Hal terberat bagi hati itu saat ia dipaksa untuk berpura-pura tersenyum bahagia, namun dikesendirian ia menangis perih. Tersebab apa yang dilakukan tidak pernah mendapat restu dari hati, raga dan hatinya saling berbenturan, menunggu siapa yang akan terlebih dulu mati. Raga atau hati.
Pastikan jalan dan langkah yang kamu ambil saat ini telah selaras dengan apa yang hati butuhkan, jika tidak maka sebaiknya kamu berhenti sejenak dan menimbang ulang, sebab tidak mudah jika kamu harus selalu mendamaikan hati dan raga yang seringnya tidak sejalan. Seberani kamu mengambil keputusan, maka beranikan pula untuk menyelesaikan dengan sebaik-baik cara dan hasil.
Sekuat apapun hatimu menahan dan membohongi langkah kaki, tetap saja akan ada air mata yang harus kamu bayar yang jatuh tanpa kamu minta, entah dalam keramaian atau saat sendiri yang berteman sepi. Tidak mengapa, bukankah tumpahnya air mata itu akan menenangkan gemuruh hati dan raga yang sedang sakit?
Aku pernah diposisimu, mendamaikan 2 arah yang selalu berseberangan soal keputusan dan tujuan. Percayalah bahwa itu akan semakin mendewasakanmu, lebih cepat dari yang kamu duga.
Semangat, jangan berhenti dan meninggalkan apa yang seharusnya kamu selesaikan, ya :’)
@jndmmsyhd













