Di Balik Jeruji Ilmu
Perempuan, jika tidak disibukkan dengan ilmu, maka ia akan gila disebabkan oleh perasaannya.
Belakangan aku menyadari, ilmu yang bermanfaat bukan hanya terletak pada kemampuanmu dalam menyampaikannya dengan baik, menambah 2-3 referensi tambahan, lalu menyederhanakannya dengan contoh-contoh yang relevan. Belum. Ilmu dikatakan bermanfaat ketika pengetahuan yang kau pahami itu benar-benar dapat berfungsi sebagai "penjaga bagi pemiliknya".
Pernah ada, masa di mana futur melanda hati kami (muslimah), terbesit ingin menerobos batas yang sudah ditetapkan syariat. Rasanya, sesekali mungkin tidak apa mencoba menuruti perasaan yang tak kunjung bersemi. Kering kerontang. Kala peluang itu datang untuk mewujudkan angan, siapa yang tahan menolak kesempatan?
Meski berjuta-juta manusia di luar sana mengatakan "ini bukan dosa," hati kami tetap memberontak. Pertarungan pun dimulai!
Otak: "Jangan pedulikan omongan mereka, toh, kita semua pendosa, cuma beda bentuk dan jenis pelanggarannya saja". Hati: "Lalu, bagaimana dengan tumpukan buku yang sudah kau baca? Ratusan podcast yang sudah kau dengar? Puluhan majelis yang kau sambangi? Dan waktu yang kau dedikasikan untuk ilmu? Apa kau sudah siap menanggung rasa kecewa terhadap dirimu sendiri?".
Seandainya semua niat burukmu berjalan lancar pun, bukan puas yang kau dapatkan. Karena kau tau, segala yang dimulai dengan cara yang tidak baik, akan berakhir dengan rasa penuh penyesalan.
Waktu itu, tidak ada nasihat yang terdengar masuk akal! Tidak ada satu jiwa pun yang mampu memahami jiwamu yang kosong itu. Kau hanya ingin merasakan sensasi banyak kupu-kupu terbang menggelitik lambungmu. Bahkan, kau merasa kesal, karena terlanjur belajar ilmu agama di waktu muda, sedangkan nafsumu menggebu-gebu ingin melakukan kebodohan-kebodohan yang lumrah terjadi di antara seusiamu.
Oh, Tuhan. Pertarungan macam apa ini?
Sementara kepala dan hatimu terus berselisih. Tidak ada yang mampu melerai keduanya, kecuali keputusanmu. Dan tidak ada keputusan yang paling bijak, kecuali dilandasi oleh ilmu. Suara-suara kebenaran tidak pernah bungkam, hati kecil menuntunmu untuk berlaku jujur dan bertanggung jawab. Seperti menemukan secercah cahaya di antara gelap gempita. Di balik jeruji ilmu, kau selamat dari perangkap nafsu.
Kalau kata Tulus, "percayalah, rindu itu baik untuk kita".





















