Bika Ambon dan Kue Lepat Buatan Mamak
Setiap kali aku ingin menutup pembicaraanku dan ibuku via telepon, beliau selalu mengajukan pertanyaan tambahan soal biaya pengiriman paket dari Medan ke Jakarta. Aku tanya mau kirim apa, dia bilang "entah apalah, nanti."
Karena biaya pengiriman dianggap cukup mahal hitungan perkilonya, jadi beliau hanya bisa mengirimkan harapan, kalau saja peluang itu terbuka, dia mau mengirimkan panen buah duku, rambutan, bumbu rendang, bahkan indomie satu kardus. Mungkin dalam bayangannya di tempat aku bermukim (asrama) akan sulit mendapatkan itu semua.
Singkat cerita, teman kamarku pulang ke Medan sepekan yang lalu untuk menghadiri acara keluarga. Langsung aku kabarkan ke Mamak, barangkali dia masih punya cita-cita ingin mengirimkan sesuatu untuk anaknya yang hidup di perantauan ini.
Benar saja, beliau begitu antusias ingin belanja ke pasar, mulai bertanya-tanya sendiri tentang harga daging, jadwal gerai langganannya, dan memikirkan mekanisme pengirimannya nanti seperti apa. Biar keinginannya berjalan sesuai rencana, katanya beri kabar padanya 2 hari sebelum temanku balik ke Jakarta.
Tapi yang aku lakukan justru sebaliknya. Malam sebelum temanku kembali ke Jakarta, aku kabarkan jadwal penerbangannya. Aku sengaja memberi informasi mendadak agar beliau membatalkan rencananya. Tentu saja aku tidak ingin merepotkan mamakku. Tapi aku salah, dia lebih kenal tabiat anaknya.
Dibalik ungkapanku yang engga minta apa-apa, sebenarnya dia tau aku begitu menginginkan sesuatu, apapun itu. Kemudian dia mengusahakan semua yang dia punya, pergi ke toko bakery, lalu membeli 1 loyang bika ambon. Lantas buru-buru pergi ke Bandara, untuk segera menemui temanku.
Setelah bungkusan itu berhasil dititipkan, beliau mengirimkan pesan melalui nomor whatsapp ayahku, "Ca, mamak tadinya mau kasi roti gembul tapi enggak sempat beli, jadi gantinya lepat ubi, kebetulan mamak baru masak."
aku gabisa mengukur seberapa dingin hubungan kami selama ini, sampai kalimat yang beliau susun dengan susah payah karena tidak terbiasa menggunakan handphone, jadi terasa begitu hangat. Beliau mungkin tau kalau aku tidak pernah suka berbagai jenis makanan tradisional, tapi tetap saja dia kirimkan, mungkin dia mengira anaknya akan malu karena kirimannya tidak banyak. Padahal, seandainya hanya dikirimkan bekal nasi dengan lauk telur dadar campuran bawang saja aku sudah bahagia bukan kepalang.
Begitulah wanita yang dicintai ayahku, dia banyak mengalahnya, banyak mengusahakannya, juga banyak memaklumi.
Makasi banyak ya, Mak.














