Aku ingin mengobati rindu dengan sapaan, 'apa kabar ?'. Namun kemudian aku urungkan , karena aku yakin setelahnya bukan rinduku yg terobati tapi akan semakin bertambah. #kacaberdebu https://www.instagram.com/p/BS5WggTAtP1/?igshid=1niex6ud85fm3

seen from Malaysia
seen from Japan
seen from India
seen from China
seen from United States
seen from United Kingdom
seen from Hong Kong SAR China
seen from Japan
seen from United States
seen from United Kingdom

seen from China

seen from Malaysia
seen from France

seen from United States
seen from Yemen
seen from United States
seen from China
seen from Yemen

seen from United States

seen from Australia
Aku ingin mengobati rindu dengan sapaan, 'apa kabar ?'. Namun kemudian aku urungkan , karena aku yakin setelahnya bukan rinduku yg terobati tapi akan semakin bertambah. #kacaberdebu https://www.instagram.com/p/BS5WggTAtP1/?igshid=1niex6ud85fm3
An Empty Heart
“Hujan membuatku berharap, hujan membuatku menanti kemudian”
Ah, rasanya tak sesakit itu ditinggalkan melepas lajang. Hanya sedikit ingin berkata-kata kasar tapi urung kulakukan. Aku benci mengingatnya, tapi kata terakhir yang dia ucapkan adalah “doa terbaik darimu akan kembali kepadamu, La”. Baiknya pikiranku adalah ingin mendapatkan doa terbaik juga dan kasih sayang yang Besar dari Yang Maha Penyayang.
Langit sepertinya sedang senang menggodaku, dengan rintikan hujan yang turun setiap harinya, pada akhir masa study ku. Semua itu berarti, ketika aku sudah tak banyak kegiatan di rumah, keseharianku adalah berada dalam petak 5x4 kamarku dan aku harus berpikir serta menyeleksi apa kegiatan yang aku lakukan. Menyeleksi?
Aku akan membatasi penggunaan sosial media instagram pribadiku dan hanya akan sering membukanya dalam akun resmi yang aku pegang. Mengapa? Begini….
16 Februari 2018 , masih di awal tahun genap yang aku suka angkanya. Bukan karena suatu ramalan atau ke hoki an. Aku memang suka angka genap, apalagi angka delapan yang terlihat tanpa garis putus. Awal tahun yang banyak hujan diturunkan, itu berarti tahun ini juga padi akan di panen berlimpah jika tak ada gangguan alam lain. Awal tahun yang mendebarkan karena siding skripsiku dilaksanakan pada tanggal 02 Februari 2018, pada hari jumat dan aku rasa aku berhasil. Awal tahun yang juga dalam waktu singkat hatiku di buat tertarik dan dipatahkan kasar setelah sebelumnya segalanya berjalan baik-baik saja.
Bulan Agustus 2017, seorang pria baik berkenan mengenalku dan memberitahukan niatnya. Aku biasa saja awalnya, tapi benar saja peribahasa jawa “Within trisno jalaran saka kulino”. Yap, aku berhasil dibuatnya yakin. Aku menyelesaikan pekerjaanku mengubur masa laluku setelah gagal menikah, dan berhasil melupakan. Obrolan kami sering terjadi di instagram. Dia punya selera humor sama sepertiku, dia punya gaya obrolan yang sama denganku, dan aku tak percaya, dia sangat-sangat mirip Ayahku.
Bagaimanapun usaha, kalau Tuhanku berkata bukan dan tidak, ya tak akan terjadi benar pertautan antara kami. Bulan Oktober dia memutuskan mundur dari proses karena suatu ketidak cocokan. Ah, lukaku bagai infeksi yang tak tuntas diberi antibiotik, hingga dosis antibiotiknya harus dinaikkan. Ya, aku lebih gigih lagi menyembuhkan luka itu kini, karena rasa sakitnya bertambah dan meradang. Baru dengannya lukaku yang kemarin sembuh, namun kini dengannya ternyata luka tak jadi sembuh.
Aku mengobati sendiri lagi, segalanya. Segala lukaku dari dulu aku rawat sendiri. Lebih keras aku pada tubuhku agar lukanya lekas sembuh. Hingga bulan Januari 2018, segalanya mulai membaik tanpanya, tanpa kabarnya, tanpa obrolannya, walau teramat sering dia muncul sebagai penonton dari story instagramku. Aku biarkan, walau ada harap juga yang sering muncul, dan berbagai kata andai.
Namun ketika aku mulai terbiasa tanpanya, lukaku semakin membaik, dia datang lagi. Entah bagaimana aku memaafkan segala darinya. Berbagai obrolan kami buka, berbagai candaan kami lontarkan. Aku heran ada apa, mengapa ia? Apa dia menyesal? Mengganjal memang, tapi aku wanita yang sangat sangat perasa. Ah, mugkin juga terlalu GR. Semua berjalan biasa saja sampai pada tanggal 16 Februari 2018, Undangan pernikahannya tersenyum lebar di beranda utama instagramku. Aku menatapnya sangat lama. Background hitam dengan hiasan bunga merah muda. Manis, aku suka tapi tidak dengan hatiku. Aku tak menangis, aku tak bisa menangis, ada yang mengganjal tapi aku tak bisa dan tak ingin menangis.
Entah berapa banyak istighfar aku ucapkan hari itu. Mugkin semuanya terasa mengawang, tapi pekerjaan desainku bisa aku selesaikan. Aku tak kehilangan nafsu makan walau hatiku berdebar sangat kencang. Usai shalat maghrib, Dia membuatku haru dan barulah keluar pertanyaanku pada-Nya “Allah, Engkau tak akan membiarkanku sendiri, kan?”
Begitulah
Bahagia itu diciptakan, kan? Maka biar aku menciptakan bahagiaku padamu beberapa minggu sahaja
Ini aku Yang duduk dalam kehampaan Sesekali menyeka air mata Menguatkan sudut kecil diri Yang tak semestinya menjadi rapuh Mengelus lembut dada yang sesak Mencoba masuk ke sudut terdalamnya Menenangkannya sendiri
Di sana ada rindu yang semakin membengkak Aku sendiri tak tahu bagaimana menanganinya Di luar hampa, namun di sudut sana gemuruh Di sudut sana, jauh di dalam hati sana membengkak
Rindu kepada siapa? Aku tak tahu
Ini aku Yang duduk dalam kehampaan Ruang kamar yang gelap dan sunyi Namun jauh di sudut hati sana berisik
Jkt, 140617
Biar kuberi tahu rasanya menjadi diriku. Yang menahan rasa rindu berlebih padamu, namun takut mengungkapkannya. Yang menahan rasa takut kehilangan berlebih karena begitu mudahnya kau lupa ada diriku. Yang menahan rasa kesepian berlebih ketika mencoba untuk menghindar darimu seperti ini. Kau mungkin tak akan merasa kesepian jika aku tak di sampingmu, karena ada banyak hal yang dapat kau lakukan. Kau bisa keluar dari rumahmu dan mencari tempat lain bersama teman lain.
Kau mampu tertawa lepas dan kemudian melupakanku. Akan tetapi menjadi berbeda jika itu aku. Keluar dari rumahku aku tak memiliki tujuan kemana. Aku tak temukan satu orangpun sebagai temanku melepas sepi. Aku hanya di rumah ini, masih di rumah yang sama dalam petak yang sama. Bersama bekas-bekas dirimu yang tertinggal dan menyiksaku.
Sepi yang tak beranjak dan tak berubah walau kucoba berpindah dari satu sudut ke sudut yang lain. Apa dayaku, sudut-sudut itu tetap saja masih dalam satu petak rumah yang sama.
“Aku pulang, tanpa dendam
Kuterima kekalahanku....” (sO7)
Seperti inikah yang kau mau? Aku menurut saja kepadamu, aku mengalah saja kepada hati yang kau miliki. Aku salah memilih hati seperti yang kau miliki. Bukankah berarti aku hanya menghayal selama ini. aku rasakan dirimu yang hangat dan menyejukkan. Aku rasakan dirimu yang hanya akan menjaga satu hati saja tanpa mengindahkan yang lainnya.
Nyatanya itulah dirimu, yang mencintai dirinya dan mengadu kepadaku. Kemudian kau ditinggalkannya dan berkata mencintaiku. Aku tak yakin lalu aku melepaskanmu, namun kau selalu ingin bertahan walau ternyata kau kembali kepadanya beberapa kali.
Ini aku yang menghayalkan dirimu yang hangat, nyatanya kau lebih dingin dibandingkan angin pagi hari yang selalu masih bisa aku toleran. Aku kira hatimu mampu membuat kesejukan dan menularkannya padaku, Nyatanya hatimu lebih pengap bak gudang penyimpanan tanpa ventilasi. Bisa aku temukan kesunyian dan sepi hingga menyesakkan nafasku.
Sepertinya kau bukan yang mudah berpindah hati. Namun nyatanya kau bukan yang seperti itu. Aku tahu ada diriku dan dirinya yang selalu kau banggakan. Kau tunjukkan hatimu padaku namun kau menikmati kebersamaanmu dengannya. Hanya kepadaku hatimu tertuju namun bersamanya kau bisa merasakan cinta juga. Hanya hatiku tempatmu berjuang, namun ketika ada dirinya aku bukan apapun.
Aku suka dirimu yang aku hayalkan. yang menepati janjinya bersamaku. Kau yang berjanji pergi bersamaku lalu kau tepati. Kau berjanji akan menjagaku dan kau tepati. Kau berjanji mengajakku ke suatu tempat dan kau tepati. Kau berjanji mengobrol banyak tentang kita dan kau tepati. Kau berjanji kepadaku terlebih dahulu dan kau tepati, bukannya membatalkannya secara mendadak. Aku menghayalkan seperti itu, ya, seperti itu yang kau lakukan untuknya. Kau sanggup menepati janjimu padanya walau kau memiliki janji lain. Sayangnya bukan padaku kau begitu, padanya yang benar-benar beruntung.
Rasa-rasanya memang kepadanya kau mampu mewujudkan yang dimau. Silahkan menyalahkanku yang mulai menyalahkanmu dan membuatmu terlihat buruk. Sakit ini benar-benar akan bersarang berbulan-bulan lamanya. Biarkan aku tersudut darimu atau mereka yang ada di dekatmu. Aku menyerah berada di dekatmu.