HIPOKSIA
Aku hidup di dalam sebuah akuarium.
Di luar kaca, dunia mereka berjalan normal. Mereka bisa melihatku. Mereka melihatku bergerak, membuka dan menutup mulutku, berenang dari satu sudut ke sudut lain. Bagi mereka, aku terlihat baik-baik saja. Mungkin sedikit membosankan. Mungkin sedikit malas. Hanya seekor ikan yang berputar-putar di dalam kotak kacanya.
Mereka tidak tahu.
Mereka tidak tahu bahwa air di dalam akuariumku ini beracun. Bahwa setiap tarikan napas melalui insangku terasa seperti menghirup api. Mereka tidak tahu bahwa aku tidak sedang berenang; aku sedang panik mencari celah, mencari retakan di kaca, mencari jalan keluar sebelum air ini membunuhku.
Mereka tidak tahu bahwa setiap gerakan lambatku bukanlah kemalasan, tapi hasil dari perjuangan melawan air yang terasa seberat timah.
Aku mencoba berteriak. Aku membuka mulutku lebar-lebar, mengeluarkan semua suaraku. Tapi yang mereka lihat di luar sana hanyalah gelembung-gelembung udara kecil yang naik ke permukaan lalu pecah tanpa suara. Upayaku untuk berkomunikasi hanya menjadi hiasan kecil yang tak berarti di dalam air.
Dan yang paling menghancurkan: saat aku akhirnya kelelahan, saat aku berhenti bergerak dan hanya mengambang pasrah, mereka mengetuk-ngetuk kaca.
"Kenapa kau diam saja?"
"Berusahalah sedikit."
Dan aku hanya bisa menatap balik dari dalam duniaku yang sunyi dan beracun, menyadari bahwa penjara terburuk bukanlah kotak kaca ini.
Penjara terburuk adalah terlihat oleh semua orang, namun tidak ada satu pun yang benar-benar melihatku.
Roni. | 24 Agustus 2025













