Itu bukan janjiku. Itu janji Tuhan untuk mereka-mereka yang ahli Quran.
Ibu, aku tahu kau kecewa berat dengan hafalanku. Ekspektasimu benar2 hancur bukan? Biaya dan tenaga yang kau keluarkan untukku seperti tak ku indahkan bukan? Bahkan kau mungkin menyesal karena pernah bilang pada orang2 bahwa putrimu telah hatam alquran. Bukankah aku sudah melarang untuk mengumumkan? Tapi sudahlah, mungkin karena dulu kalian terlalu senang, hingga hilaf membanggakannya di depan handai taulan, para tetangga pun tak luput teman rekan. Sekarang yg ada hanya sesal bukan?
Ibu, aku bisa melihat dengan jelas gurat kekecewaan itu di wajah dan ucapan2mu. Maafkan aku. Sungguh maafkan putrimu.
Ibu, terserah jika kau bilang ini hanya pembelaanku. Tapi jujur inilah isi hatiku...
Menghafal alquran benar2 tak semudah itu, ibu. Tentang anak2 kecil di tv itu, atau penghafal2 keren yg di sosmed itu, atau para peserta MHQ yg juara satu itu, mereka begitu mengagumkan bukan? Aku begitu paham. Perjuangan mereka pasti sangat melelahkan. Hingga mereka bisa begitu membanggakan. Pasti perjalanan dan perjuangan yg panjang. Yang belum, bahkan tidak akan bisa kulakukan.
Menghafal alquran benar2 tak semudah itu, ibu. Sungguh. Entah berapa puluhan kali putrimu ini terjatuh. Dari sekedar mengeluh, merasa jalannya keliru, ragu dan merasa tak mampu, menangis tersedu, hingga hampir menyerah, ibu. Nyatanya, menghafal alquran benar2 tak semudah itu.
Hafalan utuh, bisa melanjutkan ayat2 yg rancu, tahu dimana posisi ayat ini-itu. Semua itu juga yg kudamba, ibu. Tapi sekali lagi menghafal alquran benar2 tak semudah itu.
Ibu, asal kau tahu. Perjuanganku sudah sungguh2, ibu. Meski tak jarang rasa malas itu datang bertamu, sekali dua kali aku menuruti nafsu. Hingga dengan sengaja tak mendaras quranku. Tapi percayalah ibu, aku tak pernah main2 dengan cita2ku untuk memakaikan mahkota dikepalamu. Sungguh. Tapi ketahuilah itu bukan janjiku.
Itu janji Tuhan untuk mereka2 yang ahli quran. Sedangkan tak pernah ada jaminan. Apakah aku masuk dalam yang dikategorikan. Kau pun tahu macam mana ku punya hafalan. Belepotan dan tak karuan. Jadi kumohon jangan berharap berlebihan. Pun jangan kecewa ataupun heran. Bila kelak disana tak ada mahkota ataupun jubah kebesaran. Yang kau pikir akan kau dapatkan. Karena (katanya) putrimu hafal Alquran. Padahal ternyata mengecewakan. Jadi sekali lagi jangan harapkan. Juga maafkan
Tapi, asal kau tahu ibu, dari semua keluh kesahku, ternyata aku tak pernah benar2 menyesali semua itu. Kau tahu apa yang membuatku bertahan meski berkali2 terjatuh ibu?
adalah kesediaan Tuhan memilihku_satu dari putrimu_ untuk menghafal kalam2Nya yang indah itu. Aku sungguh bersyukur akan hal itu ibu. Aku sudah berdamai dengan segala kekuranganku dalam menghafal ibu, sungguh. (Meski kadang ekspektasi dan tuntutan orang2 kembali membuatku risau). Aku benar2 bahagia berada diposisiku. Sungguh.
Melihat aku yang dulu. Yang tak tahu ini-itu, yang tak begitu mengenal Rabbku, yang bodoh tapi berlagak nomor satu. Ternyata aku sudah melangkah jauh ibu. Peduli setan dengan mereka yang sudah berada jauh didepanku. Aku bahagia dan bersyukur berada ditempatku. Karena Rabbku telah memilihku, putrimu. Jadi, bisakah kau ikut bahagia dan bersyukur bersamaku? Setidaknya untuk yang satu itu, ibu!
Oh iya ibu, apa kau tahu? Diam2 aku berdoa pada Rabbku. Agar pahala2ku dalam menghafal, Ia limpahkan untukmu. Juga untuk orang2 yang berjasa dalam hidupku. Aku tak tahu pasti apakah transaksi pahala itu berjalan sesuai doa2ku atau tidak. Tapi semoga kelak disana, kau tak lagi kecewa padaku. Karena melihat nominal2 pahala yang tak kau tahu darimana asalnya itu.
Pada akhirnya, semoga berkatku, kau (lebih) disayang Rabbku. Karena tanpaku, kau sudah disayangNya lebih dulu.
Tertanda, putrimu yang tahu bahwa kau se-kecewa itu.