Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ

izzy's playlists!
h
noise dept.

No title available
No title available
occasionally subtle
Show & Tell
sheepfilms
Mike Driver
almost home
ojovivo
Peter Solarz

JVL
Sade Olutola
🪼
NASA
KIROKAZE
RMH
art blog(derogatory)
seen from United States

seen from Ukraine

seen from Australia

seen from United States
seen from Germany
seen from Malaysia
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from Canada

seen from United Kingdom

seen from United States

seen from Australia

seen from Brazil

seen from United States

seen from United States
seen from Singapore

seen from Brazil
seen from United States

seen from United States
@sepraha
Siapapun kamu, jika kamu harus selalu menjelaskan bagaimana kamu ingin diperlakukan dengan baik dan seharusnya, itu berarti kamu berada ditangan orang yang salah..
Sebab orang yang benar-benar perduli tak memerlukan buku panduan
Berserakan
Beradu argumen dengan orang yang selalu punya cara untuk "menjadi korban" bukan lah jalan yang tepat. Lebih baik tuli, dan pergi dengan harga diri.
Ujian bisa datang dari mereka yang kamu cintai
ujian yang datang dari orang-orang terdekat yang paling kita cintai
Allah menyingkap sifat asli mereka, itu bukanlah pertanda Allah membenci diriku, dirimu atau kita. Sebaliknya, itu adalah tanda cinta-Nya yang mendalam agar kita tidak salah menaruh harapan
Allah "membuka" sifat asli mereka untuk memberitahu kita bahwa tidak ada manusia yang sempurna dan tidak ada tempat bergantung yang abadi selain Allah
"Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah fitnah (ujian/cobaan), dan di sisi Allah pahala yang besar." (QS. At-Taghabun: 15)
Allah ingin kita berhenti bersandar 100% pada manusia. Ketika kita kecewa, kita dipaksa untuk kembali hanya ke Allah, itulah namanya tawakkal.
Ujian yang berat apalagi dari orang terdekat adalah cara tercepat untuk menghapus dosa dan menaikkan derajat di sisi Allah, asalkan kita menyikapinya dengan sabar
Jangan berharap balasan dari mereka. Berharaplah balasan dari Allah. Jadikan pengorbanan kita selama didunia ini sebagai tabungan akhirat, bukan investasi duniawi
Saat Allah menunjukkan sifat asli mereka, itu adalah jawaban atas doa-doa kita tentang "kebaikan hidup".
Mungkin, ini adalah cara Allah berkata:
"Aku akan menjauhkanmu dari ketergantungan pada manusia, agar kau sadar bahwa hanya Aku tempat kembali terbaik."
Ujian bisa datang dari mereka yang kamu cintai
ujian yang datang dari orang-orang terdekat yang paling kita cintai
Allah menyingkap sifat asli mereka, itu bukanlah pertanda Allah membenci diriku, dirimu atau kita. Sebaliknya, itu adalah tanda cinta-Nya yang mendalam agar kita tidak salah menaruh harapan
Allah "membuka" sifat asli mereka untuk memberitahu kita bahwa tidak ada manusia yang sempurna dan tidak ada tempat bergantung yang abadi selain Allah
"Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah fitnah (ujian/cobaan), dan di sisi Allah pahala yang besar." (QS. At-Taghabun: 15)
Allah ingin kita berhenti bersandar 100% pada manusia. Ketika kita kecewa, kita dipaksa untuk kembali hanya ke Allah, itulah namanya tawakkal.
Ujian yang berat apalagi dari orang terdekat adalah cara tercepat untuk menghapus dosa dan menaikkan derajat di sisi Allah, asalkan kita menyikapinya dengan sabar
Jangan berharap balasan dari mereka. Berharaplah balasan dari Allah. Jadikan pengorbanan kita selama didunia ini sebagai tabungan akhirat, bukan investasi duniawi
Saat Allah menunjukkan sifat asli mereka, itu adalah jawaban atas doa-doa kita tentang "kebaikan hidup".
Mungkin, ini adalah cara Allah berkata:
"Aku akan menjauhkanmu dari ketergantungan pada manusia, agar kau sadar bahwa hanya Aku tempat kembali terbaik."
tubuh tidak pernah benar-benar
meminta izin untuk lelah.
ia hanya tiba-tiba
berat
di tempat yang tidak bisa kamu tunjuk.
bukan di lutut, bukan pula di bahu.
di suatu tempat
di antara
masih bisa
dan
sudah tidak mau.
dan menyerah pun butuh tenaga
yang tidak kamu punya.
jadi kamu hanya
terus.
—arsualas | Begitu Saja
"Emang bener ya satu satunya manusia yang bisa kasih cinta exactly kayak yang lo mau tuh cuma diri lo sendiri."
Kurang lebih begitu kalimat yang kulihat seseorang lemparkan di Threads. Entah itu pernyataan atau pertanyaan.
Mungkin bukan hal yang terlalu penting untuk dijawab, tapi tetap kujawab juga. Waktu itu aku menulis kira-kira begini:
Sejujurnya aku tidak menjawab itu sekadar nimbrung seperti kebiasaan orang-orang di Threads.
Aku juga menjawab bukan dengan maksud menolak premisnya. Karena orang lain tidak punya akses langsung ke dalam kepala kita, tentulah diri sendiri memang yang paling tahu kebutuhan dan bentuk cinta yang paling pas untuk diri kita.
Aku menjawab karena merasa agak tersentil, hehe.
Tersentil, karena sebagai seseorang—seperti beberapa atau kebanyakan orang—yang ketika menyukai orang lain terbilang mau berusaha memahami mereka sebaik yang aku bisa, gagasan bahwa “hanya diri sendiri yang bisa memberi cinta yang benar” terasa agak tidak adil.
Penafian. Pada akhirnya, ini memang cuma tulisan pembelaan.
Pembelaan bahwa, cinta sebagai usaha, bukan presisi sempurna. Karena hubungan manusia hampir selalu berputar di: mendekati, menebak, kadang salah, lalu mencoba lagi. Bahwa nilai dari pilihan dan kesediaan seseorang menyeberang keluar dari dirinya sendiri untuk belajar memahami orang lain saat mereka atau kita tidak punya kewajiban untuk melakukannya, tapi memilih untuk mencoba, itu juga berarti sesuatu. Bahwa narasi yang terlalu individualistis seperti “hanya diri sendiri yang bisa mencintai diri sendiri dengan benar” bisa terasa mengecilkan usaha orang lain. Seolah usaha orang lain tidak ajan pernah cukup.
Pembelaan pada, kalau aku saja masih melakukan itu saat menyukai seseorang, bagaimana aku bisa percaya bahwa di dunia ini tidak ada lagi orang yang mau berusaha memberi cinta kepada orang lain sebaik yang mereka bisa—terlepas dari apakah hasilnya selalu sesuai kemauan dan harapan atau tidak?
Memang cuma pembelaan untuk keyakinan kecilku bahwa usaha memahami orang lain juga layak disebut cinta, meskipun di kalimat pemilik utas juga tidak bilang kalau usaha memahami orang lain tidak layak disebut cinta, dan hanya menekankan bahwa self-love adalah bentuk cinta yang paling akurat terhadap kebutuhan kita.
Lalu beberapa menit setelahnya, utasnya hilang. Padahal kuingin tahu juga bagaimana orang-orang yang nimbrung selain aku, memaknai ide itu.
Kalau cinta hanya dinilai dari seberapa tepat seseorang memenuhi kebutuhan sesuai kemauan kita, maka hampir semua cinta dari orang lain akan selalu gagal sejak awal. Orang lain akan selalu berada di posisi yang kalah, karena standar pembandingnya adalah seseorang yang mustahil mereka kalahkan, yaitu diri kita sendiri yang tahu segalanya tentang kita.
Cinta dari orang lain memang hampir selalu tidak presisi, tapi bukan berarti tidak cukup berarti.
Suara Hati
Pengalaman hidup mengajarkanku untuk lebih mendengar apa kata hati. Jangan sampai bertahun-tahun mengkhianatinya. Lebih peka membaca situasi dan membaca karakter seseorang.
Seseorang telah hidup dengan cara berpikir dan karakternya seumur hidupnya, tidak mudah untuk berubah seketika. Apalagi mempercayainya bahwa ia telah berubah. Sama sekali tidak, justru semakin menjadi-jadi.
Dan aku tidak bisa hidup dalam kerangka berpikir semacam itu. Lebih baik pergi. Tinggalkan. Karena jika terlalu lama, ia akan menggerogoti nilai-nilai yang aku yakini. Menjadikanku manusia yang tak berhati, berpikir dalam bidang hitam dan putih tanpa empati.
Merasa paling baik dan paling menderita. Merasa diri adalah segala-galanya dan orang lain tidak penting. Semua nilai yang tak sesuai, jangan dibiarkan menggantikan apa yang telah kuyakini selama ini.
Dunia ini berputar.
Seseorang akan terus diuji oleh apa yang paling ia takuti dan sayangi. Agar jangan sampai, aku diuji berkali-kali hanya karena aku tuli tak mendengar apa kata hati, KG
Simfoni Tak Sama
Tak perlu mencuri pandang pada lintasan yang bukan milikmu, tiap telapak kaki memiliki peta dan rahasianya sendiri. Biarkan detak menuntunmu pada jalan yang telah digariskan, tanpa perlu merasa tertinggal oleh binar yang tampak di mata orang lain.
Menjadi rapuh bukanlah sebuah kekalahan atau tanda bahwa kau telah hancur, itu adalah bukti bahwa jantungmu masih berdenyut dengan hangat, bahwa kau adalah makhluk yang memiliki rasa dan batas yang nyata. Tak selamanya harus berdiri tegak menantang angin yang kencang.
Tanggalkan topeng yang memaksamu untuk selalu tampak pahlawan di hadapan dunia, tak ada kewajiban untuk memahat tawa saat batinmu sedang merintih perih. Kau berhak atas segala emosi yang hadir tanpa perlu merasa bersalah.
Sangat lumrah jika hari ini kamu merasa sedang tidak berdaya, karena keberadaan paling murni, duka adalah tamu yang sah untuk disambut. Hingga nanti kesiapan itu datang kembali bersama fajar yang baru.
Jujurlah pada lukamu, agar ia tahu cara untuk pulih.
Abis nonton Escape, doa ini gue catet di dalem kepala, karena sebagai manusia yang pikirannya sering kusut dengan berbagai macam penyesalan dan what ifs, wording doa ini pas banget buat gue:
"Yaa Allah, berikanlah aku kesabaran dalam perkara yang tak bisa aku ubah, berikanlah aku kemampuan dan kekuatan dalam perkara yang bisa aku ubah, dan berikanlah aku kebijaksanaan untuk membedakan antara keduanya."
Baik-baiklah Pada Tubuhmu
Baik-baiklah pada tubuh yang kaupinjam untuk mengendarai kehidupan ini.
Tubuh ini bukan sekadar wadah daging dan darah. Ia adalah teman setia yang membantumu melukis kisahmu di kanvas kehidupan yang luas ini. Melukislah bersamanya dengan hormat. Sentuhlah dunia ini tanpa menyakiti, bergeraklah dengan kehati-hatian yang menyejukkan.
Setiap emosi negatif yang kita “coba simpan” di dalamnya sebenarnya merusaknya perlahan. Mengapa cemari dia dengan dendam, kemarahan, atau iri hati, padahal setiap selnya siap untuk merasakan, menyentuh, dan memberi kehidupan?
Baik-baiklah pada tubuh. Jadikan ia wadah kesadaran, sarana moral, dan rumah bagi kebaikan yang bisa kau sebarkan.
Tidak ada pilihan selain menjadi kuat.
Untukmu, yang Tengah Belajar Melepaskan
Aku melihatmu tak hanya dengan mata, tapi juga dengan seluruh pemahaman yang kupunya. Aku melihat bagaimana langkahmu kadang goyah, bagaimana hatimu berkali-kali terlipat dalam ragu. Aku melihat bagaimana kau memegang luka itu dengan gemetar, seperti menimbang-nimbang apakah harus kau genggam lebih erat atau lepaskan.
Aku ingin kau tahu, tak ada yang salah dalam mencintai. Hanya memang ada yang perlu diperbaiki dalam cara kita bertahan. Dan kau kini sedang mengajarkan dirimu sendiri untuk bertahan dengan cara yang lebih sehat, mungkin juga lebih kuat. Aku menyaksikan itu dan aku bangga padamu.
Kesedihan yang kau rasakan bukan tanda kelemahanmu, tetapi bukti betapa besar hatimu. Kau hanya perlu mengingat bahwa cinta yang layak untukmu tidak akan membuatmu merasa kecil di dalamnya.
Jangan terburu-buru memadamkan luka itu. Biarkan ia membimbingmu pada pemahaman yang lebih dalam tentang dirimu sendiri. Aku takkan meminta agar kau segera baik-baik saja. Aku hanya ingin kau tahu bahwa kau berhak menjadi lebih utuh, tanpa perlu mengorbankan dirimu untuk orang yang tak tahu cara mencintai dengan benar.
Jika kau ragu, tengoklah ke dalam dirimu. Di sana ada jawaban, ada cahaya, ada keteguhan yang tengah bertumbuh. Dan saat kau siap, kau akan berjalan tanpa menoleh lagi, kau akan memahami bahwa dirimu pantas melangkah lebih jauh.
Aku di sini, mendukungmu dalam diam, mengagumi kekuatan yang mungkin belum kau sadari sepenuhnya. Dan kapan pun kau butuh diingatkan bahwa kau tak sendiri dalam perjalanan ini, tengoklah ke arahku. Aku tetap dan selalu di sini, menyaksikanmu tumbuh.
iri
kalau dulu lebih sering iri sama orang-orang yang Allah lebihkan dalam fisik dan hartanya, sekarang lebih suka iri sama orang-orang yang Allah telah beri kemudahan dan kesempatan untuk bisa mengenal dirinya dengan baik. Paham dirinya mau dan butuh apa. Paham segala kekuatan dan kelemahannya. Dan bisa memanfaatkan segala kapasitas yang diberikan oleh Allah untuk bisa menjadi manusia yang bermanfaat dengan maksimal.
Seseorang yang sudah tahu apa yang ingin ditujunya, dan bagaimana cara mendapatkannya. Seseorang yang yakin dan mantap dengan setiap keputusan yang diambilnya. Seseorang yang dengan segala privilege yang diberikan Allah padanya, ia gunakan dengan baik.
Seseorang yang tidak mudah digoyahkan oleh hal yang tidak penting semisal pendapat orang lain dan perasaan sesaat yang hadir. Seseorang yang kokoh dengan prinsip hidup yang dipegangnya.
Sedang diri sendiri, sering kali kebingungan dengan apa yang sebenarnya hendak dituju. Masih kerap diguncangkan oleh perasaan sendiri, sehingga antara tujuan dan keinginan menjadi tidak lagi sejalan.
Oh Allah, di antara semua bentuk rezeki yang telah Engkau berikan kepadaku, tolong tambahkan rezekiku berupa kemampuan untuk bisa mengetahui apa yang sebenarnya terbaik untuk dunia dan akhiratku. Bantu aku untuk bisa menjadi sebaik-baik manusia ciptaan-Mu. Bantu aku untuk bisa memaksimalkan segala hal yang telah Engkau anugerahkan untuk bisa bermanfaat bagi diri dan orang-orang di sekitarku.
cc kang @yasirmukhtar
Sabar itu, ibarat sebuah payung. Dimana payung ngga bisa menghentikan hujan, tapi dengan payung Kamu bisa melewati hujan.
Begitupun dengan sabar ngga bisa menghentikan ujian, tapi dengan sabar kamu akan mampu melewati ujian.
Semua Masalah Pasti Punya Solusi
Pasti.
Saya percaya begitu karena premis berikut:
1. Dibutuhkan kecerdasan tertentu untuk menyelesaikan masalah. Semakin kompleks sebuah masalah, semakin tinggi requirement kecerdasannya. Kecerdasan di sini bukan sebatas kecerdasan akademis atau intelektualitas, tapi kecerdasan dalam makna luas. Jadi jangan insecure kalau IQ kita biasa aja.
2. Kita gak tahu batas maksimal dari POTENSI kecerdasan kita. Manusia itu didesain Allah untuk bisa belajar dan berkembang. Jadi jangan berpikir kamu yang sekarang adalah versi final. Kamu bisa jadi lebih cerdas dari yang sekarang. Kamu itu gak diciptakan sekali jadi, terus beres. Kamu itu masih dalam proses penciptaan. Tiap hari ada sel baru yang diciptakan di tubuh kamu. Adilnya Allah, sekarang kamu punya andil untuk ikut membentuk diri kamu.
3. Solusi suatu masalah itu bisa banyak dan bisa dalam bentuk yang berbeda dengan bayangan kita. Jadi jangan fixated alias ngotot solusinya harus sama dengan yang kita mau. Misal, seseorang yang kita cintai meninggal dunia dan kita berduka. Kita mau orang yang kita cintai itu hidup lagi. Apakah ada solusinya? Ada. Apakah solusinya menghidupkan orang mati? Bukan. Solusinya bisa jadi belajar memproses rasa duka, konsultasi ke psikolog, ikut komunitas, atau yang lain. Maaf, bukan bermaksud menggampangkan. Poinnya, solusi gak selalu bisa sama dengan kemauan kita. Tapi toh pada akhirnya ada cara untuk menghadapi masalah itu kalau kita cukup terbuka dan mau berusaha nyari.
Ini kesimpulan untuk menjahit semua premis itu.
Kalau kita terjebak sama suatu masalah, bisa jadi karena level kecerdasan kita saat ini ga cukup untuk menghadapi masalah itu. Kita butuh level kecerdasan yang lebih tinggi.
Kata Einstein, kita gak bisa menyelesaikan suatu masalah dengan tingkat berpikir yang sama dengan saat masalah itu tercipta. Karena bisa jadi asumsi, perspektif, dan metode kita adalah bagian yang membuat masalah itu tetap ada.
Kita perlu tanya diri kita sendiri:
"Apa hal fundamental yang belum aku tau tentang masalah ini?"
"Bagaimana orang lain menghadapi masalah ini?"
"Kenapa ada orang lain yang bisa sementara aku gak bisa?"
"Apa bedanya antara aku dan mereka?"
"Gimana hal-hal bekerja dalam situasiku sehingga menyebabkan masalah ini?"
"Apa hal-hal yang bisa aku intervensi yang kemungkinan mengubah keadaan?"
"Apakah solusi yang aku bayangkan memang satu-satunya solusi?"
"Apa aja hasil yang bisa aku harapkan kalau solusiku emang ga mendatangkan hasil yang kuharapkan?".
Tapi kalau kita udah berpikir, "Aku emang ga becus", "Emang nasibku gini", yaudah wasalam. Kamu baru saja membatasi nasib kamu sendiri.
Semua yang saya bicarakan ini pada dasarnya implementasi dari growth mindset.
Sepenting itu lho growth mindset.
Bapak, Maafin saya, Ya Pak
Tidak bisa tidur sampai dini hari dan tiba- tiba keinget bapak. Tiap kali menghadapi masa-masa sulit sebagai kepala keluarga, pasti ingetnya bapak.
Kadang-kadang kalau pikiran lagi negatif : suka heran kenapa orang sebaik bapak, orang yang sedari kecil bergelut dengan 'kesulitan', giliran mendekati waktu menikmati hasil usahanya malah lebih dulu dipanggil Allah.
Pak, bapak, maafin anakmu ya Pak, gara-gara kebebalnya bapak jadi lebih sulit hidupnya. Pak, bapak, maafin anakmu yang karena kearogannya bikin bapak masih harus kerja keras sampai usia senja.
Pak, bapak, maafin anakmu karena kebodohnya bikin bapak menelan lebih banyak kepahitan, bikin bapak berjuang lebih berat menahan ego, mengalah, membuang banyak keinginan bapak demi kesenangan anakmu ini.
Pak, bapak, maafin anakmu ya Pak, yang baru sekarang sedikit paham bagaimana beratnya tanggung jawab menjadi Bapak.
Pak, bapak, belum sempat anakmu ini sedikit pun membalas budi atas perngorbanan-pengorbananmu Allah udah panggil Bapak.
Pak, bapak, maafin saya, ya, Pak.
Pak, salam sayang dari cucu-cucu bapak, yang bahkan belum pernah melihat bapak.
Terima kasih ya, Pak, untuk semua perjuangan bapak. Saya sayang, bapak.