1. Kurang menghargai waktu
Masih banyak orang-orang yang kurang memahami pentingnya tepat waktu aka datang terlambat entah itu dalam suatu kegiatan/acara formal maupun non-formal. Dalam kegiatan formal mungkin masih oke karena hanya mereka sendiri yang terkena dampaknya asalkan bukan mereka yang telat sebagai penyelenggaranya. Namun yang sangat mengganggu adalah ketika acara non formal. Wah ini benar-benar menjadi suatu penyakit. Sudah disepakati untuk berkumpul jam 8 misalnya, jam 7.45 bahkan masih ada yang menanyakan "apakah jadi berkumpul jam 8?". Kalau kita berfikir positif, mungkin ia menanyakan hal tersebut karena sudah bersiap-siap untuk bergegas. Namun yang sering saya temui adalah sebaliknya. Mereka bahkan belum bersiap sama sekali. Dan itu sangat menjengkelkan. Seakan tidak menghargai beberapa pihak yang mungkin telah menyiapkan waktunya sebaik mungkin agar tidak menyebabkan orang lain jadi menunggu karena mengaret. Jadi tolong agar kita selalu membiasakan agar tidak terlambat, minimal tepat waktu dan syukur-syukur dapat datang sebelum waktunya. Jangan menganggap seakan-akan datang tepat waktu itu tidak ada esensinya sama sekali.
2. Libas jalur kanan ketika jalanan macet
Hal ini juga sering saya temui terutama ketika sedang berkendara saat melalui jalanan yang sempit pada jam-jam padat. Tidak jarang para pengendara motor yang terburu-buru entah mengejar apa mereka sebenarnya, akan mengambil lajur kanan bahkan ketika kondisi di depan masih merayap. Mereka seakan tidak mengindahkan kalau mereka memenuhi lajur kanan akan menghambat laju kendaraan dari arah sebaliknya, yang mana akan memperlama kelancaran dari kedua arah. Oleh karenanya tak jarang saya selalu mengambil lajur tengah pada kondisi seperti ini, untuk dapat memblok pengendara yang merengsek ke lajur kanan. Saya akan langsung menutup celah antara saya dan kendaraan di depan saya agar mereka terpaksa mundur atau berpikir lebih keras untuk dapat menghindari kendaraan dari arah sebaliknya.
Jadi tolong, seberapa tergesanya anda ketika berkendara. Hargai hak pengendara lain karena jalan raya adalah milik kita bersama bukan milik mbah anda.
3. Menyetel musik dengan lantang pada kondisi dan situasi yang tidak pas
Musik memang dapat menjadi hiburan hang bersifat universal ketika sesuai dengan tempatnya. Namun yang membuat jengkel adalah orang-orang yang menyetel musik tidak mengenal waktu. Contoh di malam hari. Apalagi kalau sampai mereka ikut menyanyi mengiringi alunan musik tersebut. Ketika orang lain berniat untuk istirahat, yang ada malah timbul rasa jengkel karena kelakuan tak tahu diri itu
4. Banyak bicara kurang mendengar
Idealnya komposisi bicara dan mendengar kita itu 1:2 karena kita hanya dianugerahi satu mulut dan dua telinga. Maka seharusnya dalam kondisi yang netral harusnya kemampuan mendengar manusia lebih diutamakan dalam mendengar. Namun hal ini sepertinya tidak berlaku pada orang-orang yang terus berbicara menceritakan sesuatu dengan panjang lebar tanpa memberikan jeda atau kesempatan bagi lawan bicaranya untuk menanggapi atau menjawab. Tapi kalau terus dipaksa mendengarkan rasanya jadi agak mengganggu juga. Alih-alih mendapatkan perhatian dari pendengar, yang ada malah menjadi ilfeel dan malas untuk mendengarkan ucapannya
5. Komen sesat pikir di medsos
Hal seperti ini sering terjadi pada kolom komentar berbagai media sosial. Masih banyak orang yang berkomentar semena-mena tidak jelas kemana arahnya. Apalagi kalau bahkan mengarah ke komen yang jelas-jelas sesat pikir. Ada orang yang suka membagikan berita-berita tertentu yang sebenarnya tidak terlalu beresensi kalau dibaca sungguh-sungguh, tetapi karena kurangnya pemahaman literasi alias tidak dibaca seluruhnya maka akan muncul juga orang-orang dengan pemahaman pendeknya langsung berkomentar ria. Hasilnya? Ya jelas dapat diprediksi. Terjadi perdebatan yang sangat tidak penting antara satu orang dengan orang lainnya. Nah disini yang sangat memuakkan untuk dilihat, ada beberapa orang yang malah menyerang pemosting dari segi personalnya, ada juga orang yang malah merambat ke topik lain yang sebenarnya tidak berhubungan dengan postingan tersebut dan sesat pikir lain yang dapat dengan mudahnya ditemui pada kolom komentar media sosial mainstream saat ini. Entah mengapa orang-orang tersebut masih belum mau mengembangkan kemampuan beretika yang baik dalam memakai media sosial dengan setidaknya tidak membuat keributan. Jadi tolong, marilah senantiasa berusaha untuk lebih bersikap baik dan beretika dalam dunia maya.