Mereka bilang, "Halah dasar BAPER!"
Tapi, hal terdalam yang kurasakan :
Sesak nafas dan jantung berdetak cepat
Tengkuk dan leher sangat sakit
Dan dalam situasi ekstrem tangan dan kaki akan terasa kaku hingga tak bisa digerakkan.
Terjadi pendarahan (flek)
Sulit tidur di malam hari.
Situasi ke-7 pernah aku alami di hadapan teman-teman sekelasku ketika kelas 2 SMA (thn 2010). Mereka yang melihatku jatuh sontak berteriak, "Dih, lebay banget!", "Dasar caper!", dan teriakan lainnya yang aku tak ingat karena pikiranku sudah kacau.
Aku bukan tipe siswi yang mudah pingsan, tapi pertama kali dalam hidupku, aku dibopong ke UKS dalam keadaan badanku setengah kaku.
Aku bahkan bisa merasakan gejala-gejala itu jika terjadi gesekan secara virtual, hanya melalui chat atau sosial media.
Hal-hal tersembunyi yang sebenarnya jauh lebih kompleks dari sekadar label "BAPER". Gejala itu mudah muncul, tapi aku selalu berusaha menepisnya dan menguatkan diriku. Aku tak mudah menyerah dengan perasaanku.
Seiring bertambahnya usia dan semakin banyaknya hikmah yang Allah beri, aku terus berupaya menata diriku agar bisa lebih menjaga sikap dan ucapan. Walaupun apa yang terjadi dalam diriku kacau balau.
Sejak adanya label "BAPER" manusia semakin mudah untuk bersikap seenaknya, dan tanpa rasa bersalah. Kehormatan dan perasaan seseorang seakan sebuah hal yang tabu untuk dijaga.
Yang aneh lagi, terkadang ada orang-orang yang begitu kencang menggaungkan isu kesehatan mental dan adab ketika hal itu menyangkut dirinya sendiri, tapi ketika ia bersikap kepada orang lain, seakan-akan ucapannya tak sesuai dengan perilakunya.
Begitu keras memberi kritik kepada sikap buruk orang lain, tapi tak berusaha menjaga sikapnya agar tak menyakiti perasaan orang lain. Bahkan seringkali tidak merasa bersalah ketika telah menyakiti orang lain, dan menganggap orang yang tersinggung itu "LEBAY DAN BAPERAN".
Semoga bukan kita salah satunya.
Jum'at, 15-04-2022 | 00.12
Venetie Van Java, menjelang sahur tapi nggak bisa tidur.