Benteng yang kubangun dulu itu roboh.
Iya, roboh. Dan kamu adalah pelakunya.
Selamat atas keberhasilamu melumpuhkan kuasaku.
Aku kalah. Di depanmu aku takluk, aku luluh, aku jatuh, aku sekarang dalam kuasamu. Bukan, bukan, memang benar bukan kamu yang salah. Salahku kan?
Aku yang tanpa malu mengasumsikan rasamu yang sebetulnya bukan jadi urusanku, cukup berani sekali aku ini ya? apalagi aku cuma pihak yang tidak punya peran apa-apa dalam urusan itu. Menyimpulkan segalanya secara egois, barharap lebih, pada akhirnya patah, berlarut sedih, menyesal, menyalahkanmu.
Salahku kan? Aku yang membangun benteng terlalu rapuh sehingga gampang kamu robohkan bahkan dengan tanpa sadar.
Aku salah telah menuruti ego untuk memasukkanmu dalam daftar rencanaku. Padahal sejak awal aku tahu, kamu hanya singgah sebentar sekedar mampir dan tak pernah berniat menjadikanku rumah. Aku sadar. Dan sekali lagi, ini salahku. Aku mengabaikan semua logika demi ego dan kamu. Kamu tahu?
Aku terlanjur jatuh terlalu jauh di dasar untuk kamu yang terlalu jauh di atas permukaan.
Aku ini memang tidak punya malu. Maaf ya.
Tapi sudah, berjalanlah, lanjutkan semua.
Terimakasih telah sudi singgah sebentar. Dari singgahmu itu aku banyak belajar tentang bagaimana melepaskan tanpa harus membenci, tantang bagaimana seharusnya logika lebih penting dari pada ego. Tentang bagaimana seharusnya seseorang menakar porsi harapan sesuai kesadaran. Terimakasih sudah mendewasakan. Terimakasih pernah menjadi satu-satunya objek dalam puisi puisi milikku. Terimakasih.
Doakan saja, semoga kamu tak berlarut-larut hidup di kepalaku.