Toxic Relationship
Aku pernah terlibat dalam sebuah hubungan yang toxic dan abusif. Hubungan yang selalu membuatku takut untuk mengakhiri, dan berujung pada kesulitan memaafkan diriku sendiri.
Hubungan ini aku jalani selama 3.5 tahun lamanya. Tentu pada awalnya aku berekspektasi untuk bahagia dalam menjalani hubungan. Aku berekspektasi akan menjalani hubungan yang bisa saling belajar dan mendewasakan, serta dapat terus dijaga hingga ke tahap yang lebih serius.
*Tarik nafas.. Baik aku mulai bercerita
Aku memutuskan berpacaran dengannya setelah 2 bulan perkenalan. Dia orang yang humoris, baik, sederhana, dan pemberani. Selalu ada kejutan sederhana yang berarti darinya, seperti tiba-tiba membawakan makan siang, inisiatif mengantar jemput, dan memberikan hadiah kecil.
Namun diawal pacaran, terdapat hal aneh yang tidak kusadari: dia meminta password semua media sosialku dan berinisiatif memblokir beberapa teman pria. Katanya. dia ingin dijadikan yang satu-satunya.
Lama kelamaan, dia mengatur caraku berpakaian, tidak boleh menggunakan make up, tidak boleh menghubungi teman laki-laki, bahkan apabila ada histori nama laki-laki di kolom search media sosialku, dia akan marah. Ia juga membatasi impian-impianku, salah satunya keinginanku dalam mempelajari alat musik. Baginya, hal itu bisa membuatku dikenal oleh lebih banyak orang dan berpotensi membuat hubunganku dengannya goyah.
Aku jadi terbiasa dengan pola pacaran yang nggak sehat, dan aku perlahan-lahan memberlakukan pola dan standard yang sama. Jadi, ketika dia melakukan kesalahan tersebut: aku bisa marah sejadi-jadinya dan merasa dikhianati.
Ada fase di mana aku sudah mulai berpenghasilan. Aku mulai menawarkan jasa illustrasi dan aktif magang di sebuah perusahaan saat masa libur kuliah. Dia yang melabeli dirinya sebagai anak broken home dan harus menjaga adiknya, lantas mulai minta dibelikan barang-barang keinginannya.
"Kamu kan udah punya gaji, aku belum. Kamu nggak maukah bikin aku seneng dengan beliin ini.. itu..ini.." Sampai aku merasa bosan, tapi aku paham betul bagaimana hancurnya hatinya semenjak perceraian orang tuanya.
Satu sisi, jiwa kepedulianku dibuat bimbang karena kondisinya membuatku selalu mudah merasa kasihan dan luluh.
Nyatanya, itu bukan tanggung jawabku untuk memastikan apakah dia bahagia dan memenuhi segala kebutuhannya.
Mulailah ia meminta dibelikan makanan, dibayarkan ongkos angkutan umum, dan meminta uang untuk membeli keperluannya.
Pernah suatu ketika ia membentakku di sebuah restoran karena tidak ingin membayar makanannya. Kejadian itu tak hanya terjadi sekali dua kali, aku semakin melihat ia mudah marah dan tempramen terhadap sesuatu.
Ia tak segan menunjukkan kalau ia nggak suka sesuatu dengan lantang. Pun, sering sekali aku melihat dengan mata kepalaku sendiri kalau ia berani main tangan atas sesuatu yang ia benci. Terkadang, ia juga mengeluarkan kata-kata yang merendahkanku dan membuat hatiku sakit. Namun, satut sisi ia begitu manipulatif hingga menekanku menjadi pihak yang bersalah dan harus meminta maaf.
Hal itu menjadi tamparan keras karena akulah yang mengizinkan dia dengan toxic traitsnya mendominasi dihubungan. Aku akhirnya merenung dan berpikir:
Lebih baik terlambat menyadari daripada terjebak seumur hidup.
Lantas, akhirnya dari sekian percobaan untuk memutuskan hubungan, Januari 2019 lah aku berhasil benar-benar melakukannya.
Eits, apakah bisa memutuskan orang tersebut dengan baik-baik?
Tentu tidak, Ferguso! Drama semakin memuncak karena ia menolak untuk putus dan mulai menerorku. Nanti akan aku ceritakan di 'Toxic Relationship (2)' ya!
@gugunm @adhit21 @sekotenggg @mathmythic @henniarum















