Kebahagiaan yang Sering Kita Cari di Tempat yang Salah
Kita sering mengejar bahagia di tempat yang tidak pernah sanggup menampung hati.
Kita menyangka tenang akan datang ketika semua keinginan terpenuhi.
Padahal setelah satu keinginan tercapai, keinginan lain segera berdiri menunggu.
Kita ingin dada lapang, tetapi hubungan dengan Al-Qur’an makin jauh.
Kita ingin hidup terasa berkah, tetapi shalat masih mudah ditunda.
Kita ingin jiwa ringan, tetapi dosa yang diam-diam melemahkan tetap dipelihara.
Lalu seseorang heran mengapa hidupnya sempit.
Bukan selalu karena hartanya kurang.
Bukan selalu karena manusia tidak memahami.
Bisa jadi karena hati diciptakan untuk mengenal Allah, namun dipaksa kenyang dengan sesuatu yang tidak bisa mengenyangkannya.
Allah ﷻ berfirman:
وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِى فَإِنَّ لَهُۥ مَعِيشَةًۭ ضَنكًۭا وَنَحْشُرُهُۥ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ أَعْمَىٰ
“Barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta.”
(QS. Thaha: 124)
Ayat ini membuat kita berhenti memaknai sempit hanya sebagai kekurangan harta.
Sempit bisa hadir di tengah kelapangan dunia.
Seseorang bisa tertawa di hadapan banyak orang, tetapi gelisah saat sendirian.
Bisa sibuk sepanjang hari, tetapi kosong ketika malam turun.
Bisa memiliki banyak pilihan, tetapi kehilangan arah pulang.
Ketenangan bukan hadiah dari banyaknya dunia.
Ketenangan adalah karunia Allah untuk hati yang kembali kepada-Nya.
Maka ketika jiwa terasa berat, jangan hanya bertanya:
“Apa yang kurang dari hidupku?”
Tanyakan juga dengan jujur:
“Sejauh apa aku dari Allah?” “Bagaimana shalatku belakangan ini?” “Apakah Al-Qur’an masih punya tempat dalam hariku?” “Dosa apa yang terus kusembunyikan, padahal ia sedang melemahkan hatiku?”
Pertanyaan seperti ini tidak selalu nyaman.
Tetapi ia bisa menjadi pintu pulang.
Sebab sering kali yang membuat seseorang sedih bukan sekadar gagal mendapatkan dunia.
Yang lebih menyakitkan adalah ketika hati tahu arah pulang, sementara langkah masih terus menjauh.
Mulailah kembali dari hal yang mampu dijaga hari ini.
Satu shalat yang dikerjakan pada waktunya.
Satu ayat yang dibaca dengan hadir.
Satu dosa yang ditinggalkan karena malu kepada Allah.
Satu doa yang keluar dari rasa butuh, bukan sekadar kebiasaan.
Satu keputusan kecil untuk tidak lagi menjual ketenangan demi kesenangan yang sebentar.
Kebahagiaan yang hakiki bukan ketika seluruh keinginan dunia terpenuhi.
Ia tumbuh ketika Allah membimbing seorang hamba untuk taat, lalu hati mulai merasa cukup bersama-Nya.
Dunia boleh tetap dikejar seperlunya.
Namun jangan menjadikannya tempat hati bersandar.
Karena yang paling kita butuhkan bukan sekadar hidup yang ramai.
Kita membutuhkan hati yang tidak kehilangan Allah.
Semoga Allah mengembalikan hati kita kepada tempat pulangnya, memberi kekuatan untuk taat, dan menjadikan kebahagiaan kita dekat dengan ridha-Nya.
Sumber inspirasi: Reel @fawaidharamain — nasihat Syaikh Prof. Dr. Yasser Al-Dosary hafizhahullah tentang kebahagiaan hakiki dalam ketaatan kepada Allah.














