Apakah aku masih baik-baik saja?
23 Juli 2026
Today's Document

tannertan36

oozey mess
No title available

PR's Tumblrdome

#extradirty
No title available
taylor price
No title available
KIROKAZE
One Nice Bug Per Day
$LAYYYTER
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
The Bowery Presents

Jar Jar Binks Fan Club

pixel skylines
YOU ARE THE REASON

if i look back, i am lost
Cosimo Galluzzi

Product Placement
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from Brazil

seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia

seen from Malaysia
seen from Uruguay

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from India
seen from Australia
seen from Chile
seen from Chile

seen from Hungary
seen from Brazil
seen from United States
@sepraha
Apakah aku masih baik-baik saja?
23 Juli 2026
Kita bukan tidak suka dengan kebenaran. Terkadang, kita hanya tidak suka dengan caranya menyampaikan kebenaran.
Kelirunya, kita sulit memisahkan keduanya 🍂
Tauhid itu, menyerah. lakukan apa yang bisa kamu lakukan. kamu tidak diminta sempurna dalam melakukannya. kamu pun tidak diminta berhasil untuk menyelesaikannya. kamu hanya diminta melakukannya karena Allaah. apapun akhirnya itu bukan ranahmu, sekalipun itu tidak menyenangkan bagimu. sebab hal itu tidak luput dari pengawasan Allaah.
maka, sayang. jangan takut. jangan merasa kecil. bukan urusanmu menentukan apa yang kamu lakukan itu berguna atau tidak. bukan ranahmu menentukan apa yang kamu lakukan itu berhasil atau tidak. sebab itu ranahnya Allaah. kamu tidak boleh ikut campur. nanti kamu kalah. maka, sayang, sekali lagi, tak apa. selesaikan apa yang sudah kamu mulai. lakukan sampai akhir, lakukan dengan terbaik.
Allaah yang menentukan urusanmu berhasil ataupun gagal. Allaah sudah menentukan bagianmu, sekian dan sepersekian. lalu mengapa kamu merasa begitu khawatir. itulah mengapa kamu diminta untuk terus belajar, memperdalam ilmu terutama ilmu Tauhid. karena ketika keyakinanmu mulai goyah, ilmu Tauhid yang kamu pelajari akan memberikanmu pemahaman, bahwa semua ini adalah bagian dari ketetapan Allaah yang sudah ditetapkan.
maka, sayang. jangan menangis lagi ya. ketika kamu merasa begitu khawatir dan takut mintalah pertolongan Allaah dengan berdoa. katakan semuanya, kekhawatiranmu, ketakutanmu yang tidak berujung itu. Allaah akan menolongmu, sebagaimana pertolongan itu hadir ketika Nabi Musa alaihi salam dan kaumnya tersudutkan.
Tauhid itu, menyerah. maka serahkanlah semua khawatir dan ketakutanmu pada tempatnya. Allaah Maha Mendengar. Allaah Maha Tahu. jangan takut, sebab Allaah dekat.
Tidak semua hal harus ditanggapi..
Mendiamkan dan menjauhi mereka yang membuat hatimu sakit lebih baik daripada kamu mendebatnya...
Aku datang kepada-Mu
bukan membawa bunga-bunga indah.
Aku membawa keranjang tua
berisi takut, malu, dan kesalahan.
Beberapa isinya hampir busuk,
beberapa ingin kusembunyikan.
Tapi aku tahu,
tidak ada tempat yang lebih aman
untuk membawa semuanya
selain kepada-Mu.
Sabar itu bukan sifat bawaan, melainkan sebuah keputusan.
Mungkin pernah kita menjumpai betapa mungkin seorang yang diperlakukan dengan buruk sedemikian rupa, mengapa tidak membalas dengan perlakuan yang sama? Mengapa mereka tidak memilih untuk mengamuk, mungkin memaki balik, atau minimal menunjukkan bahwa mereka punya pilihan juga untuk membalas dendam?
Pertanyaan 'mengapa tidak' ini wajar muncul karena dunia terbiasa dengan reaksi instan. Kita sering mengira bahwa diam atau tidak membalas saat disakiti adlah tanda kalah, takut, atau karena orang tersebut tidak punya pilihan lain. Padahal, kenyataannya justru sebaliknya. Ada energi yang sangat besar yang sedang ditahan di dalam sana, dan ketidakmampuan orang lain untuk melihat energi itulah yang membuat tindakan ini terlihat membingungkan.
Pertanyaannya, lantas dari mana pilihan sabar itu hadir?
Ia tidak muncul begitu saja, dan jelas bukan bawaan lahir yang diwariskan daei ortu penyabar. Pilihan untuk sabar itu hadir dari kesadaran penuh atas nilai yang ia pegang teguh dalam diri. Seseorang memilih sabar karena mereka sadar, jika mereka ada hal yang lebih esensial ketimbang mencurahkan energi untuk hal yang tidak memberi feedback positif—baik untuk lingkungan, lebih-lebih untuk diri sendiri.
Sabar itu lahir dari sebuah keputusan berani untuk memberikan jeda. Jeda untuk berpikir jernih sebelum bertindak, dan jeda untuk bertanya pada diri sendiri: "Apakah orang ini layak membuat saya kehilangan kendali atas diri saya sendiri?" Ketika seseorang berhasil melewati jeda itu tanpa ikut menjadi orang jahat, di situlah sabar berubah dari sekadar menahan diri menjadi sebuah kemenangan mutlak.
Mereka berhasil menang, bukan dengan cara mengalahkan orang lain, melainkan dengan cara berhasil menguasai diri mereka sendiri. Begitu menawan memang orang-orang yang demikian itu. Mereka meang dan memilih kendali penuh yang ada pada dirinya. Sebuah watak yang bijaksana, dewasa yang tidak dibentuk dalam sekejap, maleinkan perenungan panjang dalam hidup yang ia laluinya.
Semoga kita bisa terus memilih untuk menang atas ego kita pribadi, tahu kapan dan bagaimana harus bersikap atau merespon keadaan.
Ya Allah, aku memohon kepada-Mu jiwa yang tenang, yang percaya akan bertemu dengan-Mu, yang rida atas ketetapan-Mu, dan yang merasa cukup dengan pemberian-Mu.
suatu saat, amarah-amarah itu akan membunuh kita
ego-ego itu akan membumikan kita
kebenaran itupun kadang ambigu
bagi kita benar, bagi orang lain bisa saja keliru, pun begitu sebaliknya
tidak akan ada kemenangan dari meyuapi ego-ego itu
semakin disuapi ia akan semakin besar, sakalinya runtuh ia akan menimbun kita pada kebinasaan
orang baik
kalau di dunia ini saya bisa milih mau jadi orang apa, rasa-rasanya saya cuma pingin jadi orang baik. nggak perlu jadi orang hebat, nggak perlu jadi orang terkenal, nggak perlu jadi orang kaya raya, tapi harus jadi orang baik.
nggak mau nyakitin siapa-siapa. nggak pingin bikin orang benci sama saya. nggak mau ambil hak orang lain. sebisa mungkin melebihkan timbangan. sebisa mungkin memaafkan. sebisa mungkin memenuhi janji. sebisa mungkin mengalah.
susah. karena saya sering salah, sering lupa, nggak banyak tahu, dangkal banget pemahamannya. susah. karena mungkin saya belum punya kapasitas jadi orang baik, karena di mata orang lain, sesekali saya penjahatnya.
saya suka sekali sama kata-kata ini: di dunia yang kamu bisa menjadi apa saja, pilihlah untuk menjadi orang baik.
Siapapun kamu, jika kamu harus selalu menjelaskan bagaimana kamu ingin diperlakukan dengan baik dan seharusnya, itu berarti kamu berada ditangan orang yang salah..
Sebab orang yang benar-benar perduli tak memerlukan buku panduan
Berserakan
Beradu argumen dengan orang yang selalu punya cara untuk "menjadi korban" bukan lah jalan yang tepat. Lebih baik tuli, dan pergi dengan harga diri.
Ujian bisa datang dari mereka yang kamu cintai
ujian yang datang dari orang-orang terdekat yang paling kita cintai
Allah menyingkap sifat asli mereka, itu bukanlah pertanda Allah membenci diriku, dirimu atau kita. Sebaliknya, itu adalah tanda cinta-Nya yang mendalam agar kita tidak salah menaruh harapan
Allah "membuka" sifat asli mereka untuk memberitahu kita bahwa tidak ada manusia yang sempurna dan tidak ada tempat bergantung yang abadi selain Allah
"Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah fitnah (ujian/cobaan), dan di sisi Allah pahala yang besar." (QS. At-Taghabun: 15)
Allah ingin kita berhenti bersandar 100% pada manusia. Ketika kita kecewa, kita dipaksa untuk kembali hanya ke Allah, itulah namanya tawakkal.
Ujian yang berat apalagi dari orang terdekat adalah cara tercepat untuk menghapus dosa dan menaikkan derajat di sisi Allah, asalkan kita menyikapinya dengan sabar
Jangan berharap balasan dari mereka. Berharaplah balasan dari Allah. Jadikan pengorbanan kita selama didunia ini sebagai tabungan akhirat, bukan investasi duniawi
Saat Allah menunjukkan sifat asli mereka, itu adalah jawaban atas doa-doa kita tentang "kebaikan hidup".
Mungkin, ini adalah cara Allah berkata:
"Aku akan menjauhkanmu dari ketergantungan pada manusia, agar kau sadar bahwa hanya Aku tempat kembali terbaik."
Ujian bisa datang dari mereka yang kamu cintai
ujian yang datang dari orang-orang terdekat yang paling kita cintai
Allah menyingkap sifat asli mereka, itu bukanlah pertanda Allah membenci diriku, dirimu atau kita. Sebaliknya, itu adalah tanda cinta-Nya yang mendalam agar kita tidak salah menaruh harapan
Allah "membuka" sifat asli mereka untuk memberitahu kita bahwa tidak ada manusia yang sempurna dan tidak ada tempat bergantung yang abadi selain Allah
"Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah fitnah (ujian/cobaan), dan di sisi Allah pahala yang besar." (QS. At-Taghabun: 15)
Allah ingin kita berhenti bersandar 100% pada manusia. Ketika kita kecewa, kita dipaksa untuk kembali hanya ke Allah, itulah namanya tawakkal.
Ujian yang berat apalagi dari orang terdekat adalah cara tercepat untuk menghapus dosa dan menaikkan derajat di sisi Allah, asalkan kita menyikapinya dengan sabar
Jangan berharap balasan dari mereka. Berharaplah balasan dari Allah. Jadikan pengorbanan kita selama didunia ini sebagai tabungan akhirat, bukan investasi duniawi
Saat Allah menunjukkan sifat asli mereka, itu adalah jawaban atas doa-doa kita tentang "kebaikan hidup".
Mungkin, ini adalah cara Allah berkata:
"Aku akan menjauhkanmu dari ketergantungan pada manusia, agar kau sadar bahwa hanya Aku tempat kembali terbaik."
tubuh tidak pernah benar-benar
meminta izin untuk lelah.
ia hanya tiba-tiba
berat
di tempat yang tidak bisa kamu tunjuk.
bukan di lutut, bukan pula di bahu.
di suatu tempat
di antara
masih bisa
dan
sudah tidak mau.
dan menyerah pun butuh tenaga
yang tidak kamu punya.
jadi kamu hanya
terus.
—arsualas | Begitu Saja
"Emang bener ya satu satunya manusia yang bisa kasih cinta exactly kayak yang lo mau tuh cuma diri lo sendiri."
Kurang lebih begitu kalimat yang kulihat seseorang lemparkan di Threads. Entah itu pernyataan atau pertanyaan.
Mungkin bukan hal yang terlalu penting untuk dijawab, tapi tetap kujawab juga. Waktu itu aku menulis kira-kira begini:
Sejujurnya aku tidak menjawab itu sekadar nimbrung seperti kebiasaan orang-orang di Threads.
Aku juga menjawab bukan dengan maksud menolak premisnya. Karena orang lain tidak punya akses langsung ke dalam kepala kita, tentulah diri sendiri memang yang paling tahu kebutuhan dan bentuk cinta yang paling pas untuk diri kita.
Aku menjawab karena merasa agak tersentil, hehe.
Tersentil, karena sebagai seseorang—seperti beberapa atau kebanyakan orang—yang ketika menyukai orang lain terbilang mau berusaha memahami mereka sebaik yang aku bisa, gagasan bahwa “hanya diri sendiri yang bisa memberi cinta yang benar” terasa agak tidak adil.
Penafian. Pada akhirnya, ini memang cuma tulisan pembelaan.
Pembelaan bahwa, cinta sebagai usaha, bukan presisi sempurna. Karena hubungan manusia hampir selalu berputar di: mendekati, menebak, kadang salah, lalu mencoba lagi. Bahwa nilai dari pilihan dan kesediaan seseorang menyeberang keluar dari dirinya sendiri untuk belajar memahami orang lain saat mereka atau kita tidak punya kewajiban untuk melakukannya, tapi memilih untuk mencoba, itu juga berarti sesuatu. Bahwa narasi yang terlalu individualistis seperti “hanya diri sendiri yang bisa mencintai diri sendiri dengan benar” bisa terasa mengecilkan usaha orang lain. Seolah usaha orang lain tidak ajan pernah cukup.
Pembelaan pada, kalau aku saja masih melakukan itu saat menyukai seseorang, bagaimana aku bisa percaya bahwa di dunia ini tidak ada lagi orang yang mau berusaha memberi cinta kepada orang lain sebaik yang mereka bisa—terlepas dari apakah hasilnya selalu sesuai kemauan dan harapan atau tidak?
Memang cuma pembelaan untuk keyakinan kecilku bahwa usaha memahami orang lain juga layak disebut cinta, meskipun di kalimat pemilik utas juga tidak bilang kalau usaha memahami orang lain tidak layak disebut cinta, dan hanya menekankan bahwa self-love adalah bentuk cinta yang paling akurat terhadap kebutuhan kita.
Lalu beberapa menit setelahnya, utasnya hilang. Padahal kuingin tahu juga bagaimana orang-orang yang nimbrung selain aku, memaknai ide itu.
Kalau cinta hanya dinilai dari seberapa tepat seseorang memenuhi kebutuhan sesuai kemauan kita, maka hampir semua cinta dari orang lain akan selalu gagal sejak awal. Orang lain akan selalu berada di posisi yang kalah, karena standar pembandingnya adalah seseorang yang mustahil mereka kalahkan, yaitu diri kita sendiri yang tahu segalanya tentang kita.
Cinta dari orang lain memang hampir selalu tidak presisi, tapi bukan berarti tidak cukup berarti.
Suara Hati
Pengalaman hidup mengajarkanku untuk lebih mendengar apa kata hati. Jangan sampai bertahun-tahun mengkhianatinya. Lebih peka membaca situasi dan membaca karakter seseorang.
Seseorang telah hidup dengan cara berpikir dan karakternya seumur hidupnya, tidak mudah untuk berubah seketika. Apalagi mempercayainya bahwa ia telah berubah. Sama sekali tidak, justru semakin menjadi-jadi.
Dan aku tidak bisa hidup dalam kerangka berpikir semacam itu. Lebih baik pergi. Tinggalkan. Karena jika terlalu lama, ia akan menggerogoti nilai-nilai yang aku yakini. Menjadikanku manusia yang tak berhati, berpikir dalam bidang hitam dan putih tanpa empati.
Merasa paling baik dan paling menderita. Merasa diri adalah segala-galanya dan orang lain tidak penting. Semua nilai yang tak sesuai, jangan dibiarkan menggantikan apa yang telah kuyakini selama ini.
Dunia ini berputar.
Seseorang akan terus diuji oleh apa yang paling ia takuti dan sayangi. Agar jangan sampai, aku diuji berkali-kali hanya karena aku tuli tak mendengar apa kata hati, KG
Simfoni Tak Sama
Tak perlu mencuri pandang pada lintasan yang bukan milikmu, tiap telapak kaki memiliki peta dan rahasianya sendiri. Biarkan detak menuntunmu pada jalan yang telah digariskan, tanpa perlu merasa tertinggal oleh binar yang tampak di mata orang lain.
Menjadi rapuh bukanlah sebuah kekalahan atau tanda bahwa kau telah hancur, itu adalah bukti bahwa jantungmu masih berdenyut dengan hangat, bahwa kau adalah makhluk yang memiliki rasa dan batas yang nyata. Tak selamanya harus berdiri tegak menantang angin yang kencang.
Tanggalkan topeng yang memaksamu untuk selalu tampak pahlawan di hadapan dunia, tak ada kewajiban untuk memahat tawa saat batinmu sedang merintih perih. Kau berhak atas segala emosi yang hadir tanpa perlu merasa bersalah.
Sangat lumrah jika hari ini kamu merasa sedang tidak berdaya, karena keberadaan paling murni, duka adalah tamu yang sah untuk disambut. Hingga nanti kesiapan itu datang kembali bersama fajar yang baru.
Jujurlah pada lukamu, agar ia tahu cara untuk pulih.