Tentang yang Berhasil Diraih dan yang Tidak
Jika kita berpegang hanya pada keinginan, maka dalam hidup ini ada sesuatu yang berhasil diraih dan gagal diraih.
Jika kita berpegang pada ketetapan Allah, maka dalam hidup ini semua yang sudah Allah takdirkan untuk kita tak akan ada satu pun yang meleset.
Tidaklah bertentangan antara keinginan manusia dan ketetapan Allah. Di antara keduanya, ada ikhtiar dan doa kita yang menjadi jembatannya.
Perihal takdir, kita tak pernah tahu bahwa sesuatu adalah takdir kita hingga kita mendapatkannya.
Perihal keinginan, di sinilah zona ikhtiar manusia. Kita tahu persis apa keinginan kita. Kita diberi akal untuk memahami realita, mengukur kemampuan juga peluang, serta memutuskan keinginan mana yang hendak diperjuangkan.
Jika kamu kecewa, sebenarnya kamu kecewa pada dirimu sendiri. Kamu kecewa mengapa bisa keputusan dan ikhtiar yang kamu ambil tidak sesuai dengan takdir yang sudah Allah tetapkan.
Namun ternyata kegagalan juga merupakan takdir Allah. Coba telisik sekali lagi, apakah semua berhenti sampai di sini? Tidak.
Jika dalam prosesnya kamu isi dengan ketaatan dan tidak bermaksiat kepada Allah, besar kemungkinan kegagalan tersebut bukanlah hukuman.
Lantas mengapa bersedih? Kamu tak sedang dihukum. Mungkin memang ini jalannya untuk menemukan hikmah. Mungkin memang ini skenarionya untuk menjemput takdir-takdir baikmu.
Ketika kesabaranmu sedang diuji, Allah ingin membersamaimu karena Allah bersama orang yang sabar. Jangan malah buat Allah menjauhimu karena prasangka buruk dan protesmu.
Entah bagaimana kelak masa depanmu, satu hal yang pasti: jika Allah sudah membersamaimu (sebagai orang yang sabar), apa yang tak mungkin Allah beri?
© Taufik Aulia | 2020














