(Renungan) Menjadi Perempuan: Mencari Keadilan atau Menuntut Kesetaraan?
Menjadi seorang perempuan itu sederhana. Sama halnya dengan bahagia, ia tercipta dari kebersyukuran atas perihal kecil namun bermakna. Pun menjadi seorang perempuan, kiranya hanya perlu menginsyafi bahwa dirinya istimewa dan bersyukur dengan hak serta batasan yang membersamainya. Islam menyebutnya, fitrah. Ialah anugerah Allah yang menyerta sejak tangis bayi menyapa bumi.
Sang Pencipta kita adalah Yang Maha Sempurna. Maka, penciptaan manusia yang dijadikan-Nya berpasangan laki-laki dan perempuan, tidaklah miskin tujuan. Dalam kitab suci Allah berfirman, bahwa tujuan mengapa Ia menciptakan manusia berpasang-pasangan, berbeda suku dan berbangsa-bangsa adalah supaya saling mengenal. Dan tidaklah ada yang membedakan derajat manusia melainkan karena derajat ketaqwaan (QS. Al-Hujurat: 13).
Sekarang, ketika Allah secara detail memberikan ‘amanah’ pada perempuan yang cukup berbeda dari laki-laki, apakah itu membuat kedudukan-Nya menjadi tidak adil? Oh ya, mungkin sebenarnya kita sama-sama mafhum bahwa Allah pastilah berlaku adil, tapi beberapa saudara kita menginginkan yang lebih: kesetaraan.
Mereka sebut, menutup aurat menghalangi kebebasan, mengikuti kehendak suami adalah bentuk penindasan, pembagian hak waris yang lebih sedikit dari laki-laki adalah ketidakadilan, serta ayat yang berbunyi ‘ar-rijaalu qowwaamuna ‘alan nisaa’i’ (QS. An-Nisa’: 34) sebagai indikasi adanya bias gender dalam kitab-Nya.
Mereka sebut, menjadi seorang perempuan haruslah mampu melampaui batasan yang mengekangnya. Seorang perempuan seharusnya bebas melakukan apa yang disuka, berhak melakukan apa pun tanpa perlu mencari izin untuk itu, memiliki kedudukan yang sama dengan suami di dalam rumah tangga, dan berbagai propaganda lainnya. Indah dan heroik sekali, bukan begitu? Ya, sepintas ajakan ini akan nampak sebagai narasi perjuangan.
Baik, sebentar. Ya, mari tarik napas perlahan.
Mari kita melompat ke beberapa kurun waktu yang telah lalu, saat perjuangan atas nama perjuangan perempuan pertama disuarakan. Pertama muncul, gerakan ini didasarkan adanya penindasan dan penghinaan yang besar – kalau tidak bisa dibilang luar biasa – di Barat sana. Jika tidak menurut aturan, perempuan bisa dihukum dengan tak wajar. Hukuman dengan penyiksaan, bukan pendidikan. Alih-alih mendapatkan efek jera, hukuman yang ada justru menghilangkan nyawa beserta kenangan pahit bagi perempuan di Eropa kala itu. Jika tak menurut saja demikian berat konsekuensi, apalagi untuk mendapatkan hak yang sama dalam pendidikan, pekerjaan, dan mengemukakan pendapat. Jelas tidak ada titik terangnya. Maka, muncullah gelombang pemberontakan. Hingga saat ini kita kerap mendengar istilah feminisme dan emansipasi wanita, itulah produk perjuangan perempuan pada masanya.
Ibu Kartini, jua adalah sosok perempuan yang diteladani atas keteguhan hatinya. Memperjuangkan hak kaum perempuan adalah fokus utamanya. Karena hak belajar, bekerja, juga bersuara untuk perempuan Indonesia nyaris tak ada. Kita dapati ide-ide cemerlangnya dalam kumpulan suratnya pada sahabatnya nun jauh di Belanda sana, yang kini kita kenal dengan judul ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’.
Kini, perjuangan perempuan rupanya masih ada dan menggelora. Tapi esensi perjuangannya, perlu ditelisik dalam lagi. Benarkah perempuan masih ‘kurang setara’ dari laki-laki? Jika ya, dalam hal apa? Bukankah islam telah datang dan menghapuskan kejahiliahan? Bukankah kini hak perempuan dalam pendidikan, pekerjaan, serta berpendapat sudah sama halnya dengan laki-laki?
Kalaulah yang dituntut perjuangan ini adalah syariat agama Islam, maka kiranya perjuangan ini salah sasaran.
Mengapa demikian?
Sebagaimana tertuang di awal tulisan, telah dikutip firman Allah dalam Al-Quran apa tujuan Allah menciptakan manusia terdiri dari laki-laki dan perempuan. Ya, karena masing-masing membawa peran. Telah Allah siapkan peran terbaik untuk laki-laki, sebagai imam, sekaligus yang menanggung beban keluarga di dunia maupun akhirat kelak. Dan bagi perempuan, karena demikian istimewanya, Allah lindungi dengan batasan aurat, aktivitas harus bersama dengan mahram, melakukan sesuatu harus seizing orangtua/suami, dan juga lainnya.
Menutup aurat mungkin dirasa berat, harus meminta izin di setiap aktivitas dirasa merepotkan. Tapi itulah syariat, Allah inginkan hamba-Nya taat karena sungguh, Ia lebih mengetahui apa yang baik untuk kita dibandingkan dengan kita sendiri.
Pun untuk kaum adam. Rasulullah mengibaratkan perempuan adalah tulang rusuk yang mudah patah, maka laki-laki harus sedapat mungkin menjaganya. Tidak dengan diluruskan paksa karena akan patah. Tapi juga tidak dibiarkan saja hingga akhirnya melengkung bahkan berbalik arah. Ini kewajiban yang berat pada laki-laki dan tidak ditanggungkan kepada perempuan. Seperti kewajiban memberi nafkah, melaksanakan sholat jumat, sholat berjamaah lima waktu ke masjid. Ini cara Allah menempa, supaya seorang laki-laki kelak mampu menjadi imam dunia hingga ke surga.
Dalam konsep syariat, Allah menerapkan konsep adil, sesuai peran yang telah digariskan. Berbeda dengan pendidikan, pekerjaan, berpendapat yang antara laki-laki dan perempuan memiliki hak yang sama. Dalam syariat, masalahnya bukan terletak pada kesetaraan, tapi sejauh mana batas peranmu telah Allah tentukan.
Kita perlu bertanya, menelisik lebih jauh ke dalam hati kita, benarkah yang sedang diperjuangkan? Kebenaran kah atau sekedar hawa nafsu yang ingin diperturutkan?
Sehingga, wahai perempuan, marilah berlomba-lomba dalam kebaikan. Caranya dengan memenuhi amanah-amanah yang telah diberikan. Karena sekali lagi, pembeda antar insan adalah kadar ketaqwaan. Kita perjuangkan yang seharusnya diperjuangkan. Itulah perjuangan melawan hawa nafsu.
Ya, hawa nafsu yang menggerogoti iman lebih layak kita lawan dengan sebenar-benar perjuangan. Jika kita berhasil, sungguh menjadi perempuan itu sederhana. Sesederhana bersyukur dan senantiasa menginsyafi peranan kita sebagai perempuan.
Perempuan yang sebaik-baik perhiasan, yang kelak pantas untuk surga berada di kedua telapak kakinya.
Maitsa’ Fatharani
Surakarta,9 April 2020
3.05
















