"Falling in love does not make you grow up, heartbreak does, and there is more than one way to fall apart."
Tidak perlu matematikawan kelas dunia untuk menghitung berapa probabilitas kita akan bertemu di pesta itu. Tidak perlu.
Karena aku tahu, kita akan bertemu, kita pasti bertemu. Mungkin Tuhan memang menginginkan kita bertemu.
Aku sudah mempersiapkan diri untuk hari itu.
Bukan dengan mempercantik diri, sengaja membeli baju baru, dengan memakai sepatu cantik, atau menutupi kekurangan di wajahku dengan topeng riasan. Bukan, bukan dengan cara begitu.
Memulai hariku lebih pagi daripada orang lain saja cukup. Itu yang benar-benar kubutuhkan, karena aku hanya membutuhkan kekuatan dari Tuhan untuk menghadapimu.
Aku menatap diriku di depan cermin panjang itu, mereka-reka siapa yang akan memulai menyapa siapa, atau akan kemana pembicaraan bergulir. Tapi yang jauh lebih penting, bisakah aku memberikan senyum terbaikku untukmu, senyum yang benar-benar datang dari hati?
Menulis adalah salah satu caraku untuk mengungkapkan semua rasa itu. Pagi itu aku membuat tulisan tentangmu, lagi.
"When today passes, you will disappear like dust."
Aku melawan semua godaan untuk berasumsi apapun. Maka aku menunggu, menunggu akan seperti apa cerita kita di hari itu.
Berapa lama kita sudah mengenal satu sama lain? Seberapa baik kita mengenal satu sama lain sehingga mampu mengenali sosok belakang masing-masing saat di keramaian? Seberapa baik kita mengenal satu sama lain sehingga mampu mengenali suara satu sama lain tanpa melihat siapa yang berbicara?
Jika aku dan kamu sama-sama mampu, apakah itu berarti kita sudah saling mengenal dengan baik?
Jawabannya, mungkin tidak selalu seperti itu.
Waktu serasa berhenti saat kamu memanggil namaku. Ya, akhirnya kita bertemu di keramaian itu.
Lihatlah.. Semua latihanku tidak menghasilkan sesuatu yang berarti. Hanya dua kata yang keluar dari bibirku. Diiringi dengan senyuman yang hanya sekilas, bahkan menatap matamu dan berdiri tegak menghadapmu aku tidak sanggup. Apa yang aku lakukan setelahnya? Oh iya, aku menyapa sahabatmu dengan sikap yang berbeda saat aku menyapamu, dan bercakap-cakap dengannya. Memanjangkan obrolan dengannya!
Lihatlah.. Aku begitu bodoh bukan? Aku masih begitu rikuhnya saat bertemu denganmu.
Aku begitu membenci perasaan ini. Perasaan dimana aku tahu tidak ada lagi yang tersisa, namun masih ada yang terasa mengganjal. Perasaan menggebu-gebu untuk menjelaskan banyak hal padamu, yang tidak perlu aku lakukan, dan kamu tidak perlu tahu.
Padahal aku baik-baik saja. Kamu harus tahu, aku baik-baik saja dan akan baik-baik saja.
Lalu aku sadar, ini semua bukan tentang sisa rasa sakit dari perasaan yang pernah ada.
Perasaan itu sudah hilang.
Dan yang ada hanya rasa malu.
Iya, aku malu, pada diriku sendiri, pada Tuhan, pada dirimu, pada masa lalu itu.
Iya, aku tahu, aku masih harus memaafkan diriku sendiri untuk masa lalu yang satu itu.
Residu perasaan itu, hanyalah rasa malu..
Jadi, aku masih memiliki satu PR yang harus aku tuntaskan tentang kamu: masa lalu dan rasa malu itu. Aku tahu dalam beberapa hari ini kita akan bertemu. Mungkin juga di bulan-bulan setelahnya. Dan aku akan tunjukkan padamu, aku bisa melawan itu semua.