Untukmu, wanita yang masih dalam tanggungjawab orangtua pendidikannya, pengasuhannya, kasih dan sayangnya.
Untuk diriku sendiri, yang termasuk di dalam kalimat di atas.
Kita pun menyadari, bertambahnya bilangan usia menandakan bertambahnya pula kesibukan kita di luar sana. Coba saja kita ingat, dan bila boleh sedikit kita bandingkan. Kehidupan kita di jaman SD-SMP-SMA bukankah berbeda sekali dengan kehidupan mahasiswa kita?
Kita yang mulai tinggal berjarak dengan Ayah Ibu dan adik kakak. Kita yang mulai diberikan kebebasan penuh dalam 24 jam waktu kita. Bahkan, kita yang mulai aktif berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat.
Kesibukan berganti kesibukan. Hari demi hari pun berlalu. Berganti tahun, seolah kita lupa. Yang tertinggal di sana, pun bertambah tua usianya. Yang kita tinggalkan di sana, pun bertambah lemah tubuhnya. Yang kita tinggalkan di sana, menyimpan kerinduan yang tertahan, sengaja tak berkata, agar tak memberatkan anak gadisnya.
Lalu, ketika libur itu tiba... Dua hari satu malam yang bisa kita kosongkan jadwalmu penuh ketika kita menyisipkan waktu untuk kembali ke rumah, rupanya kita pun masih asyik sibuk dengan dunia kita. Dengan gatget kita. Dengan tugas yang kita bawa-bawa pulang. Bahkan, dengan janji-janji berjumpa kawan lama yang kita buat jauh jauh hari.
Bukankah, Ayah dan Ibu kita lebih berhak atas waktu waktu kita?
Menikmati jalanan, mengantarkan pada kemanapun keduanya hendak pergi...
Menyeduh secangkir teh hangat atau meracik kopi panas kesukaan mereka...
Bahkan sekedar duduk bercengkrama menyimak cerita-cerita mereka...
Bukankah, keberhasilan kita bermotifkan untuk kebahagiaan Ayah Ibu kita pula?