Kisah Kasih dari Bangsal Anak &Ridho Ibumu
Hari ini hari ketiga masa orientasiku di bagian Anak, Ilmu Kesehatan Anak.
Cerita yang ditulis sembari menghilangkan kantuk untuk mengerjakan laporan kasus.
Dua hari di bagian Anak, sudah jaga malam di hari pertama stase ini, dan mendatangi bangsal juga HCU (High Care Unit) membuatku tersadar akan sesuatu.
Sehebat apapun diri kita hari ini, Ayah Ibu kita telah terlalu banyak berkorban untuk kita. Meskipun tak ada seucap kata pun dari keduanya meminta balas, barangkali mereguk ridho dari keduanya (terlebih dari Ibu) adalah wujud bakti paling manis yang bisa kita haturkan.
Jaga malamku syahdu, lewat pukul 1 aku baru bertukar shift tidur dengan teman sekelompok jaga. Menjelang subuh, aku dan temanku berkesempatan melakukan PF ke salah seorang bayi berumur 4 bulan. Dan saat itu, ku saksikan di sebuah ruangan dengan 6 bayi juga anak2 sedang tertidur dalam pelukan hangat Ibundanya. Barangkali, kemewahan terbesar dan kebahagiaan hakiki adalah mendapatkan kasih dan sayang Ibu juga Ayah sejak dalam hembusan napas pertama.
Aku diam sejenak, terbersit bagaimana aku masih berperangai buruk pada Ibu dan Ayahku. Masih sering ku langgar apa yang dinasihatkan padaku, seperti, "dek, jangan pulang malam. Perempuan tidak baik pulang malam hari terkecuali memang mendesak." Dan sedihnya, di masa kuliahku sering kali satu dua hal membuatku pulang larut malam.
Sungguh, takkan ada yang mampu membalas semua kebaikan hati Ayah dan Ibu. Yang berusaha sekuat tenaga menjamin kebahagiaan, keselamatan anak-anaknya.
Maka, bila kita kita telah bertumbuh menjadi pribadi dewasa selayaknya Ayah dan Ibu, bila memang ada keinginan yang terpendam, keduanya yang sangat layak menjadi pendengar pertama dari semua cita dan harap itu. Maka, bila kita telah bertumbuh menjadi pribadi yang siap bertanggung jawab atas semua pilihan-pilihan kita, pada Ayah dan Ibu lah ridho yang kita harapkan di setiap tapak langkah kita.
Barangkali, Al Quran menyebut jangan pernah sekali kali pun berkata "ah" pada Ayah dan Ibumu, memang tepat adanya. Kebaikan hati keduanya, takkan pernah mampu kita balas dengan apapun.
Barangkali, disisa hidup kita, membahagiakan keduanya, membuat keduanya ridho akan diri kita akan semua keputusan keputusan kita adl salah satu wujud nyata bentuk terimakasih dan bakti kita sebagai anak.
Dan barangkali, memang sungguh benar adanya.
Kunci dari kebahagiaan dunia akhirat kita, keberhasilan semua impian-impian kita adl mendapatkan ridho Ibu dan Ayah sejak langkah pertama keinginan atau pilihan kehidupan tsb hendak kita ambil.
Terimakasih Bangsal Anak.