"Kepribadian adalah kekuatan unikmu. Terimalah, kembangkanlah, dan lihatlah bagaimana hal itu mengubah hidupmu." _Oprah Winfrey

seen from Malaysia
seen from United States

seen from Malaysia

seen from Canada
seen from Thailand

seen from United Kingdom
seen from United States
seen from United States
seen from Poland
seen from Hong Kong SAR China
seen from Italy
seen from Türkiye
seen from Hong Kong SAR China

seen from Singapore
seen from China
seen from Macao SAR China
seen from United States

seen from United Kingdom

seen from United Kingdom

seen from Malaysia
"Kepribadian adalah kekuatan unikmu. Terimalah, kembangkanlah, dan lihatlah bagaimana hal itu mengubah hidupmu." _Oprah Winfrey
Harus Berubah
Ada seekor kucing liar yang selalu datang ke rumahku untuk minta makan. Sebagai seorang pecinta kucing, tidak mungkin aku membiarkannya begitu saja. Jika dia datang, aku langsung cepat-cepat mengambilkan makanan untuknya. Kalau tidak, dia pasti akan langsung 'menghilang' secepat kilat. Setelah kuberi makan, biasanya dia langsung pergi. Terkadang, dia juga duduk-duduk di teras.
Aku menduga kucing tersebut dibuang oleh pemiliknya. Sebab, baru-baru ini saja dia berkeliaran di sekitar rumah. Dulu aku tidak pernah tahu kucing ini. Sepertinya, dia termasuk kucing ras. Tapi sayang, karena tidak terawat dan hidup keras di jalanan, bulunya terlihat dekil dan badannya kurus.
Dia kucing jantan yang sangat penurut. Tidak pernah juga dia melukai 9 kucingku. Ada satu kucingku yang takut bertemu dengannya. Kalau mereka bertemu, kucingku yang takut itu sudah lari terbirit-birit. Padahal, si kucing liar ini hanya bermaksud minta makan. Tapi kucingku selalu lari tunggang langgang, lalu sembunyi di atas lemari atau naik ke atas atap teras. Ada-ada saja.
Pagi tadi, ibu kedatangan tamu salah seorang temannya. Lalu tiba-tiba si kucing liar ini pun datang. Dia duduk persis di depan pintu, menunggu untuk diberi makan. Tapi sayang, tadi stok makanan kucingku habis. Jadi, semua kucing-kucingku pun saat itu juga belum makan. Aku sendiri sudah bersiap untuk keluar rumah, hendak belanja ke pasar sekalian mampir ke petshop beli makanan untuk para anak bulu tersebut.
Kurang lebih setengah jam kemudian, aku baru sampai rumah. Aku pun segera memberi makan kucing-kucingku. Setelah beres, aku kemudian mencari kucing liar itu. Tapi aku tidak menemukannya. Lalu ibu cerita bahwa si kucing liar itu telah dibawa pulang oleh temannya tadi. Setahuku, teman ibu tadi itu memang pecinta kucing juga.
Menurut cerita ibu, teman ibu tadi menangis saat melihat kucing liar itu. Sebab teringat akan 11 kucingnya yang mati mendadak, dan beliau juga iba melihat kondisi kucing liar ini. Saat beliau hendak pulang, beliau izin pada ibu untuk membawa pulang si kucing liar. Dan langsung diiyakan oleh ibu.
Ibu bilang padaku,"Tadi kucingnya dielus, terus ditanya 'Ikut ibuk pulang ya nak'. Eh kucingnya mengedipkan mata seolah ngasih kode kalau dia mau. Akhirnya langsung digendong, dan kucing itu nurut-nurut saja. Sekarang sudah dibawa pulang."
Mendengar hal itu, aku bahagia sekali sekaligus terharu. Berkali-kali aku mengucap rasa syukur. Bahkan aku pun sempat sujud syukur saking bahagianya. Sebab aku juga kasihan pada kucing itu.
Tadi pagi—benar-benar baru tadi pagi—kucing tersebut masih hidup liar. Nasibnya belum jelas. Tidak ada yang punya. Dan sepertinya, dia pun makan juga kalau ada yang memberi. Dalam sekejap mata, nasibnya kini berubah. Allah pertemukan ia dengan seorang pecinta kucing dan insyaAllah kini ia akan hidup dengan layak.
Aku belajar satu hal dari pengalaman ini.
Betapa mudah bagi Allah untuk mengubah nasib makhluk-Nya.
Aku kemudian menyambung-nyambungkan pengalaman ini dengan diriku sendiri. Sekarang aku masih di titik terendah dalam hidup. Nasibku belum jelas. Masih gagal di sana sini. Bahkan beberapa hari yang lalu, aku sudah mendapatkan kegagalan pertamaku di tahun ini.
Kadang aku merasa hidupku begitu lucu. Ingin sekali aku menertawakan diriku sendiri. Betapa tidak, aku sudah berusaha mati-matian, ujung-ujungnya masih selalu gagal.
Tapi bisa jadi, suatu saat nanti nasibku juga akan berubah selama aku tidak menyerah. Aku akan berjuang lebih keras lagi, entah bagaimana caranya. Yang jelas, nasibku juga harus berubah.
Ah Mpus, baru ditinggal sehari aku sudah rindu suaramu minta makan. Semoga kamu tidak melupakanku dalam doa-doamu ya. Tolong doakan aku, semoga nasibku juga membaik, sama sepertimu.
(17 Februari 2024 | 16:40 WIB)
Traveling Pemikiran: Menghidupkan Akal, Membangun Nalar
Ada dua quotes tentang buku yang terkadang menggelayuti pikiran saya; yang satunya familiar, dan yang satunya lagi gak familiar (hampir gak ditemukan di Google kalo kita search).
“If you only read the books that everyone else is reading, you can only think what everyone else is thinking.” — Haruki Murakami, dalam bukunya Norwegian Wood
“Wahai engkau yang meminjam buku dari saya. Ketahuilah, bagiku meminjamkan buku adalah cela di dunia ini. Hanya bukulah kekasih saya. Apa komentarmu pada orang yang tega meminjamkan kekasihnya?” — Syaikh Ahmad Abdurrahman Al-Banna As-Sa'ati (Ayah Hasan Al-Bana)
Sekilas kedua quotes itu tampak keren, dan kita cenderung meng-iya-kannya. Tapi kalo saya maknai secara mendalam (uhuk, mendalam katanya~), keduanya memiliki sifat negatif. Keduanya sama-sama ‘menyerukan’ agar insight/pemikiran/ilmu gak tersebar secara luas, ekslusif, dan inaccessible (sulit diakses).
Haruki Murakami secara tersirat mengajak kita untuk gak membaca buku-buku yang dibaca oleh kebanyakan orang. Jadi seolah-olah kita diajak untuk membaca buku-buku lain yang anti-mainstream agar pemikiran kita juga anti-mainstream. Dan menurut pemaknaan saya, orang lain gak perlu tahu buku-buku apa yang kita baca.
But there is a part of me yang gak setuju dengan gagasan Murakami ini. Kalo itu menyangkut valuable knowledge dan useful insights, kenapa gak disebarkan aja? Kenapa gak mengajak banyak orang untuk membacanya? Kenapa gak pintar dan cerdas berjama’ah aja? Kalo kita belum pernah membaca, apalagi dalam kondisi tertinggal, kenapa gak baca aja buku-buku yang dibaca oleh banyak orang?
Ayahanda Hasan Al-Bana memberi gagasan bahwa buku adalah sesuatu yang sangat berharga, layaknya kekasih. Jadi meminjamkan buku adalah cela baginya (dan bagi orang lain juga).
Sebagai seorang yang posesif terhadap barang-barang milik pribadi (terutama buku), tentu saya sependapat dengan Syaikh Ahmad. Saya adalah orang yang suka merawat buku dan protektif banget. Tapi dulu saya masih “oke-oke” aja meminjamkan buku-buku saya. Lalu banyak pengalaman yang mengecewakan dan gak menyenangkan pasca peminjaman buku, yang akhirnya membuat saya ogah meminjamkan buku-buku saya ke siapapun. Orang-orang hanya saya bolehkan membaca di rumah saya, tidak untuk membawanya pulang/ke tempat lain.
Dan lagi-lagi, there is a part of me yang gak sependapat dengan Syaikh Ahmad. Sebab saya sendiri juga ada kalanya adalah orang yang meminjam buku (meski jarang banget). Alasan kedua adalah karena banyak orang yang underprivileged, sehingga gak mampu membeli buku. Alasan ketiga adalah di masa kejayaannya, Islam menjadi sebuah peradaban ilmu. Perpustakaan dan toko buku berserakan dimana-mana, karena yang membuka dan menjajakan adalah perseorangan/pribadi-pribadi, orang per orang, gak hanya instansi terkait.
Dalam bukunya yang berjudul “1001 Inventions: The Enduring Legacy of Muslim Civilization”, Salim T.S. Al-Hassani menyatakan (langsung aja saya terjemahkan ke Bahasa Indonesia):
Buku-buku disajikan dan banyak kaum terpelajar/intelektual yang mewariskan perpustakaannya ke masjid kotanya untuk memastikan pelestariannya dan untuk membuat buku-buku tersebut dapat diakses oleh para pelajar yang sering mengunjunginya. Maka tumbuhlah universitas-universitas besar Cordoba dan Toledo yang mengguncang umat Kristen dan juga Muslim.
Dikatakan bahwa Khalifah Abbasiyah Al-Ma'mun membayar para penerjemah dengan emas untuk setiap buku yang mereka terjemahkan dari bahasa Yunani ke bahasa Arab. Dari sini menghasilkan persediaan buku yang sangat banyak, yang menarik perhatian dan rasa hormat dari generasi berikutnya, baik Muslim maupun non-Muslim. Selama periode Abbasiyah, ratusan perpustakaan—yang banyak dimiliki secara pribadi—dibuka, sehingga membuat ribuan buku tersedia bagi pembaca (alias accessible).
Koleksi buku masyarakat begitu luas sehingga mustahil menemukan masjid, tempat belajar, tanpa koleksi buku. Sebelum bangsa Mongol menghancurkan Baghdad pada tahun 1258, kota ini memiliki 36 perpustakaan dan lebih dari 100 pedagang buku, beberapa di antaranya juga penerbit, mempekerjakan banyak penyalin (copyists). Ada perpustakaan serupa di Kairo, Aleppo, dan di kota-kota besar Iran, Asia Tengah, dan Mesopotamia.
Perpustakaan masjid disebut “Dar Al-Kutub” atau “The House of Books”, dan menjadi pusat kegiatan intelektual. Di sini para penulis dan cendekiawan mendiktekan hasil studi mereka kepada khalayak dari berbagai kalangan—dari kaum muda, cendekiawan lain, dan orang awam yang tertarik. Siapa saja dan semua orang bisa ambil bagian dalam diskusi. Kemudian profesional warraqs (penyalin naskah/buku) atau scribes (juru tulis) menyalin dan mengubahnya menjadi buku. Bahkan ketika buku-buku itu dipesan secara khusus, buku-buku itu masih akan diterbitkan dengan cara seperti ini.
When book lovers died, it was a tradition that they would donate their collected manuscripts, sometimes thousands of volumes, to the mosque libraries for all to enjoy. (Ketika para pecinta buku wafat, sudah menjadi tradisi bahwa mereka akan menyumbangkan manuskrip yang mereka kumpulkan—terkadang ribuan volume—ke perpustakaan masjid untuk dinikmati semua orang.)
Jadi begitu, gengs. Ruang privasi diubah menjadi ruang publik. Di sana terjadi pertukaran insight, ilmu, gagasan, ide, wacana, informasi, dll. Ilmune gak dipendem dewe (Ilmu mereka gak disimpan sendirian, tapi disebarkan). And as the saying goes, “Apa gunanya banyak baca buku kalau mulut kau bungkam melulu?”
Saat saya traveling pemikiran (read: sedang membaca buku), terkadang saya men-stabilo-i kalimat/kata-kata/paragraf/maklumat yang sudah sangat saya pahami (sebelumnya). Tujuannya agar ketika buku itu dibaca oleh orang lain—khususnya orang yang gak begitu suka membaca—mereka bisa langsung tertuju ke bagian yang di-stabilo-i dan langsung ke intinya.
***Ini buku-buku saya dan saudara kandung saya, ya.... Kalo saya pribadi mah, belum mampu beli segini banyaknya, wqwq. Dan buku-buku yang ada di foto ini pun belinya mencicil selama kisaran 5 tahun terakhir ini.
Dalam buku “1001 Inventions: The Enduring Legacy of Muslim Civilization” juga terselip quote ini:
"The book is silent as long as you need silence, eloquent whenever you want discourse. It never interrupts you if you are engaged, but if you feel lonely it will be a good companion. It is a friend who never deceives or ratters you, and it is a companion who does not grow tired of you." — Al-Jahiz, Muslim Philosopher and Man of Literature, Abad ke-8, Basra, Iraq
Yang artinya:
“Buku itu diam selama kamu butuh keheningan, pintar berbicara kapanpun kamu ingin bercakap. Dia tidak pernah mengganggumu jika kamu bermesraan dengannya, tapi jika kamu merasa kesepian dia akan jadi teman baik. Dia adalah teman yang tidak akan membohongimu atau mengkhianatimu, dan dia adalah teman yang tidak akan bosan denganmu.”
Nah, sejauh apa traveling pemikiran kita? Bagaimana relationship kita dengan buku?
Jember, 30 November 2021
Wah, gak terasa sudah di penghujung November aja! Crazy, it’s one more month left in 2021! :(
Bolehkah aku bertanya-tanya, mendapat darimana ide-ide permainanmu untuk meninggalkanku dan mencariku lagi, lalu meninggalkan lagi dengan cara yang pantasku sebut kejam, beberapa waktu setelahnya kau cari lagi. Bagaimana susah payah kau merakit hati dan menghancurkan lagi? Bagaimana proses janji-janji yang dulu kau kaitkan dikelingkingku kini sudah termakan waktu? Bagaimana cerita mengenai perjuangan kita, perjalan kita? Bagaimana kabar kau setelah tanpa aku?
Haruskah aku terlalu terluka melihat kau yang baik-baik saja setelah lepas dari aku? Tidak, yang ini bukan pertanyaan untukmu, tetapi untuk hatiku.
Berulangkali kubaca buku-buku itu, atau adakalanya hanya dengan memejamkan mata, menghirup aroma, dan menyentuh halaman buku, aku sudah merasa bahagia.
(Haruki Murakami, Norwegian Wood)
@Regrann from @fantrianie - Mencintai perempuan yang gemar menulis, kau harus berhati-hati. Karena bila kau membuatnya sakit hati, kau akan terkejut. Betapa tulisannya lebih dari sekadar mengiris nurani. Ia bisa membuatmu sekejap "mati". (Hal: 35) . #nonabacabuku #bookstagram #indoreader #bacabuku #pecintabuku #bukunyazee #perempuanpenggenggamrindu #tiasetiawati - #regrann
Membaca dan Menulis
Salah satu kesenangan dalam hidupku adalah membaca. Membaca adalah aktivitas yang bagiku seperti penyegaran kembali di kala penat. Membaca juga jadi aktivitas "pelarian"-ku. Aku bisa sejenak lupa tentang masalah yang sedang kuhadapi, karena sibuk tenggelam pada halaman demi halaman yang kubaca.
Saat-saat membaca adalah juga saat-saat yang sangat kunikmati. Sehari saja tidak membaca, rasanya seperti ada yang kurang.
Membaca dan menulis adalah dua aktivitas yang tidak bisa dipisahkan. Menurutku, jika membaca diibaratkan sebagai bahan baku, maka tulisan merupakan sebuah produk. Aku pernah mendengar kalimat bahwa gaya tulisan kita akan mirip dengan apa yang kita baca.
Dulu, aku sama sekali tidak terbiasa menulis. Tapi semenjak punya hobi baca buku, mulai muncul keinginan untuk menulis. Banyak hal yang tiba-tiba terlintas di kepala, lalu timbul keinginan kuat untuk segera mengeluarkan semuanya melalui tulisan. Ini wajar. Walau bagaimana pun, membaca sama halnya dengan mengisi kepala dengan gagasan atau ide, dan wawasan. Ada kalanya, semua hal itu menggedor-gedor kepala, meminta untuk segera dituangkan.
Ketika banyak membaca, berarti kita punya banyak hal untuk kita tuang. Mengutip kalimat Afifah Afra dalam buku beliau yang berjudul "How To be A Smart Writer?!":
Menulis adalah proses memberi atau menuangkan. Apa yang akan kita tuang jika kita tak memiliki apa-apa yang bisa kita tuang?
Kebiasaanku menulis mulai terbentuk semenjak aku mengalami banyak hal yang sangat berkesan beberapa tahun lalu. Aku merasa sayang jika apa yang kualami dan apa yang kurasakan tidak diabadikan melalui tulisan. Jadilah aku membiasakan diri untuk menulis.
Dengan menulis, aku belajar bagaimana mengubah rasa menjadi kata, bagaimana membahasakan apa yang kurasakan, bagaimana menyusun kalimat sehingga enak untuk dibaca.
Melalui tulisan pula aku menuangkan semua pemikiran, ide, semuanya. Sampai aku benar-benar lega. Menulis juga memberiku kesempatan untuk belajar bagaimana berpikir secara sistematis, bagaimana menjelaskan secara runut melalui tulisan.
Aku juga menjadikan aktivitas yang bagiku sudah seperti terapi ini sebagai sarana untuk melatih daya ingat. Saat menuliskan apa yang kualami, otomatis aku akan mencoba mengingat-ingat kejadian apa saja yang telah kulalui. Selain itu, aku juga melatih daya ingatku dengan menuliskan apa yang kubaca dari buku. Tujuannya untuk mengikat ilmu, agar apa yang kubaca tidak hilang begitu saja.
Aku ingin terus melatih kemampuan menulisku. Salah satu cara yang hingga kini masih kulakukan adalah menulis buku harian atau diary.
Diary adalah wadah untuk meluapkan semua emosiku. Di sana, kuabadikan momen bahagia, kuabadikan senyumku, dan kucatat pula kesedihanku. Diary juga menjadi saksi bisu air mataku.
Selain di diary, aku juga menulis di blog pribadi, dan di media sosial seperti Tumblr ini. Begitulah. Aku berharap, kecintaanku pada aktivitas membaca dan menulis bisa bertahan sampai nanti-nanti.
(13 Februari 2024| 18:36 WIB)
Jelajahi Dunia Buku di Urpilibros.com – Surga untuk Pecinta Buku!
Jika kamu seorang pencinta buku yang selalu haus akan bacaan baru, Urpilibros.com adalah tempat yang wajib kamu kunjungi! Urpilibros.com adalah toko buku online yang menawarkan beragam koleksi mulai dari sastra klasik hingga novel terbaru, non-fiksi inspiratif, hingga literatur anak-anak. Dengan tampilan website yang mudah dijelajahi, kamu bisa menemukan buku favoritmu hanya dalam beberapa klik.
Apa yang Membuat Urpilibros.com Menarik?
Koleksi yang Lengkap: Dari fiksi hingga non-fiksi, ada pilihan buku untuk semua kalangan dan minat.
Fitur Rekomendasi Buku: Bingung memilih buku? Urpilibros.com menyediakan rekomendasi sesuai genre favoritmu!
Diskon dan Promosi Menarik: Nikmati berbagai penawaran diskon yang membuat belanja buku jadi lebih hemat.
Pengalaman Belanja Mudah: Urpilibros.com memiliki antarmuka yang sederhana, sehingga kamu bisa menemukan dan membeli buku dengan cepat.
Bagi yang ingin memperluas wawasan atau sekadar menikmati kisah menarik, Urpilibros.com adalah tempat yang tepat untuk memperkaya koleksi buku. Coba kunjungi sekarang dan temukan dunia baru di setiap halamannya!