rentang: satu januari, dan hari-hari setelahnya.
tiga puluh satu desember nanti, tepat pukul dua belas malam lewat satu menit, penduduk bumi serentak menyambut beranda baru yang sama. hampir seluruh wilayah berlomba-lomba menyuguhkan bunga api yang riuh menyapa langit diikuti suara terompet nyaring dengan teriakan antusias sebagai tanda resmi meninggalkan tahun sebelumnya. lini masa media sosial akan dipenuhi pula dengan frasa satu per tiga ratus enam puluh lima hari di mana fenomena ini biasa terjadi namun cepat dilupakan begitu hari menginjak satu atau dua minggu setelahnya.
pada hari itu bumi seakan-akan tidak tidur, kegiatannya jauh lebih padat dari kemarin. lampu kota dibiarkan menyala, jalanan terus dilintasi beragam kendaraan, lagu-lagu tiada habis, dan manusia-manusia yang mendadak kehilangan kantuknya untuk sementara. sebagian membaur dengan keramaian, sebagian lagi memilih untuk rehat di rumah. dua urusan berbeda yang berjalan berdampingan, namun pada dasarnya tersemat doa di diri masing-masing. yang satu diujar dengan lantang, satu lagi dilantun dengan sayup.
sudah lama juru kabar mewartakan berita penting yang tidak boleh dilupakan. hal itu pula yang menjadi alasan perempuan itu rajin mencoret angka di kalender dengan tinta merah, terhitung sejak dua bulan sebelum pesta besar pergantian tahun dirayakan. waktu yang bergerak maju, dan tenggat yang semakin dekat. detik-detik yang tidak boleh lewat sebab begitu langka didapat dan belum tentu ada pula jaminan gantinya. terkadang di malam yang tidak bisa diprediksi, pikirannya meranyah seperti anak kecil. ingar bingar suara runding dialog antara ia dengan ia yang lain.
sebuah interlokusi berantakan nan ramai dimulai. tiap-tiap memori bergantian muncul sembari percakapan gaduh itu terdengar. sesekali ia tertawa, sesekali pula menitikkan air dari mata. semua yang dibayangkannya tergambar jelas dengan rinci dan masih melekat hingga saat ini. hanya tinggal menghitung hari tahun sekarang akan habis karena setelah satu januari nanti, apa yang diingatnya sah menjadi sesuatu yang sangat sangat mahal.
buru-buru ia membuka buku harian, meraih pena secepat yang ia bisa, dan lagi-lagi menulis ulang mimpinya pada halaman yang baru.
satu, aku ingin tetap hidup.
dua, aku masih ingin merasakan aroma tanah setelah hujan.
tiga, aku masih ingin makan Indomie Kari Ayam.
empat, aku masih ingin bermain dengan kucing.
lima, aku masih ingin membaca buku-buku kesukaan.
enam, aku masih ingin mendengar lagu-lagu terbaik.
tujuh, aku masih ingin menikmati langit bersahabat dengan awan.
delapan, aku masih ingin disapa oleh gedung pencakar langit setelah pulang.
sembilan, aku masih ingin bertemu dengan orang-orang tersayang.
dan sepuluh, aku ingin hidup dengan kamu selama yang aku bisa.
satu januari dan hari-hari setelahnya, pulang akan menjadi perihal yang paling dinantikan, sedangkan pergi menjadi hal yang sukar untuk dilakukan. masih dengan pena yang digenggamnya, perempuan itu menelan ludah, sejak kapan manusia bisa menulis takdirnya sendiri?
“mungkin mereka masih punya banyak waktu sama kamu, tapi hal itu belum tentu terjadi sama aku.”
barangkali ia tak peduli, dengan segala kerendahan hati dan taruh harapan yang tinggi, perempuan itu memohon pelan pada Tuhan. merayu dengan segala cara agar apa yang ditulisnya menjadi hadiahnya tahun depan, bertukar dengan takdir sedih yang mungkin ditetapkan sebelumnya—semoga jika Tuhan mau—karena setelah satu januari nanti, ada yang akan bertolak sementara, dan ia belum sanggup untuk mengiya meskipun sebentar.
pandangan mata perempuan itu teralihkan begitu melihat kalender, satu-satunya barang di meja yang sebenarnya enggan ia lihat karena semakin dihitung, perpisahan itu semakin dekat rasanya. selepas dialog-dialog di kepalanya berhenti, ia kembali pada tempat tidur tanpa sempat menutup buku harian. malam ini juga ia berlatih untuk terlelap tanpa mendekap apapun. tangannya kosong tiada genggaman, memaksa tidur, memaksa pikirannya melupakan segala pertanyaan-pertanyaan tanpa jawaban.
matahari akan tetap terbit esok, awan tetap membersamai langit, hujan yang bergantian dengan panas menyapa ibukota, dan segalanya yang terus berjalan sebagai mana mestinya. perempuan itu menarik napas panjang, ia tak boleh terjebak dengan masa lalu.
setelah satu januari dan hari-hari berikutnya, ada harga yang harus dibayar mahal hanya untuk satu pertemuan; pulang.

















