Suatu Rabu di Teater Dua Satu
*for the best reading experience, kindly play this track :)
Kepada Rangga-ku,
Rangga yang tak lagi menjadikanku Cinta-nya.
Apa kabar hari ini?
Masa lalu yang larut lebur bersama cerita baru.
Terlalu lama. Terlalu lama. Meski memang belum ratusan purnama.
Entah hari apa, tanggal berapa, demi apa,
Sampai kau dan aku kembali berjumpa.
Diam-diam semesta berkonspirasi lewat rekayasa Yang Kuasa.
Dipertemukannya kita begitu saja.
Di momen tak terduga, kesempatan langka, skenario sempurna.
Tak tahu harus merasa sial lalu menyesal,
Atau berbunga, membuncah, tumpah-ruah.
Setahuku; katamu tak perlu risaukan deskripsi atau definisi, karena hidup memang banyak rasa.
Setahuku; kamus, glosari, mesin pencari, apa saja,
Menyerah membantuku mencerna kode-kode rasa yang pernah kau cipta.
Setahuku; kalimat motivasi, nasihat emas, peribahasa, kata mutiara, apa saja,
Putus asa membujukku berhenti mereka-reka apa yang kau rasa.
Kepada Rangga-ku,
Rangga yang tak lagi menjadikanku Cinta-nya.
Bermodal formalitas basi, hari itu kau tanyakan bagaimana kabarku.
Persoalan paling klise, seklise jawaban 'Baik-baik saja'.
Tukar-menukar sapa seolah tidak pernah ada apa-apa.
Lalu jeda.
Kau dan aku kehilangan kata-kata.
Kelu. Bisu. Beku.
Dan akhirnya kau berlalu. Pergi.
Ah... Urusan memisahkan temu, rupanya waktu memang paling ahli.
Kepada Rangga-ku,
Rangga yang tak lagi menjadikanku Cinta-nya.
Kau bagai balon hijau yang meledak membuat hati kacau.
Dan seakan belum cukup berantakan,
Kemudian namamu muncul di kotak pesan.
Dua titik mata, satu kurung melengkung senyuman.
Itu. Kau tau?
Bahkan tanpa perlu dibuat tujuh kali lipat seperti dulu,
Sudah lebih dari cukup untuk memorak-porandakan pertahanan.
Kau hafal mati apa yang masih jadi kelemahanku.
Ego ingin membiarkan, kalah telak oleh tanda tanya yang minta dihiraukan.
Balasan dilayangkan, lantas aku diceramahi dan dihikmahi banyak pelajaran.
Kamu kebanyakan minta maaf. Atas hal-hal yang kau lupakan.
Aku. Perlukah minta maaf?
Karena masih mengingat sedemikian banyak, sedemikian rupa, sedemikian sehingga.
Yang aku ingat, bahwa ingatanku padamu masih begitu-begitu saja. Di situ-situ saja.
Yang aku lupa ingat, bahwa masih ada luka lara yang dengan bangganya kubawa kemana-mana.
Padahal yang harus serius kuingat adalah: kamu tak pernah lagi sama.
Apa kau bilang? Aku pengingat yang baik?
Padahal nyatanya aku hanya pelupa yang buruk.
Dasar!
Kepada Rangga-ku,
Rangga yang tak lagi menjadikanku Cinta-nya.
Mungkin kau dan aku memang tak seberuntung Rangga dan Cinta.
Yang masih saling setia menjaga rasa sekian lama.
Walau ada masa depan yang dijanjikan orang ketiga.
Sepertinya kau dan aku juga tak bisa bernasib seperti Kugy dan Keenan.
Yang berbekal radar, berlayar menantang gelombang, bersama-sama melabuh sauh ke tepian.
Melepas kekasih pelarian yang mereka tinggal sendirian.
Kau dan aku mungkin bukan mereka.
Yang dipersatukan takdirnya oleh sang perangkai kata.
Kepada Rangga-ku,
Rangga yang tak lagi menjadikanku Cinta-nya.
Kau dan aku memang bukan mereka, para tokoh roman atau fiksi cinta.
Bagaimana mau jadi mereka, jika untuk menjadi ‘kita’ saja, kau dan aku tidak bisa?
Penulis alur kisah kita bukan manusia.
Tak mungkin merayu Tuhan, meminta takdir berpihak ketika sebenarnya tidak.
Hamba macam apa yang memaksakan kehendak pada Penciptanya.
Sila marah, katakan aku lemah, keras kepala, tak tahu diri, bodoh — apa sajalah, terserah,
Karena keping-keping harapan yang harusnya kukubur, malah kuawetkan.
Tapi kalau aku memang harus mengalah, mau tak mau aku akan.
Apa lagi yang bisa kulakukan?
Setidaknya aku pernah berjuang mati-matian tak ingin kalah oleh keadaan.
Kalahku terhormat. Menangmu? Bisa kau pertanggungjawabkan?
Kepada Rangga-ku,
Rangga yang tak lagi menjadikanku Cinta-nya.
Barangkali, puisi yang kepanjangan ini adalah jawaban untuk pertanyaan: Mengapa, untuk apa, atas dasar apa patah hati diciptakan?
Terima kasih, sudah membuatku mengerti perlunya patah hati.
Tunggu aksara bersayap ini kuterbangkan ke udara.
Biar berlian malam atau air mata langit yang bersuara.
Kepada Rangga-ku,
Maaf, sudah secara sepihak memberi imbuhan -ku seperti itu.
Seenaknya mengaku-ngaku tanpa pernah diaku.
Kepada Rangga yang tak lagi menjadikanku Cinta-nya.
Atau sebenarnya bukan tak lagi, tapi memang tak pernah?
Teater dua puluh satu, pada suatu Rabu.
(dalam hype & post-movie syndrome ‘Ada Apa dengan Cinta 2′)
— SK











