Opini Sebelum Menikah
"Udah lulus kuliah ya? Kapan nikah?"
"Calonnya mana nih? Kok nggak pernah liat?"
"Tante punya sepupu ganteng, lho! Abdi negara! Kamu mau liat nggak?"
Sebagai anak perempuan dengan usia 23 tahun, aku sudah cukup bosan dengan pertanyaan-pertanyaan senada.
Beberapa kali terpintas "Apa iya menikah semudah itu?", "Apa iya setelah menikah sudah pasti bahagia?", dan "Mungkinkah setelah menikah, hidupku terjamin selamanya?"
Maka, terpintaslah ide menulis cerita ini. Aku ingin mengemukakan 6 opiniku berupa hal-hal yang harus kulakukan sebelum memutuskan untuk menikah:
1. Mencintai Diri Sendiri Sepenuhnya Aku pernah mendengar Ario Pratomo, seorang Content Creator berkata: "Jangan berani menikah kalau kamu belum selesai dengan urusanmu sendiri." Kata-kata sederhana, namun maknanya dalam. Tentu sebelum menikah, aku harus terlebih dahulu selesai dengan urusanku sendiri. Bersahabat dan memaafkan hal-hal buruk yang pernah terjadi di masa lalu. Mencintai diri sepenuh-penuhnya.
2. Mengejar Cita-cita Selagi muda, selagi masih memiliki energi yang banyak, dan selagi mampu. Aku ingin meraih apa yang kucita-citakan sejak kecil. Bertemu lebih banyak manusia, melakukan hal-hal baru, memaknai perjalanan, dan berjalan ke tempat baru.
3. Mandiri Secara Finansial Aku belajar untuk menikah ketika kondisi keuanganku stabil dan aku memiliki keahlian yang bisaku kembangkan seiring usia. Tentu kita tidak bisa menebak takdir dan masa depan. Seandainya terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dan memaksaku (sebagai istri) untuk memegang kendali, aku tidak bisa begitu saja pasrah dan berpangku tangan.
4. Menjadi Lebih Dewasa Meskipun ada ungkapan "Usia nggak berpegaruh pada kedewasaan seseorang." Namun, berkaca dari diri sendiri, kurasa emosiku yang masih belum stabil masih harus terus dievaluasi. Tentu aku nggak mau selama pernikahan didominasi dengan cekcok karena ego yang tinggi.
5. Membangun komunikasi Yang Sehat Masalah akan selalu ada dalam hubungan. Seiring bertambahnya usia, masalah bisa jadi menguatkan hubungan, atau justru melemahkan. Temukan seseorang yang memelukmu ketika kamu melakukan kesalahan. Temukan seseorang yang teguh membangun komunikasi yang sehat, tanpa merendahkan, tanpa menjatuhkan pasangan.
6. Luwes Dalam Menyatukan Dua Keluarga Karena keseriusan menikah bukan cuma soal aku dan pasangan. Tapi juga menyatukan dua keluarga dengan dua budaya dan kebiasaan yang berbeda. Aku harus menerima dia dan orang tuanya, adik dan kakaknya, neneknya, semua keluarganya. Sekarang waktunya mempersiapkan diri agar lebih luwes ketika bertemu keluarga pasangan.
Yang pasti, Menikah bukan soal kompetisi. Menikah juga bukan solusi untuk mengakhiri drama-drama personal kehidupan. Menikah tentu membutuhkan kesiapan jiwa dan raga yang matang dan selaras.
Jadi, mohon untuk saat ini jangan tanya dulu: “Kapan menikah?”
@ceritacita @sekotenggg @pcltelor @mathmythic @adhit21




















