“Ambiguitas” 1995, (oil on panel) 8¼ × 6¾ inches
Artist: Anne Connell

#dc comics#dc#batman#tim drake#dc fanart#bruce wayne#dick grayson#batfam#batfamily


seen from Japan
seen from Netherlands

seen from Czechia
seen from United States
seen from Yemen

seen from United States
seen from China
seen from China
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from Türkiye
seen from United States
seen from Canada
seen from Spain
seen from Italy

seen from Guyana
seen from Guyana

seen from Canada
seen from Türkiye
“Ambiguitas” 1995, (oil on panel) 8¼ × 6¾ inches
Artist: Anne Connell
Bungkam Dan Ambiguitas Bobby Jayanto. Aron Menang Di Mahkamah Agung Dari Pemohon Kasasi Koperasi Konsumen Nuju Utama Makmur
INTINEWS.CO.ID, PETI ES – Kota Tanjungpinang. Bukankah Wakil Rakyat itu harus berintegritas dan merakyat? Bungkam dan ambiguitas Bobby Jayanto. Aron Menang di Mahkamah Agung dari Pemohon Kasasi Koperasi Konsumen Nuju Utama Makmur. Foto, Aron Sokhizato Gea (17/10). Sebelumnya Berita online http://www.intinews.co.id sudah memberitakan perihal ini dengan judul: Apakah benar Bobby Jayanto…
Serba-serbi Atlet Esports: Perbedaan antara Profesional dan Amatir
Kamu pasti pernah mendengar istilah gamer profesional atau malah mungkin menggunakan istilah tersebut untuk melukiskan seberapa ahli kamu dalam memainkan sebuah game. Sebenarnya ungkapan profesional dan amatir sudah salah kaprah dari berbagai sisi, dan artikel ini ditujukan untuk memperbaiki kesalahan tersebut.
Arti Profesional dan Amatir
Menurut KBBI, arti kata profesional merujuk kepada tiga arti utama. Bersangkutan dengan profesi Memerlukan kepandaian khusus untuk menjalankannya Mengharuskan adanya pembayaran untuk melakukannya (lawan amatir) Sedangkan kata amatir berhubungan dengan. Kegiatan yang dilakukan atas dasar kesenangan dan bukan untuk memperoleh nafkah, misalnya orang yang bermain musik, melukis, menari, bermain tinju, sepak bola sebagai kesenangan Orang yang melakukan sesuatu atas dasar kesenangan dan bukan sebagai pekerjaan Orang yang melakukan sesuatu dengan hasil yang kurang baik (amatiran) Dari penjelasan menurut bahasa Indonesia di atas kita bisa menarik beberapa kesimpulan sekaligus. Profesional itu membutuhkan sebuah keahlian khusus dan mengharuskan adanya pembayaran untuk melakukannya. Sementara amatir itu lebih mendekati hobi dan kesenangan, serta hanya sedikit berhubungan dengan kemampuan yang dimiliki orangnya.
Dari penjelasan di atas kita bisa mengambil sebuah kesimpulan, kalau syarat untuk seorang gamerdisebut profesional adalah, dia harus dibayar untuk memainkan game yang dia geluti. Jadi walaupun seorang gamer sangat ahli memainkan sebuah game, selama dia tidak memperoleh gaji, sponsor, atau pembayaran ketika memainkan game tersebut, dia tetap disebut sebagai gameramatir atau gamer saja. Gaji, sponsor, atau pembayaran tersebut harus berasal dari game atau prestasi yang dia peroleh di dalam game tersebut. Jadi YouTuber atau host yang bermain game lantas mendapatkan uang dari iklan, tetap tidak bisa disebut sebagai gamer profesional. Untuk profesi ini, mereka lebih cocok disebut sebagai penghibur atau talenta profesional.
Profesional dan Amatir Menurut Undang-Undang
Sebenarnya Indonesia memiliki undang-undang SKN (Sistem Keolahragaan Nasional) yang bisa diterapkan dalam menentukan definisi gamer profesional atau atlet esports. Dalam undang-undang nomor 5 tahun 2005 tersebut, menyebutkan secara jelas definisi atlet profesional dan amatir dalam pasal satu butir ke-13 dan 14.
13. Olahraga amatir adalah olahraga yang dilakukan atas dasar kecintaan atau kegemaran berolahraga 14. Olahraga profesional adalah olahraga yang dilakukan untuk memperoleh pendapatan dalam bentuk uang atau bentuk lain yang didasarkan atas kemahiran berolahraga. Melalui kedua butir di atas, kamu bisa melihat bagaimana seorang pelaku olahraga digolongkan sebagai amatir dan profesional. Standar SKN kami gunakan karena adanya penyetaraan antara olahraga konvensional dengan olahraga elektronik (esports) atau rekreasi. Di internet kami melihat banyak sekali orang yang menyatukan titel gamer profesional dengan sikap yang mereka miliki. Lagi-lagi hal ini kurang berhubungan dengan titel gamer profesional. Sikap profesional lebih berhubungan dengan attitude yang dibutuhkan ketika seseorang sudah memasuki ranah gamer profesional.
Ambiguitas ini timbul karena banyaknya artikel di internet yang mengaitkan antara sikap atau attitude dengan tingkat profesionalitas seseorang, tanpa melihat lokasi penggunaan, akar bahasa, dan aturan yang berlaku terlebih dahulu. Read the full article
Antara Kecengengan dan Manusia Ala Kadarnya
Antara Kecengengan dan Manusia Ala Kadarnya
Kelimpahruahan menurut Baudrillard adalah ambiguitas, nyata sekaligus mitos. Bukan suatu kondisi ideal, melainkan sebagai proses adaptasi yang setengah dipaksakan dengan bentuk tingkah laku atau masyarakat baru. Dan ternyata tidak mudah, karena kelimpahruahan bukan keinginan alamiah. Bentuk-bentuk anomi menjadi kebenaran yang menebar kerapuhan dalam ketentraman. Logam emas bukan hanya dipakai dan…
View On WordPress
Perlu kau ingat, suatu saat nanti logikamu akan lumpuh seketika jika terus menerus dihadapkan pada serangkaian paradoks, ambiguitas dan kontradiksi...! Belajarlah kembali soal dinamika dan juga cara Tuhan berdialektika. Semata-mata demi ketenangan batinmu dan pemahamanmu tentang batas. Iya, batas.
Nothing to lose but everything to gain
suprah deh ini maknanya ambigu
CERITA KITA
Aku menuliskannya, bukan untuk mengutuk segala perbedaan di antara kita.
Aku menuliskannya, untuk mengenang cerita-cerita kita yang pernah teralami.
Aku menuliskannya, karena cerita kita terlalu berharga untuk terlupakan.
Masih ingatkah kau, ketika kita menjalani masa awal yang sulit?
Saat itu, kita bahu-membahu melawan dan bertahan terhadap gencatan sistem yang mendera.
Kita merasa, mendengar, melihat dan melakukan hal yang sama.
Masih ingat jugakah, tatkala ilmu demi ilmu mengucur ke dalam benak dan sanubari kita?
Ada kalanya hal-hal dalam hidup tidak didapatkan di kelas.
Aku masih ingat, ketika aku terjaga semalam suntuk memikirkan persoalan korupsi karena permintaanmu.
Ketika itu berbagai pencerahan seolah datang dari berbagai penjuru.
Rasa takut, cemas dan bimbang bergetar di dalam aksi massa perdana yang berkesan.
Masih ingatkah kau, ketika kita membaur dalam budaya bendawi yang serupa?
Saat itu, kita sepakat untuk mengenakannya tiap akhir minggu.
Bukan untuk memamerkan keseragaman, tetapi menunjukkan identitas.
Entah mengapa, saat itu aku merasa begitu gembira kalau tidak mau dikatakan bahagia, karenamu.
Sewaktu sedih atau memikirkanmu, tak lama kemudian, wujud kongkritmu datang.
Sewaktu memiliki gagasan atau ide yang terlintas, kau tak pernah urung membagi waktu untuk mendiskusikannya denganku.
Aku juga masih ingat, saat kau membagi bekal makananmu denganku.
Nasi putih, mie instan goreng dan telur dadar isi daging cincang tidak pernah selezat itu.
Bukan karena rasanya, tetapi karena yang memasaknya mencurahkan keikhlasan di dalamnya.
Dan karena yang memakannya juga menyukai si pemasak.
Ah, aku takkan bisa lupa itu semua.
Bahkan ketika kau dan aku berjalan berdua menyusuri selasar fakultas sebelah yang teduh, di siang hari yang terik.
Melakukan pelanggaran kecil bersama kemudian beriringan menuju stasiun.
Menumpang sebuah kereta ke suatu tempat di pusat kota.
Menghadiri suatu perundingan meja kotak yang penuh asap rokok dan konsolidasi.
Dimana hanya ada satu Siti Hawa selain aku.
Kemantapan, keseriusan dan sekotak penganan kecil mengakrabkan diri.
Lalu kembali menyusuri trotoar yang riuh rendah oleh suara kendaraan bermotor di sekitar, yang melatari obrolan kita sepanjang jalan.
Siang hingga petang terasa singkat, seperti waktu yang dipercepat.
Jika ada hal yang mengganjal, rasa-rasanya aku tak sanggup menunda untuk memperbincangkannya denganmu.
Jika ada kesalahan atau desas-desus kurang baik, kau selalu membelaku.
Kau membela kebiasaan anehku yang suka menulis tidak karuan, mencoreng-moreng kertas-kertas polos sembari duduk di kantin fakultas.
Kau membela pola pikirku yang bertentangan dengan orang awam.
Kau membela pilihanku yang terkadang berbeda dengan pilihanmu.
Kau, memang berbeda.
Kau tak pernah takut mengutarakan pendapatmu yang menggebrak.
Kau tak pernah gentar mengusahakan citamu.
Kau tak pernah ragu melangkah dan tertawa, atas segala masalah dan kepahitan yang ada.
Kau tak pernah malu belajar dari nol.
Kau tak pernah segan menunjukkan potensi dan minatmu.
Aku ingat, ketika kau tak hadir dalam salah satu pertemuan penting bagimu.
Kekhawatiran yang tak dapat kusembunyikan, meski bantuan sudah kukerahkan.
Ketika akhirnya kau datang dan terheran melihat apa yang telah kuperbuat untuk ‘menyelamatkanmu’ di hari itu.
Usai pertemuan, kau gandeng tanganku, bersikeras ingin berbicara.
Kegentingan yang pernah terjadi, menurutku.
Jauh sebelum aku tahu bahwa Buddha menerapkan ajaran indera ke-6 yaitu pikiran, aku sudah memikirkan heksa indera.
Heksa indera, yang mungkin akan menginspirasi atau memotivasi hidupmu ke depannya.
Enam benda dengan enam wujud dan makna yang berbeda, berbaur jadi satu.
Bukan hanya untuk menggelegar rasa, tetapi mengabadikan cerita kita.
Apalagi, yang paling kuingat, bukti otentik akan cerita kita.
Saat-saat di mana kau menghampiriku yang kelelahan.
Kemudian kau meminta seseorang untuk mengabadikan kita berdua dalam suatu pose.
Hingga saat ini, bukti itu masih ada, dan selalu kubawa kemanapun aku beranjak.
Bukti itu terlalu faktuil dan indah untuk disembunyikan.
Jika kau masih menyimpan bukti itu, kau akan melihat senyum bahagia kita berdua yang tersamar oleh kualitas kamera ponselmu.
Kau akan melihat kegembiraanku saat itu karena permintaan dalam hati kecilku segera terbaca olehmu.
Kau akan menyadari bahwa siapapun yang melihat itu akan berkata “betapa serasinya”.
Aku tak pernah menyangka akan ada peristiwa kedua pada malam harinya.
Ketika aku terlalu bersemangat menempuh perjalanan seorang diri di malam yang gelap dengan modal koleksi musik digital.
Kau menghampiriku, lalu menawarkan diri untuk menjadi ‘juru selamat’ sampai aku mencapai rumah.
Kita tertawa, kita berbicara, kita terlepas, kita terombang-ambing angin, kita bersenda gurau, melawan arus dalam pusaran waktu.
Lagi-lagi begitu singkat.
Kalau aku bisa menghentikan atau mengulang waktu, aku akan selalu melakukannya, berulang-ulang.
Tak tahukah bahwa kau yang berjasa menggeser posisinya yang dulu tak pernah tergeser?
Tak tahukah kau bahwa almarhum lebih menyetujuimu dibanding dirinya?
Tak tahukah kau bahwa bahagia dan dirimu adalah sesuatu yang tak terpisahkan, untukku?
Sadarilah. Renungkanlah sejenak.
Pernah suatu waktu, keesokan harinya, aku menghampirimu di beranda tua yang usang, di belakang gedung yang hening.
Tidak hanya untuk mengantarkan makan siang, tetapi melihat keadaanmu yang tertidur tenang dibelai angin pelataran.
Kau terbangun, kita menyantap hidangan sederhana bersama, menikmati siang yang riang.
Setelahnya aku tertidur, setengah tertidur, di atas tas dan kemejamu sebagai alasnya.
Kau duduk di atas motormu yang terparkir di hadapan teras, menjagaku yang terbaring miring.
Menengadah ke langit, menyanyikan sepenggal dua penggal lirik yang tak kukenal.
Seperti "Nina Bobo" bagiku, memayungi mimpi di hari itu.
Lagi, aku tak dapat mengenyahkan cerita itu begitu saja.
Aku menuliskan ini bukan untuk memperparah kegalauan atau melawan keyakinan masing-masing.
Aku percaya, Tuhan pun tak akan tega memisahkan dua manusia dengan rasa yang (mungkin) sama.
Dua kawan yang saling mengagumi.
Aku memang tak pernah menunjukkan ini semua di depanmu.
Apa yang kutunjukkan adalah fanatisme semu pada fiksi yang selama ini memberi sebentuk semangat dalam hidupku.
Kini, aku tak mau hanya bergantung pada fantasi dan dunia kekanakanku.
Aku sadar betul, aku tidak bisa memaksakan kehendak dan perasaanku.
Kalau memang benar ini cinta, mengapa harus ada pemaksaan?
Aku hanya ingin jujur, setidaknya mengakui pada diri sendiri, bahwa aku lebih baik terasing daripada menyerah pada kemunafikan.
Aku tak ingin munafik, aku memang merasakan hal itu.
Aku, lebih baik terasing dengan perasaanku sendiri, daripada berhadapan denganmu kemudian aku goyah dalam menahan segalanya.
Jika cerita kita hanya sampai disini, biarlah tulisan ini mendokumentasikannya seperti bangsa Cina dan Barat yang gemar mencatat.
Jika kita tidak bisa berdialektika bersama-sama lagi, biarlah kita tetap saling mengenang cerita-cerita ini, satu sama lain.
Dan biarkanlah cerita kita berlanjut atau tetap seperti ini.
Yang tak pernah terungkapkan bukan berarti tak (pernah) terasa.
Tangerang Selatan, Rabu 8 Februari 2012
DFS