Luka Batin yang Ditunggangi Setan
Aku pernah baca quote dari Carl Jung yang bagus banget. Katanya, "masalah-masalah terbesar dalam hidup pada dasarnya tidak dapat dipecahkan dan hanya dapat diatasi melalui tingkat kesadaran yang baru."
Analogi garam dan segelas air bisa mewakili konteks ini, which is kalau kita masukkan segenggam garam ke dalam segelas air, rasanya bakal sangat asin. Tapi kalau garam yang sama dimasukkan ke dalam danau, rasanya hampir nggak kerasa. Artinya emang nggak semua masalah benar-benar diselesaikan (di analogi itu, garamnya nggak berkurang), tapi kita yang bertumbuh melewatinya sehingga kita lebih besar dari masalah itu dan akhirnya masalah itu nggak matter dan mendesak lagi.
Masalahnya, nggak semua orang punya kesediaan, kesiapan, dan daya untuk meluaskan diri atau diluaskan oleh Allah.
Aku nggak sedang mengecilkan luka batin atau masalah yang dialami tiap-tiap manusia ya, karena aku tau setiap orang mengalami takarannya masing-masing yang unik dan khas, sehingga tempo batinnya pun bakalan beda-beda. Nah dalam proses itu, kalau seseorang emang bener-bener gak mau menyerahkan diri dan bergantung ke Allah, setan bisa masuk sebagai oportunis yang memperbesar, memelintir, dan mengarahkan luka.
Kita bisa liat kenyataannya bahwa banyak sekali yang memilih tak bertuhan melalui jalur emosional dan kemudian melogikakan pilihannya/kemungkarannya. Atau memilih jalur-jalur haram seperti:
karena duka fatherless, jadi alasan untuk melampiaskan ke lawan jenis melalui pacaran/zina
karena dendam/iri/dengki, melakukan ritual ilmu hitam untuk menjatuhkan orang lain
karena ujian kemiskinan, jadi bersekutu dengan iblis untuk jadi kaya, atau melakukan kriminalitas
Aku nggak lagi menyinggung siapapun. Ini pure hikmah yang aku peroleh dari sebulan lebih menyimak penelusuran di channel youtube Kisah Tanah Jawa. Harus kuakui, pikiranku baru terbuka bahwa manusia bisa sejahat itu demi nafs ammarahnya. Dan gak expect pelakunya sebanyak itu di dunia ini. Dan nggak ada akhir yang baik dari orang yang wafat dalam keadaan menjadi budak nafsunya.
At the end, setan nggak pernah membiarkan kita mendapatkan manfaat dari Al-Qur'an, dari sholat kita, dari silaturahmi kita, dan dari hal-hal baik yang kita lakukan. Makanya kemudian, sebuah kalimat dari Ust. Faizar (praktisi ruqyah) cukup membuatku termenung.
"Milikilah kesadaran uluhiyah. Kesadaran terstruktur bahwa kita cuma hamba dari Allah saja. Kita hanya tunduk pada Allah saja."
—lalu kulanjutkan, "Bukan hamba penyakit, hamba obat, hamba dari masalah, hamba kepribadian, hamba pandangan manusia, hamba trauma, maupun hamba anxiety dan lainnya."
Di situ posisinya Ust. Faizar sedang menangani kasus perempuan yang sedang dilemahkan setan karena penyakit hati orang lain kepadanya, sekaligus perempuan itu sendiri punya luka batin yang tak terselesaikan yang menjadi kendaraan setan untuk melemahkannya.
Karena emang nggak bisa disangkal, luka batin yang ditunggangi setan bisa bikin manusia learned helplessness (merasa nggak punya kontrol atas dirinya, sampai akhirnya bahkan berhenti mencoba). Mirip dengan siapa ya kalo udah berputus asa dari rahmat Allah? Yes, iblis (balasa).
Dalam hal ini, aku juga jadi mendalamkan makna bahwa ketika orang-orang menyuruh sholat tuh sebenernya outcome-nya bukan auto sembuh. Sholat buatku akhirnya sebagai pembuktian bahwa aku bukan hamba dari apa-apa yang melemahkanku. Aku hamba dari hanya Allah, dari sumber Haula wa Quwwata. Aku hanya tunduk pada Allah. Aku merdeka. Dan aku nggak mengizinkan masalah atau luka mendistorsi cara pandangku terhadap Allah dan takdir.
Di surat Al-Hajj (22) : 53 juga dijelaskan bahwa :
"Dia (Allah) hendak menjadikan apa yang dilontarkan setan itu sebagai cobaan bagi orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan hatinya keras. Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu benar-benar dalam perselisihan yang jauh (dari kebenaran)."
Rajin-rajinlah beresin hati, bersihin hati, dan luasin hati. Biasakan diri untuk memaafkan dan merelakan sesuatu yang bukan haknya. Jangan kasih bensin bagi hasad dengan gibah, tahassus, dan tajassus. Kadang-kadang penyakit hati emang seimplisit itu, sehalus itu, sesamar yang kata hadis mah, seperti semut hitam, berjalan di atas batu hitam, pada malam hari.
Terakhir, untuk siapapun yang punya pengalaman traumatis, mudah-mudahan Allah berikan daya untuk berikhtiar, agar bersedia memproses dirinya serta bersedia diperjalankan Allah menapaki jalan menuju pulih.
Mengutip apa yang Mas Amai (KTJ) ucapkan saat meruqyah 'pasiennya', "minta rasa cinta yang banyak sama Allah." Jujur nangis pas dengernya 😭😭😭. Beliau tahu betul problem orang-orang yang mudah dipengaruhi setan tuh salah satunya karena hati yang kosong dari meminta rasa cinta ke Allah. Hati yang ketika merasa tak berdaya, tidak meminta kekuatan dari Sang Sumber. Hati yang ketika dijahati dan dikecewakan dunia, tidak kembali kepada Sang Penyayang. Hati yang nggak mau dipeluk, disayang, dan dirahmati Allah.
Dua tulisan ke belakang emang masih refleksi soal hal-hal begini, karena jujur sebagai lulusan S1 saintek yang lintas jurusan ke magister psikologi, mekanisme jiwa manusia tuh nggak kayak alam semesta yang konstan mengikuti rumus-rumus fisika. Jadi sisi reflektifnya datang dari case atau pendekatan yang berbeda juga. Mudah-mudahan bisa diambil baiknya. Last of the last, minta pertolongan dengan sabar dan sholat gais. Dunia makin gak baik-baik aja.
— Giza, masih refleksi tentang iman, sholat, dan dirinya