Setelah seminggu penuh memperjuangkan apa-apa yang harus diperjuangkan di cimahi jawa barat, saatnya kembali ke rumah. Malam minggu saya paksakan pulang ke rumah agar segera bertemu ibunda tercinta, eh sampe rumah ternyata doi dan pacar kesayangannya (read:ayah saya) kondangan ke rumah saudara, akhirnya dengan berat hati saya mengakui kejombloan saya di malam minggu, sen-di-ri-an di rumah . Saya sebenarnya orang yang (cukup) tidak betah sendirian, di rumah pula. Rasanya gemas saja ketika sendirian, saya jadi menyayangkan karena pulang lebih cepat dari menteng raya 58, karena disana banyak teman-teman dan kakak-kakak dari pulau lain yang bertemunya pun jarang.
Karena terlanjur sendirian, saya menghibur diri dengan nonton Ketika Cinta Bertasbih (ini edisi random banget sih), gegara mendengar cerita anak-anak PWK mesir, akhirnya mau #flashback film KCB, (dan endingnya jadi mupeng ke mesir).
Yep, paginya leye-leye plus beberes rumah yang sudah di tinggal seminggu sama anak gadinya ini, terus siangnya lanjut nonton KCB sesi 2 sampai sore, sampai jam 4 sewaktu akan sholat ashar, saya mendengar sayup-sayup rebana dari mushola, yang artinyaaa hari ini ada pengajian bulanan! Yeay, secepat mungkin saya segera bangun dari kasur (yang sangat nyaman ini) kemudian shalat dan bergegas ke mushola.
Untuk saya pribadi, pengajian bulanan bukan hanya sekedar pengajian biasa, suasana silaturrahim dan keramaian serta materinya jadi hal yang tidak biasa. Pengajian bulanan ini sebenarnya pengajian biasa yang isinya adalah sambutan, hadroh (riwayat nabi) dan materi dari pak Kyai. Pengajian ini digagas oleh Pak Kyai sendiri sejak tiga tahun lalu, kenapa jadi istimewa? Karena di pengajian ini mulai dari anak-anak, remaja, ibu-ibu dan bapak-bapak ada di dalamnya.
Jadi, untuk saya anak gadis (sok) sibuk ini, momen pengajian bulanan jadi berharga. Apalagi diadakan setiap hari minggu sore yang biasanya saya masih melanglang buana entah dimana.
Menurut saya, di pengajian bulanan ini saya belajar untuk bermasyarakat, dulu di awal-awal pengajian bulanan saya selalu hadir karena dilibatkan jadi panitia, mulai dari menyiapkan makanan, memberikan undangan kepada remaja-remaja sekitar rumah atau membersihkan sisa makanan selesai pengajian. Tapi sekaraaang, saya bahkan lupa kapan saya terakhir kali ikut pengajian bulanan sebulan sekali ini.
Di pengajian bulanan saya bertemu dengan teman-teman kecil saya, ajang bersilaturrahmi menanyakan kondisi saat ini dan kesibukan saat ini, juga bertemu dengan adik-adik (yang dulu) kecil tapi sekarang mereka sudah menginjak SMP-SMA (terus jadi berasa tua),
Namun yang paling menarik adalah saya menyadari bahwa saya (sudah terlalu) lama tidak bertemu dengan mereka, saya terkejut mendengar kabar ternyata remaja yang bahkan masih satu RT dengan saya ada yang “kecelakaan”, hari ini saya melihat beberapa dari mereka hadir, anaknya sudah satu tahun atau satu setengah tahun, wajah saya heran karena setahu saya mereka bahkan belum lulus SMA, dan saya baru tahu! Atau tentang berita si a menikah, si b anaknya sunatan, si c hamil anak kedua, si kaka z yang sudah menikah dua tahun akhirnya hamil, si kaka d sudah mau lahiran, si kaka p anak keduanya bahkan sudah satu tahun. Haduh, saya rasanya mau menertawai diri sendiri, saya seperi orang yang keheranan melihat segala perubahan, dan menyadari bahwa saya sudah sangat lama menyibukkan diri di luar rumah.
Sampai akhirnya saya pada sebuah kesimpulan dan menanyakan pada diri saya
“Kapan mau fokus bermasyarakat?”
Materi yang disampaikan selalu jadi favorit karena yang menyampaikan Pak Kyai sendiri, materinya tentang manfaat Shalawat dan menjelaskan beberapa baris kitab Riyadus Shalihin. Penjelasannya selalu menarik dan mendalam, mengikut sertakan emosi dan menggertak kesadaran.
Daan, terakhir unsur penting dalam pengajian bulanan yang tidak boleh dilewatkan adalah ngobrol edisi sore selesai pengajian (bukan gossip lho ya), berhubung sekarang teman saya sudah jadi ibu-ibu semua, akhirnya obrolan ga jauh-jauh dari pengasuhan anak, perkembangan anak, hamil muda, cerita lucu pas ngidam, dan morning sick. Kalo saya mah boro-boro morning sick, morning mager baru ada. Endingnya masih sama “jadi kapan mi nau nyusul?, Aku umur dua satu udah mau anak dua nih” hahahaha. “Nanti ya, bareng sama anak ketiga deh” Aminin aja lah ya.