duduk di depan teras ditemani hujan dan teh hangat serta bunga yang sedang bermesraan dengan lebah, ini adalah salah satu frekuensi nyaman ketika berada di rumah.
Atau dikamar sedang baring diatas kotak besar empuk bernamakan spring bed ditambah hp berkuota dengan jaringan 4G sambil scroll up down touchscreen, ini juga standar kenyamanan.
Bagi seorang wanita karir, kenyamanan mereka saat melepas segala kesibukan kantor, pulang ke rumah lalu menghabiskan malam bersama keluarga.
Sedangkan bagi seorang ibu rumah tangga, dengan mendengarkan keluh kesah dan gunda gulana seorang suami juga bisa menjadi standar kenyamanan atau tidak pernah cek cok dengan ibu mertua, misalnya.
Bagi seorang kepala rumah tangga ,ia mampu merasakan kenyamanan ketika anak dan istrinya merasa nyaman dengan istana yang menaungi, walau hanya dipetakan kecil, meski hanya dirumah kontrakan.
Jika kenyamanan difrekuensikan dari angka 1- 10 mungkin orang- orang diatas akan memilih ada diangka 9 atau 10,artinya sangat nyaman.
Sampai disini kita bisa lihat frekuensi kenyamanan pribadi itu berbeda-beda bisa karena waktu, tempat dan keadaan.
Kita sekarang terlalu nyaman dengan kondisi sampai lupa, bahkan membanding-bandingkan standar kenyamanan orang.
Mungkin kamu berpikir jika telah merasa nyaman duduk diatas gunung sambil melihat sunset atau sunrise, yah karena kamu pecinta alam. Tapi tidak dengan anak rumahan yang kebiasaannya mojok disudut ruang keluarga sambil nonton tv atau seharian menghabiskan paket.
Mungkin kamu nyaman ngobrol berdua dengan pasangan tak halalmu tapi tidak dengan yang lain, yang tak ingin bermadu kasih sampai bersandang status halal, atau bahkan mereka yang udah merasa bullshit dengan rayuan dan buayan gombal.
Karena kita hidup dengan umur, usia, kondisi berbeda-beda, maka biarkan waktu dan keadaan yang berbanding lurus dengan frekuensi kenyamanan yang kita bangun.