Wahai Tuhan sang pemberi rasa
Aku masih bertanya-tanya mengapa Engkau menaruh rasa itu di dada ku yang sempit ini.
Dada yang tak kuasa menahan rasa cinta, yang sangat rapuh atas segala konsekwensinya.
Lalu mengapa Engkau menaruh rasa yang besar itu kedalam hatiku yang kecil ini?
Aku dan hati kecil ku sudah sangat lelah untuk hal itu. Rasanya aku sudah hafal semua yang kelak akan terjadi, layaknya menonton ulang film yang sama.
Kupikir begitu awalnya...
Namun rasa ini sungguh berbeda, apakah ini sebuah pertanda?. Kata yakin teramat sangat angsung terbesit seketika di hati dan pikiranku
Dan ternyata semua diluar semua dugaan ku, saat itu juga aku menyadari bahwa jalan hidup ini sungguh unik dan tidak semudah itu di tebak.
Lalu bagaimana aku sekarang?
Aku menjalaninya dengan memperhatinan segala lubang-lubang yang pernah kubuat dulu. Namun tak bisa dipungkiri bahwa rasa itu seperti pedang yang kadang memberikan kekuatan tak terbatas kepada penggunannya, bisa menebas semua hal yang ada di depan matany. Namun kadang menusuk dada penggunanya sendiri sehingga membuat sakit yang membuatnya ingin tak dilahirkan kembali ke dunia ini, karena tak ingin merasakan sakit itu lagi
Aku benar-benar tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya. Tapi harapku, bahagia yang akan menjadi akhirnya.
Aku akan berjuang sampai pintu itu tertutup, doa dan usaha akan menjadi penemanku didalam perjalanan ini.
Tapi aku masih tetap tidak mengerti mengapa Engkau memberikan rasa itu kepadaku, di waktu itu. Namun aku percaya dan akan selalu percaya bahwa semua ini tidak sia-sia, pasti ada hikmah yang menungguku di setiap persimpangan jalan dan akhirnya.
Terimakasih Tuhan atas semuanya
The Odyssey of Penance #Chapter8











