Lika-Liku Kerja di Dunia Jurnalistik: Dituntut Serba Cepat, Tak Kenal Tanggal Merah
Worked Journey
Hi everyone! Saya Nurul, membagikan worked journey di dunia jurnalistik
Profesi jurnalis menjadi pilihan yang tepat untuk orang-orang yang suka menulis, menyenangi tantangan, gemar membaca, memiliki rasa ingin tahu tinggi, dan selalu mengikuti trend berita terkini. Tentunya, kerja di dunia jurnalistik juga enggak cocok buat orang-orang yang hobi malas-masalan, karena kamu pastinya bakal banyak ketinggalan. Bagi yang ingin terjun ke dunia jurnalistik dan menjadi jurnalis, wajib tahu lika-liku kerja di dunia jurnalistik, biar enggak kaget! Oleh karena itu, saya membagikan 'worked journey' yang saya lalui selama menekuni pekerjaan menjadi jurnalis sebagai penulis konten SEO di Digital Content Directorate Kompas Gramedia Group - Tribun Network untuk Tribun Banten selama 2022-2024.
Ini bukan perkara mudah, karena saya bergabung di portal daerah yang baru dirintis, berkontribusi baik pikiran dan tenaga untuk mengembangkan portal daerah ini menjadi media lokal yang menyajikan informasi informatif terkini baik berita internasional, lokal, hiburan, gaya hidup, seleb hingga olahraga. Ya intinya banyak suka dukanya yang saya bagikan dalam worked journey ini, selebihnya saya menikmati tantangan kerja menjadi jurnalis. Tentunya alasan saya terjun dan bertahan di industri ini karena sesuai passion saya yang suka menulis dan membaca, saya juga memiliki lingkungan kerja yang baik walau dengan lintas usia yang jauh. Gaji, rekan kerja, bos, dan beberapa hal membuat saya berkomitmen untuk membangun perusahaan sampai bisa ikut mengantarkan perusahaan memiliki gedung baru dan trafic yang perlahan naik dalam page views hingga bisa bersaing dengan anak perusahaan lain.
Sebelumnya dalam dunia kerja profesional, saya bekerja dari usia 21 tahun setelah lulus kuliah, namun saat kuliah saya sudah menjadi Script Writer, Ghost Writer selama 2 tahun dan asisten peneliti project. Di usai saya 19 tahun sampai 21 tahun, saya fokus belajar menjadi pengikut, mempelajari cara atasan bekerja, dan bagaimana bekerja dengan orang lain agar memiliki team work yang baik. Saat itu saya memahami bahwa sangat penting kerja tim dalam membangun kesuksesan acara, proyek, dan tujuan organisasi, termasuk dalam jurnalistik.
Read the story
1. Jadi Jurnalis Harus Mampu Kerja Tim
Pilihan menjadi jurnalis membuat saya memasuki lingkungan kerja dengan pola ‘team work’ yang saling mem-backup pekerjaan satu sama lain dengan target dan tanggungjawab yang besar untuk membangun perusahaan. Di usia yang sangat muda saya memilih bergabung dengan Kompas Gramedia Group dan menjadi bagian perintis unit Tribun Network di Banten sebagai penulis konten. Saat itu, saya menemukan rentang usia yang sangat jauh antara saya dengan rekan-rekan kerja lain baik di redaksi maupun tim bisnis. Saat saya usia 21 tahun, usia rekan kerja ada yang sudah 26 tahun, 30 tahun, 40 tahun dan seterusnya hahaha walaupun kayak kelihatan seumuran. Tentunya saya menjadi anak bungsu di perusahaan, dengan sebutan ‘si bungsu’.
Meski begitu, di Tribun Network penempatan saya, jujur saya tidak menemukan penghalang atau batasan usia lintas generasi, yang selama ini ceritanya banyak dipublikasikan di media.
Oke, lantas mengapa saya merasa tidak ada gap usia?
Karena Semua Orang di Kantor Mengaku Anak Muda
Setua-tuanya bos, enggak ada yang mau dipanggil Bapak, semuanya dipanggil Mas meski sudah tua, sampai yang mau pensiun pun tetap dipanggil Mas. Usia om-om dipanggilnya Abang. Saya pribadi memanggil rekan kerja perempuan yang lain dengan sebutan Mbak meskipun ada yang sudah jadi ibu-ibu. Gaya bos-bos saya enggak kaku dan kolot, mereka update dengan tren terkini, ngobrol ke mana aja kalau kita sendiri punya wawasan bisa nyambung.
Tapi saya banyak enggak tahu soal apa yang disukai rekan-rekan kerja saya yang usianya lebih tua. Nah, biasanya saya inisiatif buat catatan, playlist musik apa yang biasa didengar rekan kerja, dan topik apa yang suka mereka bahas. Misalnya orang-orang suka MotoGP, maka saya ketika pulang kerja harus langsung baca dan cari tahu tentang MotoGP, cari tahu yang mana Marc Marquez, Rossi, sampai Bagnaia, supaya kalau ngobrol tetap bisa ikutan. Trust me, rata-rata orang enggak nyambung ngobrol karena salah satunya enggak punya wawasan yang sama. Lucunya, karena saya suka BTS tapi orang-orang kantor enggak banyak tahu BTS, biasanya saya yang inisiatif cerita sampai mereka cari tahu sendiri tentang BTS. Itu sebabnya saya pribadi tidak menemukan gap usia dalam lingkungan kerja meskipun rentang usianya cukup jauh.
2. Miskom Tetap Ada, Namanya juga Beda Kepala
Miskom tetap ada guys, maklumlah beda kepala dan cerita hidup hahaha. Saya pernah bilang, “Bang musikan ya” ke Editor dari Jakarta yang main ke kantor di Kota Serang. Tapi, musikan yang saya maksud diinterpretasikan sebagai pemain bola, sedangkan saya enggak tahu ada pemain bola namanya Musikan. Lucu aja sampai saya cari profilnya di Google. Maksud saya musikan itu mau mendengarkan musik dengan pengeras suara, karena di kantor saya itu adalah DJ request-an lagu orang-orang buat karokean sambil kerja kalau kantor sepi. Tapi Yasudah, kalau sudah kayak gitu saya tanya-tanya aja sosok legenda sepak bola, anggaplah ilmu baru~
3. Jangan Kaget! Jurnalis Banyaknya Jago Manuver Omongan
Meskipun enggak semua, tapi kebanyakan jurnalis yang saya kenal pinter memanuver omongan loh....
Candaan orang kantor saya kadang di luar jangkauan dan manuver-nya luar biasa, tapi saya beradaptasi untuk lebih gila dari mereka
Contoh 1: “Rul lu emang enggak punya ibu? Sama dong ibu kita udah ditanam kayak ubi” agak kaget saat itu karena masih anak baru banget, tapi saya jawab, “Ibu lu ubi kayu apa ubi cilembu Bang?” Nah ini orang kantor pasti pada ketawa-tawa enggak jelas mode bapak-bapak sok-sokan ngaku "anak gua nih" hahaha. Cuma becanda ya guys! Asli mereka tuh baik banget.
Contoh 2: “....Rul, katanya lu tahu saldo rekening si A, berapa nominalnya?” ini pertanyaan jebakan karena kondisinya ramai riuh emang lagi curcol, jangan dijawab nominal kalau pun tahu, cara jawab saya biasanya, “yang pasti lebih besar dari saldo rekening lu Bang”. Jawaban begini biasanya buat orang-orang kantor ketawa renyah hahaha. Nah kalau ada tepuk tangan riuh enggak jelas, cara responnya cukup, “makasih gua emang keren!” Contoh 3: “Rul kamu tahu enggak, yang bertahan di kursi kamu dulu cuma tiga bulan karena langsung sakit, tapi kamu awet,” kalau ada singgungan ke karyawan lama jangan mau cari tahu lebih jauh, biasanya saya jawab dengan mengunggulkan diri sendiri, “iya dong, formula formalinnya banyak saya mah, awetlah”. Jangan cari tahu apapun kalau enggak mau kepikiran, fokus aja kerja, ini rumus tentram di tempat kerja, jangan merasa lebih baik dari orang lain okay.
Contoh 4: "Rul sini, lu harus liat monyet baru peliharaan gua!" sebagai karyawan yang baru kerja dua bulan, saya belum tahu ini bau-bau keusilan. Ternyata jeng-jeng... itu foto wajah jelek saya yang pakai filter monyet, ketawa ngakak ngetawain diri sendiri saking jeleknya. Ujungnya hari itu juga langsung saya unduh filter yang aneh-aneh, filter monyet sampai alien, buat jailin orang kantor hahaha. Se-funny itu liat foto aib orang kantor, karena dulu masih banyak karyawan sanguinis.
Penafian: enggak semua orang diginiin ya becandanya, mereka pinter baca karakter orang. Cuma karakter saya emang enak aja buat diusilin dan celetukannya ada aja
4. Buat Konten Mandiri, kalau Salah Bos Ngasih Petuah dari Berbagai Sisi
Sejujurnya dulu sebagai anak baru, saya hanya mendapat training satu bulan dan lebih belajar mengambil banyak angle kasus dan konten, training satu bulan itu yang paling singkat dan langsung mengisi posisi yang kosong. Dua bulan pertama kerja saya dilepas untuk belajar sendiri menggunakan tools-tools perusahaan seperti CMS, GA, dan lain-lain, sedangkan untuk kemampuan menulis, bos saya bilang saya sudah bisa dan mampu belajar sendiri.
Saat itu saya belajar sendiri dengan agak terseok-seok mengejar target harian dengan berbagai macam section konten/news. Dua bulan kerja setelah training, kinerja saya masih tidak secepat yang lain untuk produksi 20 berita per hari, saya juga belum bisa menciptakan konten yang mendongkrak page views. Saya masuk kerja jam 8 pagi bisa keluar kantor jam 8 malam untuk produksi 20 berita/konten saat itu. Akhirnya baru di bulan ketiga kerja, saya benar-benar bisa bekerja menyesuaikan ritme dan membangun tim, satu konten saya akhirnya ada yang naik di GA dan terbaca 16.000 lebih. Tapi meski saya belajar mandiri, kalau GM Digital Content kunjungan, pasti selalu ada arahan dan pembelajaran baru yang harus diikuti dengan perubahan konten. Intinya enggak boleh berhenti belajar hal-hal baru dan terus berkembang dengan memahami pembaca.
Fyi: 2024 ini penulis konten Tribun Banten targetnya sudah 17 konten ya, performa portalnya sudah cukup meningkat
5. Pola Kerja Team yang Serba Cepat dan Berubah
Pola kerja team berubah-ubah, sebagai karyawan termuda saya menjadi andalan mem-backup pekerjaan yang lain, saat rekan kerja ada yang sakit, cuti, acara keluarga, semuanya digantikan oleh saya saat itu atas titah bos dengan alasan “saya yang paling muda dan berstamina”. Satu bulan, saya bisa enggak libur loh, tapi I’m enjoy karena gaji perusahaan, untuk sekelas lulusan baru gaji kontrak saya udah bagus, kerja di hari libur diganti uang. Intinya libur enggak libur itu termasuk kebijakan unit perusahaan daerah dalam sistem kerja, dan saya setuju, itu masih oke guys, namanya kerja enggak ada yang enggak capek!
Bekerja di industri yang serba cepat, menuntut saya untuk belajar gesit menggali apa yang terjadi hari ini di Indonesia dan di dunia. Bos suka ngomel kalau saya telat produksi konten hype, siap-siap ditelepon malam-malam, ditelepon untuk update gempa subuh-subuh kalau masuk pagi, sampai running-an Gunung Krakatau di pagi hari. Bahkan harus telepon rekan kerja yang lagi sift untuk infoin ada kasus Lesti smackdown-lah, atau ada kasus yang baru meledak biar portal berita kita enggak ketinggalan.
Paling mantap kalau mengawal kasus biar viral, dulu ada kasus perselingkuhan menantu dan mertua di Banten, saya baru dikasih berkas sidang cerainya dan diminta buat konten original viral dengan berbagai angle yang menarik untuk di-running di seluruh Tribun Network karena kasusnya di Banten. Berkas cerainya panjang dan baru saya baca, tapi satu menit setelah berkas dikasih, saya sudah ditagih artikelnya. “Nurul cepet, yang lain nunggu dari kamu, mau dilempar artikelnya…” maklumlah bekerja mengejar waktu biar enggak keduluan media yang lain. Tapi kalau enggak ada kasus atau hari-hari biasa aja, kerjaan santai kok.
6. Libur di Hari Kerja Satu Hari dan Enggak Kenal Tanggal Merah
Jangan masuk ke dunia jurnalistik kalau mau kerja yang liburnya dua hari di Sabtu dan Minggu. Masuk jadi keluarga jurnalis, cuma dikasih jatah libur satu hari. Bahkan saya sebagai karyawan termuda di kantor liburnya enggak di hari Sabtu dan Minggu awal-awal kerja, tapi di hari Jumat. Itu pun bisa pindah libur ke Senin kalau ada rekan kerja yang mau ada acara dan minta tukar hari. Tidak ada juga tanggal merah kawan, setiap tanggal merah saya selalu masuk kerja cari cuan.
7. Dikejar-kejar Target, tapi Tetap Santai
Kerja dikejar target pembaca, tapi kalau enggak kecapai targetnya juga fine-fine aja guys. Enggak bakal dimarahin, cuma nanti ada evaluasi aja kalau ada GM Digital Content kunjungan. Enggak bakal diberhentiin juga kalau kita baik, paling konten garapannya diganti biar bisa ngejar page views. Bukan orangnya yang diganti tapi strategi dan konten-kontennya yang bisa diubah-ubah.
8. Semua Media Punya Target Page Views! Seperti Ini
9. Jurnalis Enggak Boleh Berhenti Belajar!
Segala arus informasi terus berputar! Kalau kata senior-senior saya, jadi Jurnalis itu harus terus belajar segala hal-hal baru. Bahkan ketika semandiri-mandirinya kita bekerja, masukan dan arahan itu penting untuk terjalinnya support system yang baik. Trust me, siapapun yang jadi Jurnalis pasti pernah menemukan titik jenuh, tapi setiap pekerjaan itu selalu ada titik jenuhnya. Maka dari itu, terus belajar jadi kuncinya, minta arahan ke orang-orang berpengalaman itu penting bagi saya, punya inisiatif aja enggak cukup. Tapi harus tahu bangun taktik dan cara gimana ciptain produk jurnalis yang beda dari yang lain dengan meminta masukan-masukan yang membangun. Kuncinya jangan malu bertanya. Saya pikir support system dalam lingkungan kerja ini sangat krusial baik dari atasan maupun rekan kerja, terutama lingkungan kerja yang lintas usia cukup jauh. Support system bagi saya penting, tapi saya enggak tahu seberapa penting support system bagi orang lain. Apakah salah seorang pekerja membutuhkan support system yang baik? Kalau enggak dapat dari bos, minimal dari rekan kerjalah ya guys biar betah, atau bisa juga motivasi dari gaji yang bagus hahaha.
10. Sedikit Potret Kehidupan di Dunia Jurnalistik
Sebagai yang termuda, saya selalu dapat suapan potongan tumpeng dan kue dari bos-bos kalau lagi ada acara dan ultah kantor. Terima kasih bos-bos.
Akhirnya punya kantor baru setelah banyak duka di kantor lama yang bocor, panas, ada aura mistis, listrik mati 6 kali dalam sehari kalau kumat, dan tikus-tikusnya yang ulala.
Just information, saya memutuskan resign dari Kompas Gramedia Group - Tribun Network karena mendapat penawaran pekerjaan di perusahaan asing secara freelance sebagai Digital Analyst. Next capture saya akan membagikan perbedaan pola kerja di luar negeri dan di Indonesia yang beda banget walaupun dituntut kerja serba cepat.
Special Thanks
Terima kasih banyak Kompas Gramedia Group, Tribunnews, Tribun Network. Terkhusus Mas Yulis Sulistyawan – GM Digital Content Tribun Network, dan Mas Agung – Manager Content Tribun Banten, terima kasih telah banyak memberikan ilmu-ilmunya. Dulu saya merasa bersalah karena nggak tahu Mas Yulis bos besar pas interview kerja hahaha, saya kira HRD. Interview pun kebanyakan ketawa menjawab pertanyaan dengan receh, saya inget banget pas ditanya “kamu punya keluarga besar ya? Ramai dong kalau kumpul”. Tapi bisa-bisanya saya malah jawab, “iya dong, tinggal bikin club sepak bola aja itu, boleh kalau mau gabung”. Bos-bos itu pada ketawa sama jawaban saya, terus saya juga ikutan ketawa aja sepanjang interview ha ha hi hi.
Makasih buat bos yang udah jawab pertanyaan-pertanyaan terakhir saya ketika saya resign. Saya tanya Manager Content saya, kenapa saya diterima kerja di perusahaan, karena katanya saya yang paling muda di antara kandidat yang lain, pas masuk kerja orang-orang pada kaget pas tahu umur saya, bahkan ketika saya udah kerja dan ada proses recruitment, saya baru tahu sebanyak itu kandidat yang dinterview sampai sore tapi enggak ada yang diterima satu pun. Akhirnya Manager Content saya bilang, “Interview-mu to Rul mind blowing, ketawa mulu, ha hi ha hi, ada aja jawabannya, harusnya kalau interview kamu agak serius [oke ini catatan]. Saya tahu betul kamu hanya perlu dipoles sebentar liat dari tulisannya yang puluhan lembar itu, kamu gampang dilepas. Satu bulan training itu yang paling singkat dibanding yang lain, kamu di sini bertahan lama dari kantor dulu sampai sejauh ini, di luar ekspektasi saya”.
Btw ceritanya pas baru lulus kuliah saya ngelamar jadi penulis konten pake 27 halaman contoh tulisan guys, dari tulisan script, copywriting, puisi esai tajuk Ni Wayan Gayatri, tulisan ilmiah saya yang diterbitin BPCB Banten, konten seleb, dll sampai 27 lembar hahaha. Mana pas diinterview tulisannya enggak diprint, lucu aja sekelas GM Digital Content dikerjain sampai harus liat gawai dan berkas-berkas saya.
Dan leganya pas resign di perusahaan ini saya bisa pamitan ke semuanya, sempat tanya apa yang bos enggak suka dari saya selama 2022-2024 saya jadi anak buah. Karena di mana pun kita bekerja, faktanya setiap karyawan itu pasti ada plus minusnya, dan bos juga ada kurang dan lebihnya. Di sini waktunya minta maaf buat semua kesalahan, pamitan, dan mengutarakan hal lain jika ada.
Kenapa saya menanyakan hal-hal seperti itu?
Karena agar saya bisa memperbaiki diri saya dengan tahu kesalahan-kesalahan saya yang mungkin bos enggak utarakan. Hal-hal tersebut tentunya akan berguna untuk saya bekerja di tempat berikutnya atau bahkan kembali ke media lain. Bahkan ketika mendapat review seperti yang dikatakan bos nantinya saya enggak kaget, ya harus intropeksi. Saya juga berterima kasih yang setulus-tulusnya pada Mas Yulis, GM Digital Content Tribun Network yang mau menerima saya jika saya ingin kembali di Tribun, yang bersedia dihubungi jika saya melihat lowongan di Tribun. Kalimat terakhir yang paling saya ingat, “kalau kamu mau kerja lagi di Tribun, liat lowongan di Tribun mau masuk ke situ, kamu cuma tinggal hubungi saya, nomor saya enggak bakal berubah”.
Terima kasih banyak Tribun Network
















