"Aku kehilangan nyaris semuanya," ujarku kepada kawan di seberang telepon tepat dua minggu lalu, merangkum segala kejadian dua bulan lalu yang bertubi-tubi terjadi selama bulan Juni. Kalimat paling menyerah yang akhirnya aku ucapkan setelah melewati malam-malam panjang penuh peluh air mata.
"Mimpiku luluh lantak, rata dengan tanah. Semuanya diambil. Aku tak punyai apa-apa lagi."
Sejak malam itu, sejak aku menyerahkan kalimat paling menyerah, pipiku tak pernah kering. Aku terus mencari cara bagaimana menghadapi kehilangan yang utuh.
Lalu, tepat seminggu kemudian, seminggu yang lalu, aku berujar pada diri,
Tadi malam, cicilan air mataku lunas dibayar tunai dengan sudut pandang baru tentang kehilangan:
Aku telah kehilangan nyaris semuanya. Hanya diri yang tidak hilang. Diri yang telah lama kupegang teguh dan jadi tumpuan. Sedang yang lain diambil.
Jika diri adalah rumah, maka anggap saja segala mimpi, kawan, pekerjaan, dan cinta adalah perabotan pengisi. Ketika rumahmu dijarah, diambil segala apa yang kau punya, lalu tinggallah kau seorang yang kosong melompong.
Maka tangisilah. Menangislah tiap malam. Tangisilah dengan cukup segala yang telah pergi, hilang, dan dimbil. Tak ada yang pernah siap dengan kehilangan meski pagar-pagar telah berdiri kokoh dan tinggi dan segala keamanan telah direncanakan sempurna.
Namun tak perlu ada dendam. Dendam itu laksana debu yang mudah berkerak. Jika dendam tumbuh dengan ganas dan liar, ia akan memenuhi rumahmu dengan kerak kotor. Ia juga akan menjauhkanmu dari tamu-tamu baik yang akan bertandang.
Setelah tangismu cukup, berbalik badan lah. Kau memang kehilangan semuanya. Namun lihat, ada ruang kosong yang sangat besar yang dapat kau isi dengan kesempatan-kesempatan baru yang semula tak pernah terpikir sebelumnya.
Inilah mengapa tak perlu ada dendam. Sebab jika dendam itu tumbuh dengan ganas, ruangan ini akan penuh sesak lagi. Namun jika bibit dendam itu telah tertanam di sana, cabutlah dan bersihkan.
Ingat, kau punya ruangan kosong. Kau bisa isi dengan kesempatan, mimpi, kawan, cita-cita, dan cinta baru sebagai perabotan baru yang akan menghiasi hidup barumu.