Saya menerapkan ‘aturan’ bagi diri sendiri
atau setidaknya, badan/hati saya mengizinkan konsep ini:
bahwasanya, ketika saya pernah dekat dan menghabiskan waktu berkualitas dengan seseorang, pantang bagi saya memutus komunikasi dengannya
Siapapun itu
Saudara, teman, gebetan, mantan pacar, bos, atau apalah itu.
Sampai hari ini.
Dan berujung saya memendam rindu yang lumayan hebat karenanya.
Saya masih ingat
Seorang pria yang pernah selama 4 bulan menghabiskan waktu bersama dengan saya, tahun lalu.
Kami, dua manusia dewasa dengan tujuan yang sama namun kendaraan berbeda
Tujuan yang sama namun dikelilingi lingkaran yang tak sama
Dipertemukan tahun lalu.
Namun tampaknya
Tuhan hanya mempertemukan, tidak untuk menyatukan.
Kini, hari-hari saya terselip memori baik bersamanya
Tak hanya tawa, tapi juga bagaimana saya melihat adanya sisi diri saya yang bertambah baik setelah mengenalnya
Semuanya sudah benar-benar selesai.
Setelah dia mengakhiri hubungan kami.
Saya kira benar-benar berakhir dengan baik
...karena setidaknya dia masih memilih bertemu dan menyampaikannya empat mata
Bukan sekadar menghilang.
Saya kira ini benar-benar selesai ketika setelahnya saya memilih memutus komunikasi dengannya
Saya, kala itu masih berprinsip “All or Nothing” memandang hal ini
...yang artinya ketika dia memilih selesai, ya selesai hubungan kita sebagai antar anak manusia
Saya tidak bisa (berpura-pura) baik-baik saja di saat di dalam hati hancur karena pernah memberi maaf seluas itu sebelumnya namun berakhir dengan penyelesaian begini darinya.
perasaan saya campur aduk waktu itu
Antara terkejut,
lega,
menyesal,
benci,
dan menyalahkan diri sendiri.
Bahkan sempat berpikir kalau rasa itu tidak pernah dia miliki sejak awal
Bahkan ketika sebulan setelahnya, dia bilang bahwa
“Kita cocok sebenarnya
Tapi ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan”
Saya merasa sudah selesai.
Tapi, tiba-tiba belakangan ini saya merasa butuh ada satu pertemuan lagi.
Satu dan terakhir pun tak apa.
Saya mau bilang, terima kasih.
Saya jadi lebih bisa belajar menghargai, mengapresiasi orang-orang yang saya sayangi. Dari caramu memperlakukan orang yang kamu sayangi dan bagaimana minimnya yang saya lakukan selama ini untuk kamu dan mereka.
Saya juga belajar bahwa berdoa dengan perasaan tawakal itu perlu.
Saya mengilhami ini ketika menyadari bahwa kamu, yang waktu itu ada di hadapan saya adalah antitesis dari banyak kriteria yang saya cari, yang saya doakan. Tapi membuat saya betah, membantu saya menemukan, maunya diri ini. Membantu saya mengukur kapasitas diri, masalah seperti apa yang bisa saya toleransi
Kamu tahu, setelah Januari 2019, saya sempat bertekad untuk tidak mau punya pasangan baru yang kriterianya ada di kamu. Suku, pekerjaan, usia, bahkan nama.
Tapi, 10 bulan berlalu ya
Saya kembali pada diri saya
Saya paham satu hal
Waktu itu, hati saya tidak cukup luas
Bukan untuk memaafkan kamu
Tapi untuk menerima bahwa kenyataan gak selalu sesuai harapan
Kalimat klasik ini, tapi sungguh kuat.
Hehehe
Saya waktu itu menjauh karena marah
Saya marah karena memaksa
Saya memaksa karena menurut saya, bersama adalah yang paling benar
Saya merasa itu benar karena kesan dan harap yang saya bangun sejak awal
Saya membangun kesan tersebut karena kurang membuka mata dan hati
Bahwa kita boleh memikirkan akhir terburuk dari suatu cerita
Tapi, sekalipun tahu, saya alpa menyiapkan diri untuk itu
Saya didorong oleh narasi yang saya munculkan bahwa: lelaki dewasa seperti kamu tidak mungkin mengambil keputusan sekonyol ini. Harap saya setinggi itu memang.
Tapi kembali lagi, saya pelan-pelan mengendurkan ego saya
Sekali lagi, demi kebaikan diri sendiri.
Akhirnya saya sadari, kamu pun mungkin sudah melalui proses panjang untuk mengambil keputusan ini
Dan saya?
Mencoba melihat ke depan sejak masih bersama kamu dan tetap saja, keraguan satu itu sedikit demi sedikit muncul
Saya memang salah, malam itu dengan lancang membuka ponselmu dan menemukan percakapan kalian yang mengejutkan itu. Tapi malam itu jadi pintu bagi keputusan-keputusan besar yang kita ambil setelahnya, kan?
...termasuk untuk melanjutkan hidup bahagia masing-masing
Asal kamu tahu,
Beberapa kali saat terbersit rindu, dibandingkan menggerakkan jari mengirim pesan dari aplikasi ponsel hijau, saya malah memilih berdoa.
Jika saya dan kamu direstui bertemu lagi, saya minta dipertemukan dalam momen kebaikan, dengan cara yang baik, dan membawa kebaikan bagi kita setelahnya.
Saya berdoa kamu dilindungi, didekatkan dengan kebaikan, tidak mengulangi masa lalu yang buruk, dan dimudahkan rezeki.
Ya, cicilan rumahmu masih sekitar 13 tahun lagi kan?
Sekali lagi, saya mau bilang makasih
Lewat kamu, saya bertumbuh
Lewat kamu, saya menemukan sisi lain diri
Lewat kamu, saya jadi mendapati teman-teman baik yang mengerti
Kita dua manusia baik yang tidak diizinkan bertumbuh menua bersama
Jika nanti sudah ketemu yang baru (atau mungkin sudah), sampaikan padanya, kamu pernah punya waktu baik bersama gadis yang mengenalkanmu pada standup comedy, serta mencintai buku dan galeri seni ya