Kalau ada yang mencelamu, biarkan saja. Sebab setelah itu kau akan tau kualitas orang tersebut dan juga kualitas dirimu sendiri.
Ternyata kualitas ia hanya sebatas itu. Tidak ada pengetahuan didalam kepalanya. Yang ada hanya kebencian dan memandang sebelah mata orang lain.
Ternyata kualitas mu sehebat itu. Tak terpengaruh hanya karna celaan orang lain. Hanya fokus pada hal-hal yang membuatmu tumbuh. Bukan hal yang membuatmu jatuh.
masa berlalu, kemudian mengubahkan. tidak lagi perlu untuk membuktikan maksud hati dalam setiap tindakan. biarlah jika harus mendapat cela, meski seharusnya tidak. kadang manusia hanya terlalu suka mencela.
Ini ke-dua kalinya gw nulis dengan judul click-bait, nyebut nama orang, orang yang sama pula. I guess I’m only an inch from being a social-climber.
Terlepas dari motifnya which most probably is social-climbing, ini merupakan salah satu upaya gw menebarkan keresahan. Menurut gw generasi muda mah harus resah, karena hanya berawal dari keresahan akan timbul perubahan ke arah yang lebih baik.
Tulisan kali ini lahir dari mention iseng gw ke Gita, ketika dia mengungkapkan keresahan tentang replies yang dia dapat setelah berkomentar tentang salah satu video viral yang dibuat oleh remaja akhir yang belakangan ramai diperbincangkan di jagat media sosial. Alih-alih mendapat respon yang senada dengan keresahan yang dia ungkapkan, justru banyak yang me-reply twit Gita dengan celaan berkedok kritik.
Iya, sebenarnya tulisan ini back-fire dari request gw sendiri -_- Tapi okay, biar nggak kayak kebanyakan warganet yang cuma bisa banyak menuntut idolanya melakukan ini itu tanpa menyumbang apapun untuknya, I’ll try to see what’s the least I can do for sharing my thoughts.
Pertama dan paling utama, mencela tidak sama dengan mengkritik. So, don’t you ever dare to hide your bad deed behind the good word. Karena mencela saja sudah tidak patut, apalagi kalau ditambah mengamuflasekannya dengan kritik. Jadi dua kali lipat tidak patutnya.
Lalu, apa yang membedakan kritik dan cela? Menurut gw, setidaknya ada empat (4) hal:
1. Niat
Kritik selalu dilahirkan dari niat untuk membangun, sedangkan cela... well gw nggak pernah mengerti motif orang mencela tuh apa. Kepuasan diri? Oh, malang betul.
2. Perhatian
Kita hanya bisa mengkritik setelah kita memperhatikan sesuatu yang akan kita kritik. Karena sebetulnya, kritik adalah pendapat yang terkonstruksi di dalam pikiran seiring dengan perhatian detail yang kita berikan terhadap suatu obje. Dengan mengkritik, kita sebetulnya sedang mengapresiasi objek tersebut karena itu berarti kita telah memperhatikannya, dan sebagaimana disebut di poin (1), bersama dengan kritik selalu terkandung saran yang bisa menjadi bahan evaluasi untuk membuat / melakukan yang lebih baik lagi ke depannya.
Sedangkan cela, seprtinya orang mencela karena simply ngerasa mereka bisa melakukan yang lebih baik dari pada yang telah dilakukan oleh si kreator objek yang dikritik. Padahal mah......... *silakan dilanjutkan sendiri*.
3. Sasaran
Karena lahir dari perhatian mendetail, biasanya (dan seharusnya) kritik punya sasaran yang spesifik. Misalnya, kita mau mengkritik suatufilm, maka kita harus tau bagian mana yang menurut kita bisa membuat film itu menjadi lebih bagus dari yang sudah ada. Apakah bagian plot ceritanya, sinematografinya, lagu latarnya, akting pemerannya, naskah atau dialognya, cara penyampaian pesannya, atau apa?
Atau kalau mau mengkritik sebuah tulisan, bagian mana yang membuat tulisan itu menjadi kurang baik? Apakah tata bahasanya, alur penyampaian pendapatnya, logika yang dibangun, penggunaan istilah tertentu?
Atau berbicara restauran / tempat makan, bagian mana yang menurut kita bisa ditingkatkan lagi? Rasa makanannya, kesesuaian harganya, porsinya, perpaduan bumbunya, pelayanannya, kebersihan tempatnya?
Nah, kalau celaan, biasanya dia nggak punya sasaran yang jelas. Ibarat orang pegang senapan, dia blind-shooting dan akhirnya hanya buang-buang amunisi. Eh, pencela tu biasanya punya amunisi nggak sih ketika mencela?
4. Pondasi
Seperti membangun sebuah gedung, semakin kuat pondasinya akan semakin sulit untuk diruntuhkan. Gw bilang di atas bahwa kritik adalah pendapat yang terkonstruksi. Konstruksi ini nggak akan bisa jadi kalau nggak ada dasarnya. Jadi, sebelum mengkritik, pastikan kita punya argumentasi yang mendukung kritikan kita. Argumentasi ini harus valid, berdasar fakta yang ada, atau sudah teruji secara ilmiah~ Cara yang paling mudah kalau mau membuat argumentasi macam ini? Membandingkan! Tapi, yang dibandingkan ni harus setara. Menurut gw ada dua cara membuat perbandingan yang setara: sesuaikan kelas / level antara objek yang ingin kita bandingkan dengan pembandingnya, atau bandingkan dengan hasil karya / kerja dia yang sebelumnya.
Kalau mencela? I don’t think I should talk about it any longer ya, tinggal dibalik aja: tidak punya pondasi, membandingkan tidak setara, dan parahnya, biasanya celaan tuh preferensi personal sehingga nggak fair.
---------------
Empat hal yang gw bahas di atas adalah opini pribadi gw. And for that matter, I very welcome any kind of disagreements, critics, and suggestions which might make this writing better. Feel free to disagree! And for what it’s worth, gw tidak membahas tentang cara menyampaikan kritik, ya, that’s not my area of expertise. All I wrote above is just common sense which I think people should have known.
Oh! There’s one last thing about critic yet absolutely not the least.
Kritik yang kamu sampaikan tentang suatu objek tidak menggambarkan kekurangan dari objek tersebut, ataupun dari kreatornya. Sebaliknya, justru kritik yang kamu sampaikan cukup bisa memberi gambaran tentang dirimu sendiri: tentang cara berpikirmu, preferensimu, dan luas wawasanmu. Emang mau, ketahuan “kosong” justru gara-gara ucapan sendiri? So, from now on, I kindly suggest you to watch it! :)
p.s.: Before writing this, I’ve tried to google about critics, and I found plenty articles about the etiquette of expressing critics instead. So, surf it!
p.p.s.: If you wanna know examples of critics, I suggest you to type any title of your favorite movie on IMDB search bar and then click the Metascore button.