Manusia Mendamba Gawai
@kekatazain11
Percakapan kami bermula dari sekadar komentar status story WhatsApp, mengenai hal-hal yang dulu pernah kami lalu bersama. Peristiwa itu hanya berputar di kepala dan berakhir kenangan. Kami tak pernah bertemu lagi, masing-masing sibuk dengan peran yang baru. Ia masih menetap di salah satu pondok di Solo, sedang aku kembali ke tempat tinggal. Dari hanya sebuah komentar tersebut, berlanjut menanyakan kabar-kabar dan mengenang hal yang telah lalu. Sebelumnya kami, tak pernah bercakap panjang. Begitu mudahnya suasana terbentuk, hanya sebab status WhatsApp. Sudah lumrah gawai mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat. Pertemanan pada akhir hanya berujung saling melihat. Ya, hanya melihat status WhatsApp atau sesekali mengkomentari. Perasaan sungkan lebih mendominasi dan lantaran masing-masing sudah berbeda pemahaman. Gawai seakan menguasai segala hal dalam di hidup manusia. Semua perkara manusia dapat ‘digawaikan’ dan ada di media sosial yang kian canggih. Dalam hal media sosial, ada Instagram, Line, dan Twitter. Media lain ada Facebook atau Friendster. Sekarang jika masih ada yang menggunakan dua media tersebut terlihat ‘tua’ sekali bukan? Perkara ibadah juga demikian, Alquran dan jadwal salat ada di gawai. Ojek online yang hijau juga tengah mendunia. Terakhir kabar yang terdengar pembayaran SPP melalui Go-Pay. Wah terima kasih gawai, sungguh jasamu luar biasa!
Mengutip perkataan Setyaningsih (2016:117) yang sekaligus penulis Bermula Buku Berakhir Telepon, jika gawai atau telepon adalah kemajuan bagi orang-orang yang takut sepi dan sendiri. Gawai senantiasa menghadirkan rasa aman dan nyaman. Tak terhitung layar gawai ditekan oleh tubuh dengan berbagai rasa. Bahagia, marah, kesal, sedih, antusias, dan rasa yang lainnya. Tubuh tak bisa menahan untuk tak berlama-lama dengan gawai. Hal itu juga terjadi jika seseorang merindukan kekasihnya. Serasa hanya gawai yang menjadi perantaranya. Menyampaikan perasaan yang meletup-meletup dan menahan penasaran yang menyusup ke ulu hati. Hal ini betul terjadi oleh Zhongwen, yang berharap Asma akan mengucapkan sesuatu untuknya, ucapaan terima kasih misal. Ucapan itu dapat digunakan Zhongwen sebagai alasan untuk sekadar menanyakan kabarnya. Lama ia menatap gawainya dan tak ada tanda-tanda Asma akan menghubungi. Pada akhirnya ia hanya mendamba rindu. Zhongwen adalah tokoh dalam novel Assalamualikum Beijing garapan Asma Nadia (2014). Jelas gawai sebagai perantara menciptakan rasa rindu yang begitu hebat. Bukan hanya Zhongwen, manusia lain yang kasmaran seakan-akan pertanyaan sepele selalu diutarakan melalui gawai: sudah makan? sedang apa? sudah tidur? penjembatan dua orang yang tengah berusaha mendekat. Pertanyaan sepele, namun dianggap sebagai ritual wajib. Begitulah benda mungil yang memuat miniatur kehidupan manusia. Arah kehidupan manusia tak melulu tentang apa yang ada di gawai.
Selasa, 3 Februari 2020















