lorong yang menunggu
hidup tak selalu membuka pintunya lebar-lebar.
kadang hanya lorong sempit—seperti celah di antara dua kontainer—lalu menunggu siapa yang cukup sabar untuk melewatinya.
seen from Netherlands
seen from United States

seen from Türkiye

seen from Czechia
seen from Italy
seen from United States
seen from Hungary

seen from Hungary
seen from United States
seen from Netherlands

seen from Czechia

seen from United States

seen from Poland
seen from France

seen from Denmark
seen from France

seen from France

seen from United States

seen from United States
seen from United States
lorong yang menunggu
hidup tak selalu membuka pintunya lebar-lebar.
kadang hanya lorong sempit—seperti celah di antara dua kontainer—lalu menunggu siapa yang cukup sabar untuk melewatinya.
Semangat!! Tugas kita adalah berikhtiar. Serahkan sisanya dengan bertawakal.
Ketidaksempurnaan (part 2) Aku masih berjuang. Setelah 3 tahun belakang terlalu santai dengan hidupku. Sudah hidup 25 tahun di bumi ini, inilah waktu terberat dalam hidupku. Yaa.. masalah ini aku yang buat dan sekarang aku menanggung resikonya. 3 tahun yang lalu memutuskan untuk berburu rupiah. Agar aku bisa menghidupi diriku sendiri dan membiayai kuliahku. Rasanya di usia saat itu, bergantung pada orang tua adalah sesuatu yang memalukan. Baru mencicipi peluh keringat sendiri, aku terlena. Kuliah ku tinggalkan. Sibuk mengumpulkan rupiah dan amanah orang tua ini ku lalaikan. Bisikan syaitan mengatakan untuk berhenti saja dan melanjutkan apa yang sudah ku pilih. Namun, mengingat perjuangan untuk bisa lolos di PTN ini membuatku mengurungkan niat untuk berhenti. Pikiranku bercabang ketika ada keinginan lain dalam hati. Selain harus menuntaskan skripsi, kesendirianku juga harus ku tuntaskan dengan menemukan sang pujaan hati. Tetapi, akankah ia bisa menerima aku yang masih semberawut dengan hidup. Disaat kantong sudah bisa ku isi sendiri, tetapi kuliahku belum selesai. Ah title... Ku sampaikan niat pada si perantara. Meminta untuk mencarikan yang bisa menjadi pujaan hati. Sebelum si perantara menemukannya, ku selesaikan apa yang harus ku selesaikan. Aku bingung tapi ingin. Ku usahakan untuk selesai. Pekerjaan yang membuat pusing, skripsi yang harus selesaikan sebelum jatuh tempo. Hidup ini terasa seperti menyempit menjadi sesuatu yang menyakitkan. Setiap ku kalut, si perantara selalu mengingatkan agar ingat Tuhan. Ku susun targetan ibadah. Agar hati ku tenang. Bisa saja, rumitnya hidupku tanda kurang nya interaksiku pada Tuhan. Sholatku, tilawahku, puasaku.. Untukmu yang akan ku pinang, bersabarlah dan bantu aku juga untuk bersabar. Urusanku, sedikit lagi, akan selesai.... -Azelais- #part2 #pengennikah #kuliajbelumselesai #25tahun #ikhtiyar #antara #sabar #pasrah https://www.instagram.com/p/Bzw5i9qBkF2/?igshid=1qqj4e9jmidut
Bukan Temu
Untuk apa temu, kalau pada akhirnya lagi-lagi dipisahkan. Sesering kita bertemu, tapi pada akhirnya aku tidak bisa memilikimu, layaknya aku membiarkan luka lama mengering, menjadi koreng, dan kau kupas lagi itu luka. Sesering itu kamu bercanda pada luka. Karena kamu tak merasa. Sungguh, kita bukan kurang temu, tapi kita kurang percaya, saling menguatkan bahwa kita sebenarnya bisa.
Ikhtiyar dulu. Titik. Saya merasa ter-sadar-kan kemarin. Dalam mengajari ngaji anak yang punya kecerdasan dibawah rata-rata, kita harus sabar dan bahagia. Tidak boleh dibentak. Disitulah tantangannya. . Barangkali, kelak.. dialah orang yang akan menuntun kita ke surga. Bukankah sebuah hal yang hebat jika bisa sampai anak itu benar-benar lancar, fashih membaca Al-Qur'an? . Robbighfily.. ternyata kesabaran saya tak ada apa-apanya. Untuk mengajari 1-2 anak seperti itu saja, masih sering alpa karena mikir murojaah, lelah atau yang lain. . Allah tidak meminta hasil, tapi ikhtiyar kita. Bukan seberapa banyak, tapi seberapa manfaat. Yang penting ikhtiyar? Masalah hasil atau pahala Allah yang tentukan. . Merasalah butuh dengan pahala. Karena kita tak pernah tau amal mana yang bisa menghapus dosa. #NtMS #motivasi #ikhtiyar
Kukatakan ini bentuk ikhtiyar-ku bukan galau-ku
Sekian kali, rasa keingintahuanku akan ilmu suatu hal yang indah sangat mudah terpecah dikarenakan disekelilingku menghujat hal indah itu. Namun, paling tidak aku masih bisa bersyukur karena banyak rentetan doa yang terselip untukku. Sebenarnya yang kalian lihat sebagai galau-ku adalah bentuk ikhtiyarku yang mulai kuanggap sesuatu yang mengkhawatirkan.
Dengan umurku yang saat ini masih muda dan produktif, sebisa mungkin inilah aku yang ingin berusaha menjadi terbaik, bersama yang terbaik dan melakukan yang terbaik. Bukan sekedar rasa kesepian yang menghujamiku. Di saat terbaik yang mungkin sedang Allah persiapkan, aku ingin mempersiapkan yang terbaik yang bisa kuusahakan. Untuk itu aku tak hanya ingin sekedar bicara dan memberikan ceramah kosong ke orang lain. Aku ingin berusaha menemukan yang terbaik di antara yang terbaik.
Ikhtiyarku, bukan berarti apa yang kulakukan selama ini adalah bentuk kegalauanku. Bahkan ikhtiyar atas ilmu dan amal ini kulakukan sebagai rasa yang terkendali untuk menunggu saat yang tepat dimana Allah akan memberikan anugerah terindahnya untukku dengan menyempurnakan separuh dien-ini. Atas bangunan hati yang terbesar dan terlapang yang akan kutunggu saat dimana ia mampu menunaikan hajat hidupnya, yang dengan janjinya bak bukit Tursinay terasa terbeban di pundaknya. Sungguh aku tak tega untuk melihatnya memikul sendirian. Maka dari itulah akupun berikhtiyar yang terbaik. Dengan kesanggupannya yang kelak ia utarakan akan menjadi berkah yang Allah limpahkan untuk bisa meniti jalan kebaikan ini. Pemikiran atas kesanggupan inilah yang bukan hal main-main, bukan urusan waktu, tempat maupun orang lain namun kesanggupan atas kepercayaan hamba yang siap menerima amanah dari Tuhannya untuk terus membumikan kalimah-Nya.
Jadi, untuk saudara/I –ku mari belajar terbaik selama kita bisa lakukan. Berusaha menuntut ilmu dan melaksanakan amal dengan baik. Jangan meng-olok yang lain, silahkan semangati saja agar kelak semangat itulah yang akan kembali padamu untuk berusaha yang terbaik pula…
Surabaya 31/12/2014
Bunga Kertas
Seperti kemasan jika kau menginginkan yang baru, akupun juga begitu.
Mari berlomba meningkatkan kualitas iman & diri. Selebihnya tawakal pada Sang Maha Cinta Allah Ta'ala...