Sebagai Introver
Berperan sebagai penulis yang mendalami dan memahami karakter manusia. Saya memahami, bahwa ada sebagian diri saya yang introver, ada sebagian lain yang ekstrover. Sebagai orang yang suka berada di balik layar, tidak terlihat. Saya mengalami kesulitan untuk merasa nyaman berada di panggung, terlihat oleh orang lain.
Aneh memang. Apalagi dengan peran sebagai penulis seperti sekarang. Untuk itu, saya sangat menekankan soal privasi. Ruang-ruang yang memang saya buat batasannya dari orang lain. Sengaja.
Perasaan saya saat melihat teman-teman yang lain mencapai beragam pencapaian, mendapat panggung penghargaan dsb. Saya merasa tidak ada minat sama sekali untuk ke sana. Saya lebih bahagia menjadi orang yang tersembunyi. Menjadi pemikir yang menulis, mengenalkan diri cukup melalui tulisan-tulisan yang lantang.
Ruang-ruang introver yang penuh dengan emosi, menyelami sisi-sisi gelap kehidupan manusia, menerjemahkan semua hal yang ditemui adalah sesuatu yang sanggup mengisi energi dengan cepat. Di banding saya harus berada dalam keramaian, saya lebih cepat lelah.
Hanya dalam lingkaran pertemanan tertentu saya menjadi seorang yang lepas. Ekstrover. Meski pada akhirnya saya tetap hidup dalam kerangka pikiran saya sendiri.
Saya bahagia menjadi diri saya yang demikian. Menjadi diri yang tak terlihat secara fisik, tapi lantang secara pikiran. Menjadi pribadi yang tak perlu diketahui keberadaannya, tapi bisa memberikan dampak kebaikan meski kecil.
Semoga, saya istiqamah. Tak tergoda oleh popularitas dan tawaran-tawaran menarik dari dunia yang penuh dengan topeng.
©kurniawangunadi












