Sejalan dan Sejalin
Sebelum kita dibersamakan dalam satu bingkai yang Tuhan gariskan, maukah kau mengabulkan permintaan untuk berjanji membuat ikatan tanpa ada pengkhianatan di pengakhiran. Merangkai mimpi dan memperjuangkan mimpi. Membuat keputusan menjadi pasti agar tidak menyesal nanti.
Sebuah awal. Jalan yang tak mudah untuk dilalui, tak cukup dengan bermodalkan berani. Perlu adanya kamu yang menyetujui kujadikan peran utama untuk rentetan cerita yang akan kutata. Dari sebuah rangkaian kata menjadi tindakan nyata yang bisa dilihat oleh mata dan dirasakan raga.
Membuat kerangka hati terlebih dulu, supaya jelas apa yang akan dituju. Merangkai niat terlebih dulu, agar kelak tak saling menuntut meminta kebahagiaan yang tak sempat terencanakan.
Sebabnya, maukah dan sediakah saat ini kamu menjalin denganku? Sediakah kamu meng-idealkan kata 'kita' yang aku rencana? Sediakah untuk jalin menjalin, dan sama-sama takut kehilangan diantara aku dan kamu. Tentunya dengan ikatan yang diawali oleh ucapan penerimaan dari kamu.
Setelahnya, kata menjalin akan menjalan bukan? Dari kata 'kita' menjadi 'bersama'. Dari menjaga satu hati menjadi menjaga dua rasa.
Sejalin denganku untuk sejalan di jalan Tuhan.


















