Lalu aku harus bagaimana agar bisa membuatmu kembali tersenyum? aku mendoakan kebahagiaanmu, itu sebaik-baik upayaku merawat senyummu..
seen from China

seen from United States

seen from United States
seen from Türkiye
seen from China
seen from United States
seen from Thailand
seen from United States
seen from Singapore
seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from China
seen from Türkiye

seen from United States
seen from Russia
seen from United Kingdom

seen from United States

seen from Singapore
Lalu aku harus bagaimana agar bisa membuatmu kembali tersenyum? aku mendoakan kebahagiaanmu, itu sebaik-baik upayaku merawat senyummu..
Aamantu billaah tsummastaqim
Istiqomah, demikian tertulis dalam Bab 1 oleh Buya Hamka dalam bukunya Pandangan Hidup Muslim.
Kita akan mengembara dalam hidup. Menempuh lautan dan daratan, pasang naik dan pasang surut, menempuh angin sepoi dan puting beliung, kita akan pernah merasa puas dan kecewa, merasa ragu-ragu dan yakin, merasa sedih dan bahagia.
Satu hal yang tidak akan pernah padam - meskipun kadang disaputi awan, ia tidak hilang sama sekali. Hal itu adalah kepercayaan akan adanya Allah. Kepercayaan itulah yang oleh Rasulullah disuruh untuk dipelihara baik-baik, dipegang teguh-teguh, sebab inilah pangkal bertolak dan keputusan dari segala hukum.
Saat itu, datanglah Sufyan bin Abdullah (Abu Amrah) meminta fatwa kepada Nabi Muhammad saw. tentang pendirian di dalam hidup. Abu Amrah meminta diterangkan inti Agama yang jika Rasulullah saw. mengajarkan kepadanya, ia tidak perlu bertanya kepada orang lain lagi.
Rasulullah saw. menjawab, "Qul, Aamantu billaah tsummastaqim."
"Katakanlah, 'Aku percaya kepada Allah lalu pegang teguhlah pendirian itu.'"
Jika di alam cakrawala ada matahari yang tidak pernah padam cahayanya, di alam kecil pada diri kita, kepercayaan itulah mataharinya.
Apa yang menyebabkan hati ditimpa duka, gundah gulana, bermuram durja? Itu semua karena merasa ada yang hilang. Hal yang dicari tidak didapat, yang tidak dicari, itu yang didapat. Yang diingini terlalu jauh, sedangkan yang tidak diingini terlalu dekat.
Hati-hati dengan "salah pasang", tulis Buya.
Meletakkan nilai kepada hal yang tidak bernilai, melupakan nilai yang sebenarnya bernilai. Cobalah pasang dan susun jiwa kembali. Kembali ke dalam Istiqomah, niscaya terbuka kembali hijab, hilang bayang-bayang dari sesuatu yang tidak ada hakikatnya.
#Bab 1 #MerawatIngatan #PandanganHidupMuslim #BuyaHamka
Putat, 13 September 2019
Merawat Ingatan.
Setiap kali aku merawat ingatanku. Aku selalu saja sampai pada bagian terkosong diriku. Orang-orang melihatku bahagia tanpa memiliki sebuah luka. Padahal, tidak pernah menceritakan luka bukan berarti tidak pernah terluka bukan?
Aku, selalu menahan diriku untuk tidak menceritakan segala riuh isi kepala. Dan menahan diriku untuk menceritakan sebuah luka sekalipun lebur dan hancur yang ada. Bukan tidak ingin ditolong. Entah mengapa aku merasa ketulusan itu tidak pernah sampai ke hatiku. Entah aku membatasi diriku, atau memang tidak ada yang benar-benar peduli atas perasaan yang sedang ku alami.
Setiap kali aku merawat ingatanku, selalu saja ku temukan banyak kisah yang itu ternyata bukanlah diriku. Aku seringkali mendengarkan keluhan, dan rasa sakit orang-orang di sekitarku. Mereka selalu bercerita bahwa diri merekalah yang paling menderita di muka bumi ini tanpa sedikitpun memikirkan bagaimana perasaanku. Apakah aku baik-baik saja kala mendengarkan keluhan itu, apakah aku sedang tidak baik-baik saja kala menerima problem mereka itu. Aku, selalu saja mengabaikan diriku agar untuk mendengarkan mereka sekalipun aku seringkali mengabaikan diriku sendiri.
Ini sangat melelahkan. Sungguh. Beberapa hari ini, aku mencoba merawat ingatanku dengan mencoba berbicara kepada diriku sendiri. Seringkali aku seperti orang gila yang kala sendiri bertanya seolah-olah aku sedang berbicara kepada orang lain. Padahal lawan bicaraku adalah diriku sendiri dalam versi yang berbeda. Kala demikian, seringnya aku menangis kepada Allaah. Aku seringkali mengatakan lelah kepadaNya. Mengapa dunia yang ku tempati ini penuh sekali dengan ujian dan tangisan yang seringkali buatku takut dan merasa kelelahan.
Kala bercerita dengan riuh isi kepala sendiri kepadaNya. Perasaanku selalu saja dibuat tenang, memang tak menemukan solusi saat itu juga. Namun aku merasakan tenang, aku merasa suatu saat nanti solusi yang ditawarkan dari lawan bicaraku yang berarti itu aku akan menjadi kenyataan yang baik nantinya.
Apakah kau yang membaca mahami tulisan ini? Jangan terlalu serius untuk memahaminya. Sebab aku hanya menulis. Menuliskan apa-apa yang memang harus dilarikan untuk menjadi sebuah ingatan nantinya. Jadi, kala ada yang bilang bagaimana aku melalui hari-hariku yang terlihat menyenangkan tanpa sebuah luka? Maka cara terbaik adalah dengan banyaklah ngobrol dengan dirimu sendiri. Lalu mintalah solusi kepada Allaah perihal apa yang musti kamu lakukan.
Terlihat tanpa memiliki masalah, terlihat selalu bahagia, terlihat tanpa luka sesungguhnya itu selalu ku adukan kepada Allaah. Bagaimana mungkin manusia bisa menilai bahwa ada manusia yang tetap selalu happy tanpa terluka dan terlihat sedih setiap harinya. Karna sejatinya sejak dulu manusia berteman dengan sebuah luka.
Pagi ini seharusnya ku sarapankan ingatanku dengan sebuah doa-doa kebaikan kepadaNya. Nyatanya, ku beri ia tangisan yang membuatku tak semangat untuk melalui hari-hari setelahnya. Lalu aku bertanya kepada Allaah, "Allaah, tolong. Jangan uji aku dengan masalah ini, sebab aku terlalu lelah."
Pada akhirnya aku memahami, bahwasanya ujian yang datang adalah cara untuk menguji kecintaan seorang hamba kepada Tuhannya. Lalu bagian mana yang tidak kau pahami wahai diriku? Bukankah malam akan berlalu dan berganti pagi yang seringkali memberimu sebuah harap? Jadi, cukuplah merasa menjadi orang paling menderita di muka bumi ini. Sebab bukan hanya kamu yang merasakan sakit dan terluka di dunia ini.
Dan aku mencukupkan diriku untuk tidak lagi terlalu dalam terluka. Aku mencukupkan diriku untuk tidak lagi merasa menjadi korban yang paling sengsara. Aku mencukupkan diriku untuk tidak lagi menjadi manusia yang tidak tahu diri. Sebab Allaah tidak suka. Dan sebab agar aku dicintai olehNya. Sekalipun untuk mencapai titik itu tidak cukup sebagai pengikraran di lisan saja.
Segala puji bagiMu ya Allaah, beberapa hari ini perasaanku lebih ringan sekalipun aku selalu saja merasa berjalan sendiri di dunia ini.
Merawat Ingatan di bulan Ramadhan..
Life after PM
Sudah 4 bulan meninggalkan penempatan, rompi hijau sakti itu kini tergantung rapi di lemari, tak pernah kusentuh lagi. Tapi rasanya pembelajaran setahun kemarin belum banyak kupetik hikmahnya. Mungkin, justru pengalaman ini jadi refleksi seumur hidup. Aku bisa berkaca pada masa-masa itu, ketika aku menemui pengalaman menantang yang serupa.
Mungkin beberapa tulisan kedepan akan kuisi tulisan kilas balik kisahku sebagai PM, yang tak sempat kutuliskan saat aku berada di sana. Menuliskan kembali momen PM sebagai obat rinduku dengan momen-momen di penempatan, juga sebagai pengingat bahwa pembelajaran itu telah membersamai diriku hingga seumur hidup. Pengalaman yang meski cuma setahun itu, ternyata berarti banyak bagiku yang menjalani.
Dulu saat sebelum berangkat pelatihan ke Jakarta, ada beberapa kawan dekat yang mendoakan "semoga menemukan apa yang dicari dan dikejar". "Perjalananmu tidak akan mudah, tapi worth it dengan pembelajaran yang kamu dapatkan di sana". Aku juga tergelitik untuk menuliskan hasil refleksi perjalananku selama setahun atas doa-doa mereka ini.
Semoga ada energi untuk menulis ya, karena bagiku menulis ini memerlukan energi yang banyak menguras pikiran dan hati. Semoga dengan menulis juga menjadi perjalanan pulih tersendiri untukku.
"Kita ini hanya makhluk yang hidup sesaat di keabadian penciptaan semesta. Seandainya digunakan mistar sebagai alat ukur, kita tidak tampak dalam garis bilangan," Guru. #sabtupagi #sepenggalcatatan #merawatingatan #sabtubersamaBapak #mentarisenja
Menyimak.!
Semua akan tau, tau bau taik yang menembus keheningan, bau bangkai yang terselubung di sela-sela tank baja, bau racun yang membunuh serangga penyebar benih kehidupan.
Kami tak diam menunggu, kami tak merangkak mengejar, satu suara kami hanya polusi klakson motor tua, tapi kami bergemuruh bersama kilatan petir menyambar singgasana sang raja. Sendiri tubuh kami sebatang korek api yang habis terbakar, tapi kami tumbuh besar bersama membakar nusantara.
Kami kau kusam, buruh penggali pondasi keadilan. Suara kami keluar dari lubang-lubang cacing yang basah karena hujan. Gerimis kami menuai badai. Hanya menunggu, menyimak.
Fuckoff!!! #menolaklupa #merawatingatan
Tidak banyak orang yang mau begitu saja melupakan masa lalu kelam, karna mengingat adalah bentuk perlawanan. Keberanian, kecerdasan dan kesederhaanmu akan kami teruskan. Kau tidak akan mati diingatan kami yang rindu akan keberanianmu, 12 tahun terus merawat ingatan, 12 tahun menolak lupa. #merawatingatan #12tahunmunir