenangkan mama dan mengajaknya bicara.
Hingga suatu ketika, ia tahu aku sedang dekat dengan laki-laki lain, ia sangat marah dan semakin nggak terkendali.
Ia mulai berani memberikanku ancaman seperti: mau menghancurkanku, ingin melihatku menderita, bahkan ancaman yang mengarah ingin membunuhku.
Setiap kali bertemu di kampus, ia membuntutiku dan mengucapkan kata-kata yang menyakitkan sambil mengacungkan jari tengah. Hal itu menorehkan trauma sampai saat ini.
Beberapa hari setelahnya, dia mulai berani mengirimkan paket anonim ke alamat rumahku yang berisi ancaman. Totalnya ada 5 paket di waktu yang berbeda. Paket dengan isi yang bermacam-macam dan membuat hatiku hancur setiap kali membukanya.
Aku terpuruk sekali saat itu. Depresi benar-benar nyata. Setiap bangun tidur, yang kulakukan hanyalah menangis, nggak nafsu makan, nggak ada gairah dalam berkegiatan, bahkan beberapa kali terpintas ingin mengakhiri hidup.
Akhirnya, aku beranikan diri menceritakan ini ke kakakku. Ia memintaku untuk mengumpulkan semua barang bukti seperti seluruh paket ancaman, print out chat yang mengancam, serta beberapa voice note yang mendukung. Berkat dukungannya, aku merasa ada harapan yang bisa menyelamatkanku.
Kakakku menyusun sebuah rencana. Tentu rencana yang matang dan serius. “Ayo dek kita selesaikan ini. Tenang, kamu punya aku.” kalimat tulus darinya yang perlahan menguatkanku.
Beberapa hari kemudian setelah kejadian demi kejadian tersebut, aku dan kakakku ditemani oleh dua orang aparat mendatangi rumahnya untuk menemui mantanku dan ibunya. Selain membawa barang bukti ancaman, kakakku juga menyiapkan surat perjanjian yang akan mengikatnya untuk tidak menggangguku lagi.
Kejadian itu sangat menyakitkan sekaligus melegakan. Aku tak kuasa melihat tangis ibunya pecah karena nggak tahu kejahatan yang dilakukan anaknya terhadapku. Rasanya, aku nyaris pingsan karena sangat emosional kala itu.
Akhirnya, ia mengakui segala kesalahannya dan berjanji nggak akan mengulangi perbuatannya. Dia dan ibunya menanda tangani sebuah surat perjanjian dengan catatan: apabila dilanggar, ia akan menerima konsekuensi hukum yaitu dipenjara.
Hari ini, sudah lebih dari setahun kejadian itu berlalu. Lukanya masih terasa, traumanya masih ada. Namun aku percaya aku sudah jauh lebih kuat dan sadar untuk menjalin hubungan yang sehat kelak.
I have spent too much of my time and my energy in a toxic relationship. Now, it’s time to take care of me, to pursue my dreams, and to live my life.
@henniarum @adhit21 @gugunm @mathmythic @sekotenggg
















