"Nggak perlu merasa spesial, kamu manusia bukan nasi goreng"
Sade Olutola

Product Placement
Show & Tell
trying on a metaphor
d e v o n
Peter Solarz

Andulka

blake kathryn
tumblr dot com

shark vs the universe
KIROKAZE

@theartofmadeline

No title available
Xuebing Du
cherry valley forever
Mike Driver
RMH

PR's Tumblrdome
Alisa U Zemlji Chuda

pixel skylines
seen from Czechia
seen from Türkiye

seen from Malaysia

seen from Japan

seen from Germany

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Italy
seen from Netherlands
seen from United States

seen from United States
seen from Malaysia

seen from India

seen from Singapore
seen from Malaysia
seen from Türkiye
seen from Poland
seen from United States
@silavialoca
"Nggak perlu merasa spesial, kamu manusia bukan nasi goreng"
12 agustus 2020
Kalo saat ini di depan gue terdapat seorang psikologi perempuan, maka inilah yang akan gue sampaikan.
Bu, saya takut sama manusia. Tapi saya tau saya ngga bisa hidup tanpa manusia.
Saya tau suatu hari nanti saya harus kerja untuk bisa dapat uang dan membuat orangtua saya bangga melahirkan saya. Meski saya tidak pernah sekalipun minta dilahirkan oleh mereka.
Bu, saya ngga mau berhubungan sama manusia. Tapi saya kesepian. Setiap saya nangis, saya selalu berharap ada setidaknya seseorang yang tau saya nangis tanpa perlu melarang saya bersedih.
Bu, selama ini saya melakukan banyak hal untuk menjauhkan saya dari kegagalan secara keuangan. Karena saya tau, saya tidak miskin saja saya stress. Apalagi tidak punya uang. Mungkin saya udah mengakhiri hidup saya saat itu juga.
Bu, saya tidak mau jadi pusat perhatian banyak orang karena saya takut sama manusia.
Bu, waktu SMP segala yang saya katakan selalu ditertawakan atau diejek-ejek. Saya juga pernah mengurung diri saya di WC karena saya takut manusia bu. Pintu wcnya digedor. Saya dibentak untuk diminta keluar. Tapi saya takut bu meski saya kedinginan.
Bu, saya bertahan hidup di SMP, asrama, tidur di atas sejadah tanpa kasur karena kasur saya ditiduri temen saya yang ngompol.
Bu, saya capek sendiri.
Bu, saya capek ditekan untuk terus berhasil.
Bu, saya capek untuk terus dituntut sempurna.
Bu, saya takut manusia bu.
Bu, tapi kata temen-temen kuliah saya, saya hanya bisa dapet kerja kalo saya banyak kenal sama orang bu.
Bu, saya harus gimana yah?
Bu, sejak kelas 4 SD, saya udah pisah tempat tinggal sama orangtua.
Bu, saya sering dibentak, disembur pakai air kumur-kumur karena dikira kesurupan padahal saya hanya mau disayang.
Bu, gimana rasanya punya seseorang yang sayang sama ibu?
Bu, saya mau merasakannya juga.
Bu, saya takut sakit.
Bu, selama ini saya berdiri sendiri terus.
Bu, saya pegel.
Bu, setiap malam saya selalu membayangkan ada satu sosok yang memeluk saya dan menatap saya dengan bangga bahwa saya selama ini sudah berbuat hebat.
Bu, perlu apalagi ya, biar siapapun tau kalo saya sebenernya cuma butuh seseorang yang paham aja.
Bu, saya ngga mau mati. Tapi saya capek hidup…
padahal saya hanya mau disayang.
padahal, saya hanya mau disayang.
Sya ga mau mati. Tapi saya capek hidup,..
Baca ini rasanya ingin nangis meraung.
bu, saya capek sendiri
Bu, saya pegel
Nngggg
Bu, saya takut manusia Bu.
Bu, saya harus gimana yah?
Seorang teman berkata,
Saat kamu mulai menghafal, kamu ibarat sedang membuat titik-titik di atas kertas putih yang bersih.
Saat kamu mulai mengulang-ulang hafalanmu, kamu ibarat sedang berusaha menghubungkan titik-titik itu, menjadi kalimat yang mudah dibaca bahkan dipahami, semakin sering kamu mengulang, makan tulisan itu akan semakin bersinar, mudah sekali dikenali.
Namun, saat kamu tidak mengulang hafalnmu, kertas putih penuh dengan titik-titik itu ibarat kamu membuat pola titik di atas pasir, titik itu tidak hilang, tapi akan tertutup pasir baru yang terdorong ombak setiap waktu, hingga makin menebal dan hafalan itu terpendam jauh dalam timbunan ingatan.
Maka, murojaah itu bukan hanya saat kita mengejar mutqin atau sanad saja, tapi murojaah sepanjang nafas ini masih berhembus, sepanjang jantung ini masih berirama, teruslah murojaah sampai lisan ini hanya mampu mengucap Laa ilaa ha illallaah
Bagaimana mungkin kamu pikir uang yang tertimbun di rekeningmu adalah rizkimu, tanah luas yang terhampar adalah rizkimu, aset yang kamu miliki adalah rizkimu, keuntungan dari bisnis adalah rizkimu?
Sementara kamu tidak tahu, bagaimana jika besok kamu sudah tidak bernyawa? Apakah yang kamu simpan di rekeningmu akan kamu bawa bersama lipatan kain kafanmu? Apakah tanah luas itu akan menjadi liang lahatmu? Tidak. Itu semua akan kita tinggalkan, yang lebih menakutkan harta yang kita tinggalkan justru menjadi pemicu pemecah persaudaraan anak-anakmu. Sementara pertanggung jawabab di akhirat itu kamu yang menanggung.
Maka, ketika semua kemudahan itu kamu dapatkan, kedudukan, jabatan, uang, manfaatkan dengan segera, pakai dengan sebaik-baiknya, supaya ketika hari pertanggungjawaban itu tiba, kamu tidak kelimpungan mencari alibi-alibi agar merasa aman.
Kalau tujuan hidupmu hanya agar bisa sekolah di tempat terbaik, kampus ternama, bekerja di kantor besar, punya istri dan anak, maka tujuan hidupmu masih receh.
Coba pikirkan, apakah setelah semua itu kita dapatkan mereka tidak akan pergi? Bahkan sekolah yang dulu kita impikan tidak akan tetap mengenangmu sepanjang masa
Anak-anak yang kita rawat dengan penuh perhatian, dan segala hal yang terbaik yang kita berikan, mereka akan pergi dan menjalani hidupnya sendiri.
Bahkan atasanmu tidak segan menggantikan posisimu dengan orang yang lebih tanggap dan lebih muda
Lalu, apa yang kita dapat? Dana pensiun? Anak-anak yang selalu menemani kita?
Maka, mari kita pikirkan lebih dalam, setelah masa tua itu kita jumpai, apakah hidup kita akan selesai dengan kematian? Apakah perjalanan kita sudah rampung dihimpit dalam tanah tanpa penerangan?
Lalu untuk apa impian-impian itu, untuk apa menghabiskan tenaga untuk membesarkan anak-anak kita?
Mari kita renungkan bersama, seharusnya ada tujuan besar yang dititipkan pada setiap individu yang terlahir di dunia.
Bermimpi itu gratis dan kamu harus berani membayar mahal untuk mewujudkannya
Tuhan enggak pernah salah nunjukin arah, cuman kitanya yang suka salah langkah
Bang gw rasa hidup gw kacau bgt skrg. Sebulan terakhir gw udh ga sholat duha lg, tiap abis sholat gw pasti buru2 bediri ga berdoa dulu kaya biasanya, apalagi tilawah quran bang, gw udh ga sempet. Tiap liat timeline ig yg berabau keagamaan gua hindari. Gw gatau apa yg terjadi sm gw skrg bang.
Gw kemarin baru aja drop di opname, dokter bilang gw stres dan kecapean gara2 kerjaan. Tiap bulan ada aja ijin ga masuk karna ngedrop. Kerjaan gw jadi terbengkalai, atasan gw udh ga respect sama gw. Gw jadi ga semangat kerja, bawaannya pingin resign mulu. Tapi kalo gw ga kerja, siapa yg jadi tulang punggung keluarga kalo bukan gw. Gw butuh tulisan lo bang, semoga bisa bikin gw bangkit lagi dg wasilah dari tulisan lo bang. Tolong balas secepatnya bang. Tq
ME TIME: Sebuah Jawaban
Kalau boleh saya berbagi atas apa yang kamu alami saat ini, itu adalah bagian dari kejenuhan yang super manusiawi. Semua orang akan mengalami fase di mana ia mengalami titik jenuh. Jenuh dengan segala aktivitas. Jenuh, bahkan dengan segalanya--termasuk keimanan.
Ya, beriman juga bisa jenuh. Beribadah juga bisa jenuh. Jangankan kita, orang-orang yang di sekitar Nabi juga merasakannya. Hingga mereka mengadu, kenapa mereka merasakan ketika dekat dengan Nabi keimanan mereka terasa tinggi. Tapi, ketika jauh jadi turun. Mereka merasakan kegelisahan yang sama. Tapi Nabi dengan bijak menenangkan bahwa itu hal biasa. Kita harus menerima hal itu (akseptansi).
Jadi, saya mau bilang: kamu tidak perlu terlalu panik. Itu namanya kejenuhan.
Saya malah mau bilang kamu patut bersyukur karena masih diberikan rasa kegelisahan itu. Pertanda bahwa keimananmu masih ada dan cenderung kuat. Kenapa? Karena kegelisahan adalah manifestasi proteksi iman terhadap hal-hal yang mereduksinya. Semacam daya imun tubuh yang melawan benda-benda asing jika mencoba masuk. Tandanya dengan bersin atau batuk.
Kita sudah punya tiga kata kunci: jenuh, gelisah, dan akseptansi. Tinggal satu fase terakhir, yaitu baru-perbarui-memperbarui.
Banyak orang yang dia melewati fase jenuh, lalu tidak merasa gelisah. Ia jatuh makin jauh. Banyak juga yang jenuh, lalu gelisah, tapi dia tidak peduli hingga akhirnya makin jatuh. Tapi orang yang berhasil keluar dari ini semua adalah mereka yang bertahan dan memperbarui: niatnya, amalnya, imannya, dan/atau kehidupannya.
Cara pertama dengan Me Time. Kita mengapresiasi diri sendiri. Perbanyak waktu dengan membahagiakan diri sendiri dengan jalan, makan, atau aktivitas lain yang benar-benar kita sendiri. Kurangi interaksi dengan banyak orang. Kurangi bukan menutup. Nanti, di situ kita akan menemukan akar permasalahan kita apa sih? Apa karena dunia? Misalnya, mau seperti teman-teman yang sudah punya rumah sendiri, mobil atau apapun soal materi yang mereka raih? Apa karena pekerjaan atau pendidikan mereka terlihat keren? Tekanan batin akibat dunia lebih sering membuat kita tertekan dan stress. Apakah misalnya, tekanan jodoh? Pusing karena teman-teman yang lain sudah menikah dan punya anak, sedangkan kita masih juga belum? Ini juga paling sering jadi alasan. Atau, karena tekanan lain yang kamu sendiri belum tahu itu apa.
Kenapa Me Time ini penting? Karena di sinilah momen kamu melakukan yang namanya kontemplasi. Perenungan. Merenungi tentang kamu, keluargamu, orang-orang di sekitarmu, apa yang kamu cari, mau jadi apa, apakah kamu bahagia dengan itu semua. Ini adalah pertanyaan-pertanyaan yang akan muncul otomatis saat kita merenung. Lebih jauh, jika kegelisahan soal keimanan itu berhasil mengendalikan sampai pada fase pembaruan, maka pertanyaan paling dasar akan muncul: sudah sejauh mana kita menghamba.
Saya sering juga berada dalam posisi ini. Biasanya saya: mematikan semua notifikasi sosial media lalu menghapus atau menyembunyikannya; mengurangi penggunaan HP; memperbanyak main ke rumah keponakan; jalan sendirian ke mall-mall untuk lihat-lihat; baca buku; jalan ke Jogjakarta tanpa tahu mau ke mana; atau sekadar sunmori nirarah. Di momen ini saya menemukan “aha-moment”. Evaluasi terhadap semuanya. Seperti menemukan titik terang. “Aha!”
Tidak semua orang mungkin berlaku sama. Tapi, ini semua bekerja pada problem yang saya miliki--yang kebetulan juga sama dengan kamu. Saya pernah melewatinya dan terus berulang. Jadi, saya melakukan Me Time terus. Ini adalah cara pertama dan mungkin juga satu-satunya. Mungkin bisa dicoba.
Jika ada yang datang padamu lantas mengadukan tentang kekecewaanya pada orang lain, sebenarnya ia ingin memberi pesan padamu, jangan menjadi salah satu dari mereka!
Anak-anak seringkali gagal mendengar nasihat, tapi mereka tidak pernah gagal meniru.
#parenting
Kamu tutup akhir tahun ini dengan apa?
Hafal 30 juz Al-Quran?
Lulus dengan predikat Cumlaud?
Baca lebih dari 50 buku?
Atau
Hanya penyesalan karena menyia-nyiakan setahun belakang sebagai penutup akhir tahunmu?
Segala harap aku muarakan pada-Mu
Segala penat aku rebahkan pada-Mu
Segala tangis aku raungkan pada-Mu
Apa memang aku hanya mendekat ketika sedih saja?
Ampunkan aku ya Rabb
Jangan kubur mimpi yang bahkan belum meninggal
Gimana bisa kamu merasa kehilangan sementara kamu tidak pernah memiliki
sosok yang berusaha menyenangkan semua orang akan terus merasa letih, karena setiap manusia memiliki persepsi sendiri akan diri kita, cukuplah senangkan Rabbmu maka Dia akan menenangkan kehidupanmu
Assalamualaikum, apa kabar kak Aku mau tanya, tapi harus dijawab ya, please
Waalaikumussalam, Alhamdulillah baik, InsyaaAllah
Elipsis; Ia adalah bimbang yang dimanipulasi jeda, kadangkala memberi kesempatan mengeja. Namun, seringkali mengurung tabah pada tiap titiknya